: Mengawal 50 Tahun Tradisi Bakti Sosial Penyantunan Anak Yatim di Brotonegaran - Ponorogo
"Tahukah engkau yang mendustakan agama? Yaitu orang yang menelantarkan anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat, yakni orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong." (Q.S. Al-Ma'un 1-7)
[KILAS SEJARAH]
Kegiatan ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 1966 (Muharram 1386 H), menyusul tragedi kebangsaan yang
meluluh-lantakkan rasa kemanusiaan sehingga dalam waktu seketika banyak
anak-anak yang kehilangan orangtuanya (terutama ayah). Peristiwa kelam tersebut
mengusik keprihatinan beberapa tokoh lokal (yang juga motor penggerak
organisasi Fatayat dan Muslimat Nahdlatul Ulama Ranting Brotonegaran) yang
kemudian berinisiatif mengadakan kegiatan bakti sosial penyantunan untuk
anak-anak korban tragedi 1965. Penggagas dan penyelenggara pertama kegiatan ini
adalah:
- Ibu Hj. Fatimah (Istri Lurah Brotonegaran)
- Ibu Modin As’ad (Istri Mbah Modin Brotonegaran)
- Ibu Hj. Siti Asiyah (Istri Bapak Moh. Dimyati)
- Ibu Siti Chomsah (Istri Bapak Amir)
- Ibu Parmiyati (Istri Bapak Moh. Sulaiman)
- Ibu Hj. Thohir (Istri Mbah H. Thohir)
- Ibu Hj. Siti Fathonah (Istri Bapak Abd. Manan)
- Ibu Hj. Siti Chotijah (Istri Bapak H. Purnomo)
Pada kesempatan pertama yang diselenggarakan di rumah Mbah Lurah
Martoredjo (Lurah Brotonegaran pada masa itu), sejumlah 13 anak yatim
mendapatkan santunan ala-kadarnya dan tersedia pula hidangan spesifik “bubur suran”,
punten, serta aneka jenis panganan tradisional lainnya. Jamaah ibu-ibu yang
hadir ada sekitar 50 orang dengan rangkaian acara mulai dari Shalat Isya’
berjamaah, lalu dilanjutkan dengan Shalat Tasbih, Shalat Hajat dan Pengajian
untuk kemudian diakhiri dengan kegiatan mengusap kepala anak yatim yang disusul
dengan pembagian santunan yang telah disiapkan sebelumnya. Kegiatan Bakti
Sosial ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan “Yatiman” yang dinisbatkan
kepada subyek penyebab terlenggaranya kegiatan ini, digelar rutin pada malam Hari Asyura (tanggal 9 malam 10
bulan Muharram dalam penanggalan Islam/Jawa) setiap tahunnya.
Hingga tahun 2016 ini terhitung sudah 50 kali kegiatan Yatiman
dilaksanakan tanpa pernah jeda sekali pun. Bahkan sejak tahun 1990-an mulai
menginspirasi tempat-tempat lain di Ponorogo untuk menyelenggarakan kegiatan
serupa dan juga beberapa kabupaten lain, seperti Magetan dan Jombang.
Barangkali memang kegiatan ini dimulai bukan dari gagasan besar, namun karena
keuletan serta dedikasi penyelenggaranya sehingga tahun demi tahun mampu
menunjukkan eksistensi dan kemanfaatannya bagi masyarakat sekitar.
[SIMBOL
KASIH-SAYANG]
Menelisik sejarah singkat di atas, terang bahwa gagasan acara
Yatiman ini diliputi oleh rasa empati dan kasih-sayang sesama manusia kepada
manusia-manusia kecil yang terpaksa kehilangan sosok ayah sebagai pimpinan
keluarga. Momentum awal yang diambil sungguh tepat karena terselenggara ketika
bangsa ini tengah dirundung duka mendalam, yang sampai kapan pun akan menjadi
sejarah kelam kehidupan berbangsa. Untuk tidak larut dalam rasa duka dan
kehilangan tersebut ataupun terbatasnya kondisi ekonomi keluarga yang
ditinggalkan, maka para figur pemrakarsa kegiatan ini mengambil langkah cerdas
lagi bijak dalam merangkai rasa kemanusiaan tersebut menjadi sebuah kegiatan
penuh makna dan harapan.
Ramuan kegiatan kemanusiaan yang berbalut ritual keagamaan seakan
bersenyawa menyentuh sisi ruhani dua pihak sekaligus. Bagi anak yatim kegiatan
ini betul-betul menjadi “belaian” atau “usapan” kasih sayang yang sehari-hari
mereka rindukan. Apalagi di dalam kegiatan Yatiman, hal itu secara fisik termanifestasikan
ke dalam bentuk ritual “mengusap kepala anak yatim” yang bagi orang pelakunya dapat
melembutkan hati atau menundukkan ego-pribadi, sebagaimana telah disabdakan
oleh Rasulullah serta dijelaskan dan dilakukan pula oleh para ulama salaf,
sebagai penjaga mata-rantai ajaran Islam hingga sampai ke zaman kini. Di lain
pihak praktik ini sekaligus menjadi simbol sunnah yang diajarkan Rasulullah
untuk memberi makan atau santunan kepada anak yatim, yakni anak yang telah
kehilangan ayah dan belum mencapai usia akil-baligh.
[MEMASUKI
SETENGAH ABAD]
Bukan hal sepele ketika sesuatu yang sederhana mampu bertahan hingga
memasuki usia yang ke-50 tahun. Pada tahun 2016 ini, kegiatan Yatiman telah
memasuki usia setengah abad. Di antara para pemrakarsanya hanya tinggal satu
orang yang masih hidup, yakni Mbah Hj. Siti Asiyah binti Abdullah Umar. Beliau
bersama suami (Mbah H. Moh. Dimyati) tentu merasakan kebahagiaan yang tak
terhingga, apabila pada pelaksanaan tahun ini (dan semoga juga di tahun-tahun
berikutnya) masih diperkenankan menyaksikan kiprah para putra-putri, keponakan,
cucu dan cicit beliau sendiri ataupun dari para sahabat beliau yang telah
mendahului.
Adapun pelaksanaan pada tahun 2016 ini jatuh pada hari Senin Pon malam Selasa Wage, tanggal 10 Oktober 2016 M atau bertepatan
dengan tanggal 9 malam 10 Muharram 1438
H. Sebanyak kurang lebih 2.000 jama’ah berduyun-duyun hadir di lokasi acara
yang dipusatkan di Halaman Langgar Maskanussalam (Jl. Kokrosono 57-59
Brotonegaran). Namun sebagaimana telah berjalan di tahun-tahun sebelumnya,
barisan-barisan jama’ah dari tahun ke tahun terus meluber ke jalan termasuk ke
halaman-halaman rumah yang bisa dimanfaatkan, hingga ratusan meter ke Timur
dari pusat acara. Rumah transit anak yatim pun sejak beberapa tahun lalu
terpaksa ikut bergeser sekitar 150-200 meter dari lokasi yang menjadi panggung
utama. Berikut informasi terkait acara dan statistik bantuan/santunan yang
dikelola panitia pada penyelenggaraan Yatiman tahun 2016 ini:
§ Ketua Panitia :
Ailyn Farihah Hasan
§ Sekretaris/Pembawa Acara :
Yustin Musfiroh
§ Mauidlotil Hasanah :
Syahrul Munir
§ Jumlah Anak Yatim :
275 Anak
§ Dana Operasional :
Rp. 7.000.000,-
§ Dana Santunan Anak Yatim :
Rp. 157.301.000,-
§ Dana Santunan (yang diterima setiap anak) : Rp. 550.000,-/anak
§ Sisa Dana Santunan (diakumulasi untuk dibagikan tahun depan) : Rp. 6.051.000,-
Perlu dipahami bahwa dana santunan bagi anak yatim dikumpulkan sejak
jauh hari sebelum acara berlangsung. Sehingga terdapat panitia inti yang terus
bekerja sepanjang tahun, terutama yang berkenaan dengan pembaruan database anak
yatim dan penerimaan dana-dana bantuan. Dana dan bantuan pun sejak awal terbagi
dua, yakni dana-bantuan operasional (termasuk terop/kajang, sound-system,
konsumsi, dll) untuk teknis pelaksanaan acara dan dana-santunan sedekah
(sembako, pakaian, dll) untuk anak yatim. Selain itu selalu terdapat dana
santunan sisa (karena tidak habis terbagi ke sejumlah anak yatim) yang akan
di-akumulasikan ke penyelenggaraan di tahun berikutnya. Artinya dana santunan
yang menjadi hak anak yatim akan selalu terjaga, tidak diperuntukkan untuk alokasi
lain. Termasuk ketika dermawan menyerahkan bantuan, akan selalu dipertegas
akad-nya untuk kedua jalur pemanfaatan tadi agar niat amal-ibadahnya
termuliakan sejak awal. InsyaAllah segenap panitia terus berusaha untuk selalu
menjaga amanah tersebut agar rahmat dan barakah dari-Nya senantiasa tercurah
dalam penyelenggaraan acara ini.
Tentu ada harapan dan juga doa, meskipun anak-anak ini tergolong
kurang beruntung karena kehilangan ayah ketika masih kecil, suatu saat kelak
mereka sanggup menopang masa depannya dengan badan tegak, berjuang untuk diri
dan keluarganya dalam segala keterbatasan. Adapun kesedihan itu manusiawi,
merasa sendirian itu hanyalah fragmen kehidupan yang tak perlu disesali, sebab
Allah dan para dermawan dan jamaah yang hadir dalam kegiatan Yatiman ini telah
menunjukkan rasa kasih dan sayangnya kepada mereka. Rasa persaudaraan dan
kekeluargaan yang terjalin tentu tak hanya berhenti dalam seremoni yang hanya
setahun sekali ini. Sungguh, panitia dan pengurus Fatayat-Muslimat Brotonegaran
dengan tangan terbuka berharap agar data 275 anak yatim (beserta keluarganya)
yang terkumpul di tahun ini dapat diakses dan senantiasa ditindak-lanjuti oleh
para dermawan dan muslimin-muslimat yang berkenan “mengusap kepala” anak-anak
yatim ini di hari-hari yang lain.
Sebagai penutup kata, semoga kita semua digolongkan kepada umat yang
selalu diberi kesempatan mengikuti jejak-sunnah rasulullah, lewat para sahabat,
para pengikut, para ulama dan para guru kita, kepada mereka semua kita
sampaikan shalawat dan salam sebagai ungkapan cinta. Segala bentuk sumbangsih
dan peran-serta, baik itu dari segenap panitia penyelenggara, pengurus
Fatayat-Muslimat NU Ranting Brotonegaran, dan tak lupa para jamaah dan warga
masyarakat yang secara ikhlas ikut mendukung terselenggaranya acara ini, semoga
tercatat sebagai jariyah yang tak pernah putus. Lebih-lebih kepada para
pendahulu yang merintis, memrakarsai dan memulai sebuah tradisi yang penuh
barokah ini, semoga segala kebaikan yang kita lakukan dalam melestarikan acara
ini akan terus menjadi pahala yang kelak pasti mereka terima.
...Al-faatihah...


0 komentar:
Posting Komentar