Sabtu, 23 Februari 2019

SETENGAH ABAD YATIMAN

: Mengawal 50 Tahun Tradisi Bakti Sosial Penyantunan Anak Yatim di Brotonegaran - Ponorogo

"Tahukah engkau yang mendustakan agama? Yaitu orang yang menelantarkan anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat, yakni orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong." (Q.S. Al-Ma'un 1-7)




[KILAS SEJARAH]
Kegiatan ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 1966 (Muharram 1386 H), menyusul tragedi kebangsaan yang meluluh-lantakkan rasa kemanusiaan sehingga dalam waktu seketika banyak anak-anak yang kehilangan orangtuanya (terutama ayah). Peristiwa kelam tersebut mengusik keprihatinan beberapa tokoh lokal (yang juga motor penggerak organisasi Fatayat dan Muslimat Nahdlatul Ulama Ranting Brotonegaran) yang kemudian berinisiatif mengadakan kegiatan bakti sosial penyantunan untuk anak-anak korban tragedi 1965. Penggagas dan penyelenggara pertama kegiatan ini adalah:
  1.  Ibu Hj. Fatimah (Istri Lurah Brotonegaran)
  2. Ibu Modin As’ad (Istri Mbah Modin Brotonegaran)
  3. Ibu Hj. Siti Asiyah (Istri Bapak Moh. Dimyati)
  4. Ibu Siti Chomsah (Istri Bapak Amir)
  5. Ibu Parmiyati (Istri Bapak Moh. Sulaiman)
  6. Ibu Hj. Thohir (Istri Mbah H. Thohir)
  7. Ibu Hj. Siti Fathonah (Istri Bapak Abd. Manan)
  8. Ibu Hj. Siti Chotijah (Istri Bapak H. Purnomo)

Pada kesempatan pertama yang diselenggarakan di rumah Mbah Lurah Martoredjo (Lurah Brotonegaran pada masa itu), sejumlah 13 anak yatim mendapatkan santunan ala-kadarnya dan tersedia pula hidangan spesifik “bubur suran”, punten, serta aneka jenis panganan tradisional lainnya. Jamaah ibu-ibu yang hadir ada sekitar 50 orang dengan rangkaian acara mulai dari Shalat Isya’ berjamaah, lalu dilanjutkan dengan Shalat Tasbih, Shalat Hajat dan Pengajian untuk kemudian diakhiri dengan kegiatan mengusap kepala anak yatim yang disusul dengan pembagian santunan yang telah disiapkan sebelumnya. Kegiatan Bakti Sosial ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan “Yatiman” yang dinisbatkan kepada subyek penyebab terlenggaranya kegiatan ini, digelar rutin pada malam Hari Asyura (tanggal 9 malam 10 bulan Muharram dalam penanggalan Islam/Jawa) setiap tahunnya.
Hingga tahun 2016 ini terhitung sudah 50 kali kegiatan Yatiman dilaksanakan tanpa pernah jeda sekali pun. Bahkan sejak tahun 1990-an mulai menginspirasi tempat-tempat lain di Ponorogo untuk menyelenggarakan kegiatan serupa dan juga beberapa kabupaten lain, seperti Magetan dan Jombang. Barangkali memang kegiatan ini dimulai bukan dari gagasan besar, namun karena keuletan serta dedikasi penyelenggaranya sehingga tahun demi tahun mampu menunjukkan eksistensi dan kemanfaatannya bagi masyarakat sekitar.

[SIMBOL KASIH-SAYANG]
Menelisik sejarah singkat di atas, terang bahwa gagasan acara Yatiman ini diliputi oleh rasa empati dan kasih-sayang sesama manusia kepada manusia-manusia kecil yang terpaksa kehilangan sosok ayah sebagai pimpinan keluarga. Momentum awal yang diambil sungguh tepat karena terselenggara ketika bangsa ini tengah dirundung duka mendalam, yang sampai kapan pun akan menjadi sejarah kelam kehidupan berbangsa. Untuk tidak larut dalam rasa duka dan kehilangan tersebut ataupun terbatasnya kondisi ekonomi keluarga yang ditinggalkan, maka para figur pemrakarsa kegiatan ini mengambil langkah cerdas lagi bijak dalam merangkai rasa kemanusiaan tersebut menjadi sebuah kegiatan penuh makna dan harapan.
Ramuan kegiatan kemanusiaan yang berbalut ritual keagamaan seakan bersenyawa menyentuh sisi ruhani dua pihak sekaligus. Bagi anak yatim kegiatan ini betul-betul menjadi “belaian” atau “usapan” kasih sayang yang sehari-hari mereka rindukan. Apalagi di dalam kegiatan Yatiman, hal itu secara fisik termanifestasikan ke dalam bentuk ritual “mengusap kepala anak yatim” yang bagi orang pelakunya dapat melembutkan hati atau menundukkan ego-pribadi, sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah serta dijelaskan dan dilakukan pula oleh para ulama salaf, sebagai penjaga mata-rantai ajaran Islam hingga sampai ke zaman kini. Di lain pihak praktik ini sekaligus menjadi simbol sunnah yang diajarkan Rasulullah untuk memberi makan atau santunan kepada anak yatim, yakni anak yang telah kehilangan ayah dan belum mencapai usia akil-baligh.

[MEMASUKI SETENGAH ABAD]
Bukan hal sepele ketika sesuatu yang sederhana mampu bertahan hingga memasuki usia yang ke-50 tahun. Pada tahun 2016 ini, kegiatan Yatiman telah memasuki usia setengah abad. Di antara para pemrakarsanya hanya tinggal satu orang yang masih hidup, yakni Mbah Hj. Siti Asiyah binti Abdullah Umar. Beliau bersama suami (Mbah H. Moh. Dimyati) tentu merasakan kebahagiaan yang tak terhingga, apabila pada pelaksanaan tahun ini (dan semoga juga di tahun-tahun berikutnya) masih diperkenankan menyaksikan kiprah para putra-putri, keponakan, cucu dan cicit beliau sendiri ataupun dari para sahabat beliau yang telah mendahului.
Adapun pelaksanaan pada tahun 2016 ini jatuh pada hari Senin Pon malam Selasa Wage, tanggal 10 Oktober 2016 M atau bertepatan dengan tanggal 9 malam 10 Muharram 1438 H. Sebanyak kurang lebih 2.000 jama’ah berduyun-duyun hadir di lokasi acara yang dipusatkan di Halaman Langgar Maskanussalam (Jl. Kokrosono 57-59 Brotonegaran). Namun sebagaimana telah berjalan di tahun-tahun sebelumnya, barisan-barisan jama’ah dari tahun ke tahun terus meluber ke jalan termasuk ke halaman-halaman rumah yang bisa dimanfaatkan, hingga ratusan meter ke Timur dari pusat acara. Rumah transit anak yatim pun sejak beberapa tahun lalu terpaksa ikut bergeser sekitar 150-200 meter dari lokasi yang menjadi panggung utama. Berikut informasi terkait acara dan statistik bantuan/santunan yang dikelola panitia pada penyelenggaraan Yatiman tahun 2016 ini:
§  Ketua Panitia                                                                                     : Ailyn Farihah Hasan
§  Sekretaris/Pembawa Acara                                                               : Yustin Musfiroh
§  Mauidlotil Hasanah                                                                            : Syahrul Munir
§  Jumlah Anak Yatim                                                                            : 275 Anak
§  Dana Operasional                                                                             : Rp. 7.000.000,-
§  Dana Santunan Anak Yatim                                                              : Rp. 157.301.000,-
§  Dana Santunan (yang diterima setiap anak)                                     : Rp. 550.000,-/anak
§  Sisa Dana Santunan (diakumulasi untuk dibagikan tahun depan)    : Rp. 6.051.000,-

Perlu dipahami bahwa dana santunan bagi anak yatim dikumpulkan sejak jauh hari sebelum acara berlangsung. Sehingga terdapat panitia inti yang terus bekerja sepanjang tahun, terutama yang berkenaan dengan pembaruan database anak yatim dan penerimaan dana-dana bantuan. Dana dan bantuan pun sejak awal terbagi dua, yakni dana-bantuan operasional (termasuk terop/kajang, sound-system, konsumsi, dll) untuk teknis pelaksanaan acara dan dana-santunan sedekah (sembako, pakaian, dll) untuk anak yatim. Selain itu selalu terdapat dana santunan sisa (karena tidak habis terbagi ke sejumlah anak yatim) yang akan di-akumulasikan ke penyelenggaraan di tahun berikutnya. Artinya dana santunan yang menjadi hak anak yatim akan selalu terjaga, tidak diperuntukkan untuk alokasi lain. Termasuk ketika dermawan menyerahkan bantuan, akan selalu dipertegas akad-nya untuk kedua jalur pemanfaatan tadi agar niat amal-ibadahnya termuliakan sejak awal. InsyaAllah segenap panitia terus berusaha untuk selalu menjaga amanah tersebut agar rahmat dan barakah dari-Nya senantiasa tercurah dalam penyelenggaraan acara ini.
Tentu ada harapan dan juga doa, meskipun anak-anak ini tergolong kurang beruntung karena kehilangan ayah ketika masih kecil, suatu saat kelak mereka sanggup menopang masa depannya dengan badan tegak, berjuang untuk diri dan keluarganya dalam segala keterbatasan. Adapun kesedihan itu manusiawi, merasa sendirian itu hanyalah fragmen kehidupan yang tak perlu disesali, sebab Allah dan para dermawan dan jamaah yang hadir dalam kegiatan Yatiman ini telah menunjukkan rasa kasih dan sayangnya kepada mereka. Rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang terjalin tentu tak hanya berhenti dalam seremoni yang hanya setahun sekali ini. Sungguh, panitia dan pengurus Fatayat-Muslimat Brotonegaran dengan tangan terbuka berharap agar data 275 anak yatim (beserta keluarganya) yang terkumpul di tahun ini dapat diakses dan senantiasa ditindak-lanjuti oleh para dermawan dan muslimin-muslimat yang berkenan “mengusap kepala” anak-anak yatim ini di hari-hari yang lain.
Sebagai penutup kata, semoga kita semua digolongkan kepada umat yang selalu diberi kesempatan mengikuti jejak-sunnah rasulullah, lewat para sahabat, para pengikut, para ulama dan para guru kita, kepada mereka semua kita sampaikan shalawat dan salam sebagai ungkapan cinta. Segala bentuk sumbangsih dan peran-serta, baik itu dari segenap panitia penyelenggara, pengurus Fatayat-Muslimat NU Ranting Brotonegaran, dan tak lupa para jamaah dan warga masyarakat yang secara ikhlas ikut mendukung terselenggaranya acara ini, semoga tercatat sebagai jariyah yang tak pernah putus. Lebih-lebih kepada para pendahulu yang merintis, memrakarsai dan memulai sebuah tradisi yang penuh barokah ini, semoga segala kebaikan yang kita lakukan dalam melestarikan acara ini akan terus menjadi pahala yang kelak pasti mereka terima.

...Al-faatihah...


Karanganyar, 16 Oktober 2016

0 komentar: