Rabu, 20 Februari 2019

BERBAGI REFLEKSI YANG MENGGERAKKAN

: Jejak Gagasan tentang Garasi Gagasan

Menjadi sebuah kabar gembira manakala masih ada segelintir anak-anak muda yang notabene para sarjana berkumpul, berdiskusi, berbagi hal-hal baik, saling menyemangati dan menebar harapan dari pengalaman-pengalaman kecil yang menginspirasi. Lebih-lebih apa yang tengah dikupas adalah hal-hal maknawi nan mendasar yang melampaui kapasitas profesi ataupun basis keilmuan formal yang pernah ditempuh para pegiatnya. Semangat itulah sejauh ini yang dapat tertangkap dari kali pertama hingga ketiga pelaksanaan Garasi gagasan yang sudah pernah terselenggara.

Berangkat dari dialog satu-dua orang yang memendam kegelisahan tanpa muara, kemudian iramanya menggedor sekat-sekat tak tersadari akibat keniscayaan rutinitas dan tensi aktifitas anak-anak muda masa kini, terbitlah sebuah wacana ruang kohesi gagasan aplikatif ini. Sebuah ruang yang bukan berangkat dari kemegahan, tapi dari ketidakberdayaan yang direspon secara kritis dalam jangkauan yang logis pula. Menghadirkan apa yang bisa dilakukan sekarang, di mana saja dan oleh siapa pun, yang justru itu menjadi batasan sangat egaliter dalam kecamuk perdebatan kosong yang banyak mengemuka di ranah publik belakangan ini.

Apabila semakin banyak pihak menyadari bahwa jalan keluar sesungguhnya bukan bergantung pada kehebatan, melainkan terletak pada kemauan untuk menajamkan mawas dalam diri dan memulai sesegera mungkin hal baik yang diyakini bersama orang-orang terdekat. Dengan begitu siapa saja akan sibuk dengan denyut-denyut kecil yang menyumbang frekuensi kebaikan dan manfaat yang berdampak langsung lagi meluas. Merawat lalu menguatkan denyut-denyut kecil itulah saat sekarang menjadi perhatian dan medan dialog untuk kerja-kerja perubahan yang riil namun senyap dari perayaan ini. Setiap kehadiran, setiap perjumpaan, dan setiap dialog harapannya akan selalu melahirkan jiwa-jiwa yang terbarui, kian tahu dan mengerti hendak ke mana mengarahkan pandangan, sadar dan yakin bagaimana menghadirkan sentuhan, serta tulus dan sepenuh hati melakukan perjalanan. Hati terbuka dan rasa percaya bahwa kebaikan sudah tersedia dan tinggal menjalankannya, menjadi bekal berharga mengawali langkah-langkah yang masih muda ini.

KILAS BALIK


#1: Kencan Perdana yang Melandasi

Kesempatan pertama yang mulanya berbalut keraguan dan kegamangan dari para inisiator, akhirnya terlaksana pada malam tgl 30 September 2017, di sebuah garasi rumah yang luas dan nyaman, terhubung langsung dengan halaman terbuka di dalam. Dua orang penyaji sesi rintisan ini (Lintang dan Yudas) sungguh memantik keberanian untuk tak henti-henti menggelorakan cara pandang yang lebih mendasar dalam kreatifitas dan keseharian, setidaknya untuk diri saya sendiri. Kita seperti diingatkan bahwa kemampuan dan kosakata awam masyarakat kita sesungguhnya telah mencukupi dalam segala seginya, asal pintu masuk pembacaan dan nalar kajiannya tidak serta-merta tunduk dalam arus besar masyarakat dunia yang hegemonik. Lintang menyajikan sederet refleksi atas upaya-upaya solutif yang mengawinkan disiplin arsitektur dengan problem sosial perkotaan terkini, lewat rekam kegiatannya bersama kawan-kawan arsitek komunitas dan dinamika personal dia sendiri. Sementara Yudas begitu renyah menyajikan refleksi beningnya selama menyertai proses ber-arsitektur seorang arsitek patron (Eko Prawoto) yang tekun mengusung semangat lokalitas, kelestarian lingkungan dan penyelamatan tradisi teknik bangunan dan pertukangan nusantara. Kedua arsitek muda ini seakan ingin menunjukkan betapa masih luasnya ruang-ruang yang sebetulnya belum terisi untuk berbuat sesuatu di dalam ataupun bersama masyarakat. Mereka berdua telah memilih dan ternyata itu pun mampu mengawali kesan yang membangun harapan dan kepercayaan diri dalam diskusi dan dialog kritis yang menyertainya. Tanpa sadar, helatan perdana ini sudah lebih dari memadai untuk menjadi tolok ukur konsep dan kemasan pertemuan berikutnya. Garasi, lesehan, forum melingkar, berbagi refleksi, serta suguhan cemilan dan minuman penghangat suasana, membangun landasan harapan forum-forum berikutnya.

#2: Kehangatan yang Terlampaui

Menyusul perhelatan perdana, Garasi Gagasan periode berikutnya terselenggara di Karanganyar, 19 November 2017, sedikit menepi dari hiruk pikuk Kota Solo yang menjadi tonggak ramuan nuansa dan padu-karsa perdana para pegiatnya. Meski bukan lagi digelar di garasi dan mengambil waktu pagi jelang siang pula, namun pertemuan kedua ini justru diwarnai suasana kekeluargaan dan kebersamaan yang lebih kental. Dua penyaji, yakni Alfian (saya sendiri) dan Bangkit pada dasarnya sekedar menyajikan hal-hal umum yang membuka lebih lebar lagi medan-medan berkarya di luar kungkungan disiplin keilmuan atau profesi sebagaimana dimaksud di awal tulisan. Alfian menyajikan ironi dan kenyataan keluaran perguruan tinggi yang justru masih kebingungan mengambil peran di masyarakat lewat refleksi pribadinya di dunia pendidikan anak dan masyarakat. Sementara Bangkit menggali peluang lebih jauh bagaimana seorang sarjana arsitektur mengidentifikasikan diri bersama kultur masyarakat agraris sebagai hulu kearifan masyarakat nusantara yang tak terbatas pada aspek teknik dan estetis belaka. Dua sajian yang dihimpun dalam satu tema “Desa” ini nampaknya menjadi penyeimbang konteks dari sesi sebelumnya. Menguak kelindan persoalan perkotaan dan perdesaan nyatanya tidak bisa didekati secara terpisah karena keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. Sedangkan refleksi bersama yang dapat diambil dari helatan kedua ini bahwasanya bukan saatnya lagi menunda berbuat sesuatu mulai dari lingkaran sosial terdekat tanpa adanya tuntutan konsep atau rancangan besar yang mendahuluinya. Hal menarik lain yang nampak adalah sesi diskusi yang justru berkembang ke tema-tema pendidikan keluarga dan pengorganisasian komunitas yang seolah gayut dengan semangat kebersamaan yang sedang dibangun. Anak kecil, berbagi makanan, kopi dingin, demo racik kopi, cinderamata benih dan obrolan hangat hingga sore, melampaui sekat forum diskusi pada umumnya.

#3: Merawat Nyala yang Telah Tersulut

Agaknya memang masih belum jera mendekati tema lokalitas dari berbagai sudut pandang, sehingga pada kesempatan ketiga Garasi Gagasan, tema ini kembali mengemuka. Mengambil lokasi sebuah bengkel kerja (workshop) produksi mebel di Kadipiro-Banjarsari pada 11 Februari 2018, diskusi siang itu bersanding dengan aroma kayu dan irama kota solo di Hari Minggu. Dua penyaji sama-sama merefleksikan proses kreatif dari perspektif masing-masing. Yuditeha, seorang tukang cukur yang penulis (atau sebaliknya) mendedah bagaimana cara kerja dia dalam penulisan fiksi yang sebetulnya melulu bicara refleksi atas segala peristiwa atau perjumpaan dengan siapa saja. Sedangkan Dian ABS, seorang peng-onthel yang arsitek (pun juga bisa sebaliknya) menayangkan secara detail bagaimana konteks spasial dan waktu yang pernah dialaminya—yang bahkan semenjak kecil—mewarnai bangun nalar dan rasa yang digunakannya ketika berkarya hingga sekarang. Dua penyaji ini kian membuka cakrawala lokalitas secara lebih dekat lagi personal, bercermin dari ramuan pengalaman paling intim yang menjadi atmosfir masing-masing. Bidikan-bidikan detail dan kematangan interpretasi yang melintasi batasan definisi berkarya menjadi refleksi bersama yang mengesankan. Sehingga diskusi yang menyertainya secara alami mengungkap bagaimana kecenderungan eksistensi dan realita pada umumnya menjadi tantangan tersendiri saat ini. Perlu kepekaan dan ketelatenan yang cukup untuk menghimpun keseluruhan terma dan konteks yang ada dalam proses kreatif sebuah karya. Dan nampaknya forum kali ini mengajak semuanya untuk beranjak menyelami hulu kreatifitas sekaligus membentangkan cakrawala batin menjadi setajam mungkin, agar setiap peristiwa yang terjadi—entah itu berlatar sosial, budaya, politik, sejarah, dan sebagainya—di sekeliling kita menjadi sandaran berkarya selayaknya gelegak mata air dalam perigi yang terus kita rekam dan maknai dinamikanya. Racikan kopi rempah, beras kencur, bakpia, thiwul dan aneka jajanan pasar, menandai kesekian kalinya lokalitas meng-atmosfir dalam ruang dialog Garasi Gagasan kali ini.

Patut saya sampaikan apresiasi yang tinggi untuk beberapa nama: Sela, Lala, Lintang, Yudas, Tiara, dll. Atas prakarsa merekalah ruang dialektika dan belajar pasca-sekolah ini terjadi. Ruang seperti ini nyatanya dapat menunda rasa kenyang dan cukup dalam situasi serba mudah oleh fasilitas dan juga gelontoran arus besar yang memabukkan jika tidak secepatnya kita sadari belakangan ini. Hanya perlu digarisbawahi bahwa di luar sana banyak masyarakat yang membutuhkan karya-karya sosial yang mudah diterapkan dan berhadapan langsung dengan problematika keseharian pada umumnya. Peran dan fungsi para sarjana—atau siapa pun yang tercerahkan dan menyimpan kegelisahan atas nasib bangsanya—seyogyanya mengisi kekosongan untuk berjibaku langsung dengan situasi tersebut. Kelahiran pegiat-pegiat sosial pada era sekarang tak perlu lagi secara eksplisit “berbaju” aktifis sehingga mengesankan simbol tertentu yang heroik. Siapapun dapat memulainya dalam jangkauan bentang kapasitas masing-masing. Jika kedekatan relasi dengan komunitas riil-nya dalam keluarga dan masyarakat dirawat betul, maka seseorang—entah itu sarjana atau bukan—sudah pasti pada saatnya akan menyandang amanat sebagai kepala keluarga, ibu rumah tangga, pengurus RT, pemangku lingkungan, panitia hajatan warga, dsb. Beberapa contoh tersebut hanya menyebutkan sebagian kecil keniscayaan peran dan fungsi yang ada di depan mata.

Selebihnya akan banyak cara dan terobosan yang lebih menarik untuk menyiapkannya lewat forum sedinamis Garasi Gagasan. Melulu berkumpul, berdiskusi, atau berbagi pengalaman lewat sajian presentasi dari kita-kita sendiri mungkin juga bakal mengundang jenuh dengan sendirinya. Sesekali bisa saja anak-anak jalanan, pengasong, tukang ojek, penjual sate, juru kunci makam, penjaga pintu rel kereta api, dan sebagainya kita beri tempat. Atau praktik-praktik sederhana teknologi tepat guna yang sudah sempat dijalankan oleh siapa saja, kita pelajari dan simulasikan. Sehingga harapannya setiap kali selesai gelaran Garasi Gagasan, ada perubahan nilai tambah yang terjadi. Setidaknya membumikan pola pikir para pegiatnya, syukur-syukur ikut andil menyebarkan dampaknya ke orang-orang terdekat masing masing dengan turut serta mempraktikkannya. Sikap dan tindakan yang demikian ini sesungguhnya menjadi angsuran-angsuran yang sedikit demi sedikit dapat memberi kesempatan bagi kita melunasi “hutang” kepada keluarga, masyarakat dan bangsa pada umumnya. Saya jadi teringat dengan salah satu pesan di bawah, sekiranya menjadi penutup tulisan andai-andai yang belum tentu berguna ini:

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak pernah diberikan sama sekali" (Tan Malaka, Madilog)

Ahmad M. Nizar Alfian Hasan
Solo-Karanganyar, 16-22 Maret 2018

#garasigagasan


=================
publish sebelumnya di https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10155481203010415&id=738725414

0 komentar: