Rabu, 06 November 2019




Seorang anak pada dasarnya punya kepekaan sekaligus ingatan luar biasa, sampai ada yang mengibaratkannya dengan kertas putih yang bisa terisi apa saja. Jika difasilitasi dengan baik, kecakapannya berbicara, menggoreskan pena, atau menuliskan kata-kata, akan banyak membantunya berlatih menuangkan gagasan sejak dini. Orang dewasa tak pernah tahu, seberapa banyak bahan yang dia olah demi keluarnya gagasan itu.

Setidaknya ada dua kecenderungan gaya dalam belajar, tidak hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa. Kecenderungan pertama banyak dipengaruhi oleh kebiasaan naluriahnya mengalami sesuatu, menelisik kejadiannya, lalu merumuskan pengetahuannya sendiri. Kecenderungan lainnya sedikit-banyak dipengaruhi logika formal, yakni belajar dari pemikiran orang lain untuk mencerna kaidah-kaidah pengetahuan yang sudah ada, lalu mendapatkan pemahaman tertentu.

Faktanya, sampai kapanpun kita tak bisa memilih hanya salah satu gaya belajar tadi. Antara naluri dan kecermatan mendayagunakan suatu teori akan sama-sama bekerja selama otak masih berfungsi. akan tetapi permasalahannya bukan pada memilih salah satu untuk meninggalkan yang lainnya. Karena setiap orang akan berbeda dalam membiasakan porsinya, terlebih dalam hal produktifitas pengetahuan yang sedang dibangunnya.

Pada perbincangan ringan di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah, sempat tercetus semacam indikator sederhana untuk mengukur produktifitas seseorang di era informasi belakangan ini. Terkait dengan penggunaan gadget, hal itu bisa diukur dari berapa banyak konten yang dia terbitkan --setidaknya-- lewat media sosial, yang bukan sekadar membagikan konten orang lain. Lain lagi ketika dikaitkan dengan kehidupan nyata di keseharian, maka produktifitas itu lebih dimaknai dari berapa banyak solusi dan kemanfaatan yang dia berikan, bukan lagi melihat ketokohan, jabatan atau tingkat pendidikan. Menariknya, dengan begitu produktifitas akan terus bergulir, seperti putaran spiral yang mendesak maju.

Mungkin sudah bukan hal keren lagi, seseorang hanya bisa mengunduh konten-konten menarik, keranjingan membaca banyak buku tebal, atau mendengarkan kutipan-kutipan sosok fenomenal. Tetapi bagaimana lebih dari itu, dia bisa mengolah suatu bahan yang kemudian diterapkan dalam mengatasi problem aktual di sekitar, lalu mengunggahnya agar pengetahuan-pengetahuan baru tersebar-luaskan. Kira-kira seperti tulisan ini yang baru bisa saya lakukan di sela-sela tugas kehidupan. Silakan digenapi, sembari saya lanjutkan pekerjaan.

Bumi Sepanggang, 7 November 2018

#gobloksemangat
#kbqt

UNGGAH-UNDHUH

Read More

Minggu, 04 Agustus 2019

(Refleksi Kilas Balik Dua Windu KBQT)
Oleh: Ahmad M. Nizar Alfian Hasan*

"Indikasinya, sekolah-sekolah bakal dibubarkan karena sudah semakin tidak masuk akal dan kian kehilangan relevansinya." (Bahruddin)


Kalimat itu seolah berisi kabar membahagiakan bagi pelaku pendidikan alternatif, seperti halnya kami di KBQT. Tapi sebetulnya beliau sedang menegaskan hal lain yang jauh lebih penting daripada sekadar pernyataan kritis semacam itu. Bahwa sebelum indikasi itu benar-benar terjadi, kita harus segera siapkan upaya agar komunitas-komunitas yang ada --apa pun bentuknya--, tidak hanya berhenti pada perayaan dan romantisme kelompok saja. Tapi jauh lebih strategis lagi, bagaimana komunitas itu mampu menjawab ketidaklogisan dan nir-relevansi sekolah, seperti yang sedang kita soroti di depan. Bentuk paling sesuai ya tentu saja sanggar kreatif atau komunitas belajar yang juga terdaftar sebagai PKBM. Sehingga secara ruh tetap non-formal tetapi diakui negara.
Pak Din seolah juga sudah memprediksi perihal kemampuan sekolah-sekolah formal dalam merombak dirinya. Sekolah paling banter hanya dapat melakukan pembenahan-pembenahan penampilan, semacam memperkecil jumlah siswa dalam satu kelas, mengasup kegiatan-kegiatan tambahan atau mempersiapkan bekal-bekal ketrampilan untuk memenuhi tuntutan pasar industri. Setidaknya masih jauh membayangkan sekolah mampu mencapai tahap pembelajaran mandiri (meta-cognitive) apalagi pembelajaran saling kerjasama (collaborative learning). Alih-alih yang terjadi masih berkutat pada situasi anak sekadar menerima pelajaran dan terpicu persaingan.
Beberapa pemahaman itu kemudian mengantarkan kami pada sesi refleksi perjalanan KBQT sejak  enam belas tahun lalu. KBQT berdiri pada situasi kepercayaan khalayak terhadap sekolah masih cukup tinggi. Data BPS tentang partisipasi usia sekolah menengah nasional menyebut angka 81.09% yang meskipun sempat turun di tahun 2010 menjadi 80.35%. Sedangkan di Jawa Tengah, untuk tahun kemarin indikator tersebut berada di angka 73%. Entah harus gembira atau sedih, untuk 23% sisanya ternyata bukan karena "tidak bisa sekolah", tapi sudah bergeser alasannya menjadi "tidak mau sekolah." Inilah peluang sekaligus tantangan bagi desa-desa yang telah siap menyelenggarakan PKBM.






Kilas Balik Perjalanan
Kiranya menjadi tepat jika kemudian di usianya yang ke-enambelas tahun ini, KBQT telah dan akan menjalankan serangkaian proses pembenahan. Jika beberapa bulan sebelumnya, upaya mengidentifikasi kebutuhan untuk hal itu dilakukan lewat penyusunan Buku Profil KBQT yang lebih serius dan komprehensif dari sebelumnya. Maka mulai bulan Juli kemarin, telah dilaksanakan beberapakali diskusi terarah di tingkat yayasan yang disusul hari Sabtu, 3 Agustus 2019 kemarin kami gelar Workshop Perencanaan Strategis KBQT yang melibatkan tidak hanya pengurus dan pembina yayasan, akan tetapi juga pendamping belajar. Dari unsur pendamping senior termasuk juga para pendiri dan dari pendamping yunior hampir semua diisi alumni yang sampai sekarang masih ikut terlibat di KBQT.
Fase Konsolidasi dan Inisiasi, jika diperbolehkan saya menyebut demikian untuk fase awal (2003-2007). Rentang empat tahun pertama yang menjadi tonggak keseluruhan proses berikutnya, yakni: bagaimana awal mengumpulkan lalu bermusyawarah dengan orangtua murid pertama, menerapkan model pendampingan yang membebaskan, kemudian menjalankan kurikulum pembelajaran yang seterusnya masih dalam pencarian, menghadapi polemik Ujian Nasional murid angkatan pertama, sampai pada menjawab pertanyaan-pertanyaan konseptual yang itu semua tak mudah dilakukan. Cara-cara persuasi seperti pembuatan album lagu dan klip Tembang Dolanan serta peliputan media cetak dan tv nasional, banyak membantu kepercayaan diri pada fase awal ini. Solusi pengadaan komputer di rumah untuk masing-masing anak dan akses penuh jaringan internet, menjadi terobosan yang mendahului jaman, menjadi dialektika yang menarik nanti pada bagian akhir tulisan ini. Fakta kecil lain yang menguak, salah satunya anak menjadi betah berlama-lama di sekolah yang artinya kegembiraan belajar bukan slogan semata namun telah menyatakan diri sejak awal.
Fase Akselerasi dan Eksistensi, kiranya cukup memadai untuk menyebut fase empat tahun kedua (2007-2011). Fase ini dibuka dengan kehadiran konsekuensi atas pilihan membebaskan murid mengikuti Ujian Nasiunal (UN) atau tidak. Secara alamiah nampaknya itu menyeleksi alasan murid atau orangtua bergabung menjadi bagian dari KBQT. Fase ini pula yang melahirkan forum-forum, yakni kelompok kegiatan anak berbasis minat, hingga terwujudnya konsep Universitas Kehidupan untuk merespon keberlanjutan nasib murid-murid generasi awal di QT. Satu hal penting yang perlu disorot juga adalah perubahan status dari formal (SMP Terbuka) menjadi non-formal (Kejar Paket C-D) sehingga muncul penyebutan Komunitas Belajar. Fakta ini seakan menjadi bahan bakar utama kemunculan energi kreatif warga belajar berkarya semaksimal mungkin di fase kedua ini. Penulisan ide, capaian dan target, banyak menunjang produktifitas itu.
Fase Sinergi dan Kolaborasi, menjadi sebutan yang lebih ditujukan untuk mengapresiasi positif pencapaian di fase empat tahun ketiga (2011-2015). Di balik fakta telaknya kemunduran peran pendamping di rentang waktu ini, kelahiran kanal-kanal kreatifitas warga belajar justru mendapatkan momentumnya. Forum Teater, Film dan Perkusi menjadi 'kawah' penempaan komitmen dan kesungguhan anak berkarya sekaligus belajar mandiri dalam kolaborasi antar teman yang saling membangun. Kenekatan anak belajar berproduksi bersama lalu jemput bola memasarkan langsung dari pintu ke pintu, belum pernah terulang lagi hingga sekarang. Dampak yang diperoleh di fase ini, KBQT banyak memanen jejaring yang lalu mendapatkan banyak kesempatan eksposisi dan bergiat keluar bersama komunitas-komunitas lain yang tidak hanya regional Salatiga, tetapi juga Jawa Tengah bahkan nasional, sebagai tamu undangan, narasumber atau pengisi acara. Serangkaian proses ini banyak melahirkan talenta dan prestasi yang membuktikan kompetensi warga belajar kepada masyarakat luas. Meskipun tak bisa dimungkiri, di fase ini pula QT sudah mulai kehilangan anak-anak setempat yang mau bergabung menjadi bagian proses pembelajaran.
Fase Aktualisasi dan Kontribusi, untuk menyebut peran lebih luas di fase empat tahun keempat (2015-2019). Fase ini berada pada situasi gadget dan kuota internet yang semakin akrab dipakai dan relatif murah. Meskipun hingga tulisan ini dibuat, hal itu masih menjadi polemik dalam hal menimbang dampak positif-negatifnya. Faktanya, fase ini bisa dibilang warga belajar QT seluruhnya sudah bukan penduduk Desa Kalibening, melainkan anak-anak dari luar daerah. Mereka pun datang dengan keberagaman latar belakang, termasuk beberapa di antaranya bermasalah dengan sekolah formal dan bahkan terduga memiliki keistimewaan lain atau berkebutuhan khusus. Jejaring alumni diberdayakan untuk mendukung pendampingan, baik itu reguler ataupun tentatif. Program semester, pendampingan karya Tugas Akhir hingga penyelenggaraan Pameran Karya di ruang-ruang publik Kota Salatiga, menjadi bentuk lain kontekstualisasi fase ini. Terlebih dalam kegiatan kolaboratif lintas komunitas dan daerah yang sudah terbangun sebelumnya, KBQT tidak hanya menjadi peserta namun sudah beranjak lebih strategis perannya terlibat sebagai penyelenggara.





  
Apakah Betul-Betul Nir-Konsep?
Satu-satunya indikator yang selalu muncul di tiap fase adalah pertanyaan soal konsepsi. Dinamika berikut turunan problematika di KBQT seolah menegaskan perihal itu. Pondasi inti yang menopang keseluruhan aktualisasi program pembelajaran selalu mencuat dalam bahasan, baik itu di ranah pendamping atau yayasan. Wacana semacam kembali pada belajar sebagai esensi pendidikan, bukan kesetaraan (baca: ijazah), sepertinya belum cukup memberi penjelasan. Banyak pihak masih mengganggap murninya kemauan warga belajar meningkatkan kreatifitas sebagai suatu utopia. Meskipun benang merah faktanya mengungkap soal telah terselenggaranya pendampingan berbasis karya, mulai dari gagasan, proses kreatif hingga penyajian.
Kebiasaan nalar positif nampaknya terlalu akrab dengan alur konsepsi yang kemudian  berdampak pada pembingkaian praktik yang terjadi di lapangan. Sedangkan yang terjadi di QT justru sebaliknya, serangkaian praktik masih perlu dijahit dan disulam hingga menjadi sebuah konsepsi. Sehingga ketika tersaji sebuah rumusan yang mudah dipahami, harapannya bakal lebih membuka kemungkinan untuk disebarluaskan. Untuk itu kita berharap, semoga di tahun ini bisa segera tersusun jawabannya.



Terobosan Kemungkinan dan Relevansi
Pelaksanaan Workshop Perencanaan Strategis ini niscaya menyandang peran lebih dari sekadar administratif. Pak Roy, selaku tuan rumah sekaligus salah satu pelaku sejarah bedirinya QT tentu merasakan ledakan yang sama di batinnya. Beliau sempat menyorot soal kecerdikan khas dalam sejarah QT sebagai pelopor terdepan dalam merespon kecenderungan jaman. Beliau mengingatkan perihal penggunaan internet sebagai sumber daya pembelajaran yang betul-betul masih langka di jamannya (2003). Akses internet 24 jam di desa bahkan melampui kesanggupan perguruan-perguruan tinggi di jaman itu.
Maka perlu kepekaan antar pihak dalam mencermati untuk kemudian merancang rencana strategis KBQT ke depan. Keterlambatan masuknya era Revolusi Industri 4.0 di negeri ini tentu jadi satu hal yang terlewat dari kecermatan yang dimaksud. Banyak proyeksi futuristik sebetulnya bisa saja kita mulai dari sekarang. Jika beberapa tahun lalu Pak Roy sempat menginisiasi pembelajaran robotik namun terkendala pengetahuan dasar-dasar pemrograman, tentu saja hal itu menjadi catatan sendiri yang sebetulnya bisa langsung diperbaiki. Jika sebagian besar dari kita sudah akrab dengan adanya pengertian bahwa 3 bidang: energi, pangan dan teknologi informasi, yang menjadi penentu masa depan sejak hari ini, tentu ruang kreatifitas yang kita rindukan makin terbuka lebar. Penggunaan gadget, media sosial, laman blog&web, digital platform, dan cara-cara inter-koneksi tanpa batas lainnya niscaya menjadi kebutuhan yang mendesak. Dan semua itu mestinya kembali pada akar pijakan semula, semacam: kemandirian komunitas, kelestarian lingkungan, humanisme, lokalitas, jejaring produktif, dll. Oleh karena itu, kita semua berharap bisa melanjutkan fase empat tahun kelima sebagai momentum penemuan jati diri, entah apa sebutannya nanti.


Karanganyar, 3-4 Agustus 2019

***
*Penulis buku Desaku, Sekolahku, yang juga pegiat pendidikan alternatif di Pasamuan Among Anak (Pamongan) Karanganyar dan Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT) Salatiga. Membaca, menulis dan berkebun adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, seperti: Lingkar Belajar Antar Sanggar, Karanganyar Taman Kabudayan, Kamar Kata dan Debog Wengker.


MELAMPAUI KEMUNGKINAN DAN RELEVANSI

Read More

Selasa, 25 Juni 2019

"Pendidikan sudah semestinya tidak membuat anak tercerabut dari akar lokalitasnya." ( Ahmad Bahruddin - KBQT Salatiga)

Zonasi, kata ini mendadak lumrah dipakai oleh para orang tua yang hendak menyekolahkan anaknya ke sekolah negeri. Saya sendiri jadi mengira-kira, apa sejatinya yang saat ini ada dalam benak para orang tua itu dan tentu juga landasan kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam hal ini. Namun ingatan saya jadi selalu terbingkai oleh kata-kata Pak Din di atas, yang memang menjadi salah satu akar pemikiran beliau menyelenggarakan praktik pendidikan berbasis komunitas seperti halnya di KBQT.

Nah, komunitas, dalam sudut pandang jauh, mungkin bisa disebut negara. Tapi dalam sudut pandang dekat yang lebih empirik (baca: mudah dialami dan dirasakan) bagi rakyat kecil sebagaimana kita, tentu saja keluarga dan lingkungan bertetangga. Meskipun berbeda sudut pandang, tampaknya dua hal itu sangat berkaitan erat. Karena membangun senyawa besar "negara" tentu tidak bisa lepas dari senyawa kecil "keluarga dan tetangga, mulai dari RT, RW dan bahkan mungkin dusun."

Perkumpulan terbatas, barangkali bisa juga disebut komunitas, sesuai dengan minat, latar pendidikan, latar profesi, atau bahkan latar kepentingan yang serupa. Sedangkan jika kembali mendekatkan pada makna "zonasi" tadi, maka berkomunitas menjadi cara belajar tentang keberagaman bukan keseragaman. Iya, keberagaman, karena komunitas yang dimaksud sesuai dengan fitrah kita sebagai individu sosial, yang terikat oleh ruang. Kita tidak bisa memilih berada pada satu wilayah yang sama, bersama orang-orang yang berminat dan berkesenangan serupa. Namun kita tertuntut untuk menyelesaikan 'problem' yang sama-sama dialami, meskipun latar belakangnya berbeda. Itulah berkeluarga, itulah bertetangga.

Maka, bicara indonesia, tentu harus bicara pula soal seberapa dekat kita dengan keluarga dan seberapa lebur kita bersama tetangga-tetangga terdekat kita. Itulah Indonesia.

Bumi Sepanggang, 19 Juni 2019

==============
pinjam ilustrasi:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10214128178264781&substory_index=0&id=1422851768

ZONASI dan PELAJARAN BERTETANGGA

Read More

Selasa, 26 Februari 2019

Kemungkinan Baru Memposisikan Diri Sebagai Arsitek



Apabila arsitektur hanya dipandang sebatas kemampuannya untuk menyediakan bangunan yang kokoh dan indah, lingkungan yang bersih dan tertata rapi, atau inovasi canggih dan terkini yang menjadi solusi atas problem-problem bangunan dan kawasan, tentu tidak salah kalau kemudian bidang ini sampai saat sekarang masih ‘berjarak’ dengan masyarakat kita yang beraneka suku, adat, kebiasaan, ataupun cara mereka beradaptasi dengan lingkungan, mengelola sumberdaya alam, menerima pengaruh dari luar dan tentunya juga menjalani kehidupannya secara wajar. Masyarakat sebagai ‘lembaga’ yang didukung oleh hadirnya individu-individu di dalamnya memiliki sikap dan kepribadian yang meniscayakan pandangan di atas. Oleh sebab itu peran arsitek sejauh ini masih terkungkung oleh definisi arsitektur sebagaimana kita warisi dari dunia barat, sehingga nampak gejala keterasingan di sini, di mana perlu satu pemahaman baru yang sanggup membuka diri terhadap problem eksistensial ini, antara arsitektur, masyarakat dan arsitek.

Ironisnya, harapan untuk munculnya sebuah pemahaman baru itu terganjal justru oleh kejumudan institusi yang melahirkan para ‘arsitek’, pragmatisme sebagian masyarakat akibat terjebak oleh paradigma yang terlanjur salah, dan pula penginformasian atas karya-karya arsitektur yang ujung-ujungnya tetap saja mendidik masyarakat untuk kian memberi perhatian penting terhadap pembelanjaan status, gaya hidup dan selera kekinian. Oleh karenanya, alternatif jalan keluar yang barangkali masih memungkinkan adalah melalui cara ber-‘arsitektur’ dengan kesadaran, entah itu sebagai arsitek ataupun sebagai masyarakat, di mana syarat utamanya adalah keterbukaan untuk menerima bahwasanya arsitektur tak lagi sekadar berbicara soal teknik, estetika atau ekonomi saja. Bahwa ber-arsitektur adalah kesadaran menjalani kehidupan dengan rasa, etika sekaligus logika yang hanya untuk menyiapkan diri berselaras dengan lingkungan alam dan sosial di sekitarnya. Sejauh yang dapat saya tangkap, semangat itulah sebetulnya yang ingin ditunjukkan dari tulisan di dalam buku Laporan Tugas Akhir ini.

Burhan, Sang Penulis buku ini pada awalnya hanya mengutarakan satu pertanyaan sederhana kepada saya sekitar setahun lalu, tentang esensi merancang kaitannya dengan sejauh mana lingkup peran arsitek dalam kehidupan nyata. Waktu berjalan dan pertanyaan itu berkali-kali hanya mendapatkan jawaban yang tak memadai dan samasekali tidak komprehensif. Sampai kemudian Burhan tergerak untuk memulai ‘pencarian’-nya sendiri, lewat proses dan kondisi yang dalam kacamata saya melampaui apa yang dibayangkan sebelumnya. Kini, nampaknya saya tak perlu lagi susah-susah untuk menjawab pertanyaan di atas, karena dengan apa yang telah ditulis Burhan dalam buku ini, meskipun saya yakin bahwa masih banyak hal yang tak tertulis di situ, justru semakin meluaskan cakrawala pemahaman saya dan semoga saja setiap orang yang kelak membaca buku ini.

Apa yang saya/orang lain pahami tentu jauh berbeda dengan pemahaman yang Burhan dapatkan selama menulis ini. Karena tulisan di buku ini hanyalah mampu mengungkapkan sebatas kemampuan bahasa—sebagai alat—menyampaikan. Apa yang terjadi sesungguhnya sangatlah kental diliputi oleh konteks ruang, waktu dan rasa, di mana subyektifitas dan obyektifitas tak dapat ditolak melebur dalam diri Burhan. Subyektif karena rangkaian proses yang terentang dalam tulisan panjang di buku ini ditulis oleh Burhan dari pengalaman personalnya sendiri. Obyektif karena faktanya semua yang ada di tulisan ini sungguh terjadi, di suatu tempat yang nyata, melibatkan pula figur-figur nyata, serta terdiri atas setting-setting kejadian yang tak hanya dialami oleh Burhan seorang. Sementara bahasa, apalagi bahasa tulis justru telah mereduksi hal tersebut. Sehingga bilamana perlu, silang pembuktian sangat memungkinkan dilakukan, untuk mengetahui keakuratan fakta yang Burhan tunjukkan.

Lepas dari itu semua, bagi saya hal terbesar dan menarik dari apa yang dilakukan Burhan dalam Tugas Akhirnya adalah bukan karena produknya baik itu Buku Konsep Tugas Akhir (saya lebih suka menyebutnya Laporan Tugas Akhir), gambar-gambar teknis, panel presentasi juga maket, yang oleh sebagian besar kalangan dosen dan mahasiswa dipandang tak sesuai format, bahkan tak ilmiah. Akan tetapi keseluruhan proses yang saya melihatnya sebagai satu lompatan prestasi dan perombakan cara berpikir yang tidak sepele, di mana di awal Burhan harus memulainya benar-benar dari nol. Saya ingat kegelisahan dia di awal-awal proses yang masih sangat luas cakupannya. Hingga kemudian mengerucut pada pilihan-pilihan yang mengharuskannya selalu belajar sesuatu hal yang betul-betul baru, antara lain: tentang ekologi, tentang pengorganisasian masyarakat, tentang pemberdayaan komunitas, tentang pendidikan, tentang fenomenologi, tentang bagaimana menulis sebuah cerita, tentang bagaimana secara natural bersikap dan berhadapan dengan orang-orang yang baru dikenal, tentang bagaimana menghayati sebuah perjalanan, tentang bagaimana menjelaskan sesuatu dalam bahasa awam, tentang bagaimana mengungkap fakta secara proporsional (tidak memihak), dsb.

Memasuki dunia naturalistik seperti ini, selalu melewati masa-masa gamang dan dis-orientasi. Tak ada satu pun ‘konsep’ yang mampu menuntun atau bisa dijadikan pegangan. Pada fase ini akselerasi proses belajar terjadi, di mana hanya ada satu naluri yang menggerakkan, yakni keingintahuan. Naluri inilah yang menurut saya barangkali memberi energi besar bagi Burhan untuk mencapai nilai tertinggi, yakni kemandirian. Satu nilai yang sebetulnya sama-sama menjadi tuntutan dalam mahasiswa menjalani Tugas Akhir, hanya saja melewati jalan yang berbeda.

Akan tetapi dari nilai kemandirian yang Burhan capai justru mampu menjadi jalan tersedianya duta bagi arsitektur pada umumnya dan khususnya arsitek—sementara Burhan masih mahasiswa, yang insyaAllah calon arsitek—untuk mulai membuka diri, mencoba kemungkinan-kemungkinan baru dalam berhubungan langsung dengan masyarakat. Bukan lagi kemandirian yang tercerabut dari akar persoalan di kehidupan nyata atau kemandirian yang menurut saya sia-sia untuk menjawab persoalan-persoalan yang asumtif atau lebih menyedihkan lagi duplikatif, sebagaimana Tugas Akhir mahasiswa Arsitektur pada umumnya. Oleh sebab itu, Tugas Akhir-Tugas Akhir seperti ini sudah saatnya mendapat tempat, agar tersedia peluang-peluang baru bagi Jurusan Arsitektur untuk lebih berkembang. Ada peluang perkembangan dari cara yang sudah berjalan, akan tetapi jauh lebih banyak peluang tersedia dari cara-cara yang belum pernah dilakukan. Sedangkan jaman demikian cepat bergerak, tentu siapapun tak mau terjebak dalam langkah-langkah yang nampaknya optimis, strategis dan terstruktur, sementara alam dan dunia bergerak dalam ketidakpastian dan ke-takterduga-an, dalam lompatan-lompatan peristiwa dan terobosan-terobosan peradaban yang memungkinkan apa yang sebelumnya tak mungkin. Niscaya kita akan memilih sesuatu yang lebih menjejak membumi, responsif terhadap permasalahan riil, dan kritis dalam menangkap gejala-gejala aktual, sehingga setidaknya dengan begitu kehadiran kita diperhitungkan dari kacamata yang lebih manusiawi, karya kita pun lebih orisinil dan tepat guna. Lalu apakah dengan mengikuti proses sedemikian panjang dari membaca Laporan Tugas Akhir ini, seorang mahasiswa Arsitektur seperti Burhan ini telah salah “memposisikan diri”?

Karanganyar, 20 Maret 2010
Ahmad M. Nizar Alfian Hasan

BERARSITEKTUR DENGAN KESADARAN

Read More

Sabtu, 23 Februari 2019

: pernikahan maria ulfa


Hati kita bertaut sejak sebelas tahun lalu
Meramu simfoni dalam rasa terdalam
Meskipun hanya meraung pada ruang takjub
Tatkala rentang masa merunduk... tunduk

Kukenal senyum itu sejak sebelas tahun lalu
Meyakinkan bahwa kabar baik terkabar
Pun watak bumi kini binar memancar
Tatkala sapa damai menyentuh... teduh

Ibarat air, tenang kau melenggang
Ibarat api, tak perlu sampai membakar
Hanya dengan tatapan kau menjelaskan
Hanya dengan kelembutan kau redakan

Hari ini kusaksikan
Kebahagiaan yang sepadan

Karanganyar, 16 Desember 2016

SEJAK SEBELAS TAHUN LALU

Read More

: Mengawal 50 Tahun Tradisi Bakti Sosial Penyantunan Anak Yatim di Brotonegaran - Ponorogo

"Tahukah engkau yang mendustakan agama? Yaitu orang yang menelantarkan anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat, yakni orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong." (Q.S. Al-Ma'un 1-7)




[KILAS SEJARAH]
Kegiatan ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 1966 (Muharram 1386 H), menyusul tragedi kebangsaan yang meluluh-lantakkan rasa kemanusiaan sehingga dalam waktu seketika banyak anak-anak yang kehilangan orangtuanya (terutama ayah). Peristiwa kelam tersebut mengusik keprihatinan beberapa tokoh lokal (yang juga motor penggerak organisasi Fatayat dan Muslimat Nahdlatul Ulama Ranting Brotonegaran) yang kemudian berinisiatif mengadakan kegiatan bakti sosial penyantunan untuk anak-anak korban tragedi 1965. Penggagas dan penyelenggara pertama kegiatan ini adalah:
  1.  Ibu Hj. Fatimah (Istri Lurah Brotonegaran)
  2. Ibu Modin As’ad (Istri Mbah Modin Brotonegaran)
  3. Ibu Hj. Siti Asiyah (Istri Bapak Moh. Dimyati)
  4. Ibu Siti Chomsah (Istri Bapak Amir)
  5. Ibu Parmiyati (Istri Bapak Moh. Sulaiman)
  6. Ibu Hj. Thohir (Istri Mbah H. Thohir)
  7. Ibu Hj. Siti Fathonah (Istri Bapak Abd. Manan)
  8. Ibu Hj. Siti Chotijah (Istri Bapak H. Purnomo)

Pada kesempatan pertama yang diselenggarakan di rumah Mbah Lurah Martoredjo (Lurah Brotonegaran pada masa itu), sejumlah 13 anak yatim mendapatkan santunan ala-kadarnya dan tersedia pula hidangan spesifik “bubur suran”, punten, serta aneka jenis panganan tradisional lainnya. Jamaah ibu-ibu yang hadir ada sekitar 50 orang dengan rangkaian acara mulai dari Shalat Isya’ berjamaah, lalu dilanjutkan dengan Shalat Tasbih, Shalat Hajat dan Pengajian untuk kemudian diakhiri dengan kegiatan mengusap kepala anak yatim yang disusul dengan pembagian santunan yang telah disiapkan sebelumnya. Kegiatan Bakti Sosial ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan “Yatiman” yang dinisbatkan kepada subyek penyebab terlenggaranya kegiatan ini, digelar rutin pada malam Hari Asyura (tanggal 9 malam 10 bulan Muharram dalam penanggalan Islam/Jawa) setiap tahunnya.
Hingga tahun 2016 ini terhitung sudah 50 kali kegiatan Yatiman dilaksanakan tanpa pernah jeda sekali pun. Bahkan sejak tahun 1990-an mulai menginspirasi tempat-tempat lain di Ponorogo untuk menyelenggarakan kegiatan serupa dan juga beberapa kabupaten lain, seperti Magetan dan Jombang. Barangkali memang kegiatan ini dimulai bukan dari gagasan besar, namun karena keuletan serta dedikasi penyelenggaranya sehingga tahun demi tahun mampu menunjukkan eksistensi dan kemanfaatannya bagi masyarakat sekitar.

[SIMBOL KASIH-SAYANG]
Menelisik sejarah singkat di atas, terang bahwa gagasan acara Yatiman ini diliputi oleh rasa empati dan kasih-sayang sesama manusia kepada manusia-manusia kecil yang terpaksa kehilangan sosok ayah sebagai pimpinan keluarga. Momentum awal yang diambil sungguh tepat karena terselenggara ketika bangsa ini tengah dirundung duka mendalam, yang sampai kapan pun akan menjadi sejarah kelam kehidupan berbangsa. Untuk tidak larut dalam rasa duka dan kehilangan tersebut ataupun terbatasnya kondisi ekonomi keluarga yang ditinggalkan, maka para figur pemrakarsa kegiatan ini mengambil langkah cerdas lagi bijak dalam merangkai rasa kemanusiaan tersebut menjadi sebuah kegiatan penuh makna dan harapan.
Ramuan kegiatan kemanusiaan yang berbalut ritual keagamaan seakan bersenyawa menyentuh sisi ruhani dua pihak sekaligus. Bagi anak yatim kegiatan ini betul-betul menjadi “belaian” atau “usapan” kasih sayang yang sehari-hari mereka rindukan. Apalagi di dalam kegiatan Yatiman, hal itu secara fisik termanifestasikan ke dalam bentuk ritual “mengusap kepala anak yatim” yang bagi orang pelakunya dapat melembutkan hati atau menundukkan ego-pribadi, sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah serta dijelaskan dan dilakukan pula oleh para ulama salaf, sebagai penjaga mata-rantai ajaran Islam hingga sampai ke zaman kini. Di lain pihak praktik ini sekaligus menjadi simbol sunnah yang diajarkan Rasulullah untuk memberi makan atau santunan kepada anak yatim, yakni anak yang telah kehilangan ayah dan belum mencapai usia akil-baligh.

[MEMASUKI SETENGAH ABAD]
Bukan hal sepele ketika sesuatu yang sederhana mampu bertahan hingga memasuki usia yang ke-50 tahun. Pada tahun 2016 ini, kegiatan Yatiman telah memasuki usia setengah abad. Di antara para pemrakarsanya hanya tinggal satu orang yang masih hidup, yakni Mbah Hj. Siti Asiyah binti Abdullah Umar. Beliau bersama suami (Mbah H. Moh. Dimyati) tentu merasakan kebahagiaan yang tak terhingga, apabila pada pelaksanaan tahun ini (dan semoga juga di tahun-tahun berikutnya) masih diperkenankan menyaksikan kiprah para putra-putri, keponakan, cucu dan cicit beliau sendiri ataupun dari para sahabat beliau yang telah mendahului.
Adapun pelaksanaan pada tahun 2016 ini jatuh pada hari Senin Pon malam Selasa Wage, tanggal 10 Oktober 2016 M atau bertepatan dengan tanggal 9 malam 10 Muharram 1438 H. Sebanyak kurang lebih 2.000 jama’ah berduyun-duyun hadir di lokasi acara yang dipusatkan di Halaman Langgar Maskanussalam (Jl. Kokrosono 57-59 Brotonegaran). Namun sebagaimana telah berjalan di tahun-tahun sebelumnya, barisan-barisan jama’ah dari tahun ke tahun terus meluber ke jalan termasuk ke halaman-halaman rumah yang bisa dimanfaatkan, hingga ratusan meter ke Timur dari pusat acara. Rumah transit anak yatim pun sejak beberapa tahun lalu terpaksa ikut bergeser sekitar 150-200 meter dari lokasi yang menjadi panggung utama. Berikut informasi terkait acara dan statistik bantuan/santunan yang dikelola panitia pada penyelenggaraan Yatiman tahun 2016 ini:
§  Ketua Panitia                                                                                     : Ailyn Farihah Hasan
§  Sekretaris/Pembawa Acara                                                               : Yustin Musfiroh
§  Mauidlotil Hasanah                                                                            : Syahrul Munir
§  Jumlah Anak Yatim                                                                            : 275 Anak
§  Dana Operasional                                                                             : Rp. 7.000.000,-
§  Dana Santunan Anak Yatim                                                              : Rp. 157.301.000,-
§  Dana Santunan (yang diterima setiap anak)                                     : Rp. 550.000,-/anak
§  Sisa Dana Santunan (diakumulasi untuk dibagikan tahun depan)    : Rp. 6.051.000,-

Perlu dipahami bahwa dana santunan bagi anak yatim dikumpulkan sejak jauh hari sebelum acara berlangsung. Sehingga terdapat panitia inti yang terus bekerja sepanjang tahun, terutama yang berkenaan dengan pembaruan database anak yatim dan penerimaan dana-dana bantuan. Dana dan bantuan pun sejak awal terbagi dua, yakni dana-bantuan operasional (termasuk terop/kajang, sound-system, konsumsi, dll) untuk teknis pelaksanaan acara dan dana-santunan sedekah (sembako, pakaian, dll) untuk anak yatim. Selain itu selalu terdapat dana santunan sisa (karena tidak habis terbagi ke sejumlah anak yatim) yang akan di-akumulasikan ke penyelenggaraan di tahun berikutnya. Artinya dana santunan yang menjadi hak anak yatim akan selalu terjaga, tidak diperuntukkan untuk alokasi lain. Termasuk ketika dermawan menyerahkan bantuan, akan selalu dipertegas akad-nya untuk kedua jalur pemanfaatan tadi agar niat amal-ibadahnya termuliakan sejak awal. InsyaAllah segenap panitia terus berusaha untuk selalu menjaga amanah tersebut agar rahmat dan barakah dari-Nya senantiasa tercurah dalam penyelenggaraan acara ini.
Tentu ada harapan dan juga doa, meskipun anak-anak ini tergolong kurang beruntung karena kehilangan ayah ketika masih kecil, suatu saat kelak mereka sanggup menopang masa depannya dengan badan tegak, berjuang untuk diri dan keluarganya dalam segala keterbatasan. Adapun kesedihan itu manusiawi, merasa sendirian itu hanyalah fragmen kehidupan yang tak perlu disesali, sebab Allah dan para dermawan dan jamaah yang hadir dalam kegiatan Yatiman ini telah menunjukkan rasa kasih dan sayangnya kepada mereka. Rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang terjalin tentu tak hanya berhenti dalam seremoni yang hanya setahun sekali ini. Sungguh, panitia dan pengurus Fatayat-Muslimat Brotonegaran dengan tangan terbuka berharap agar data 275 anak yatim (beserta keluarganya) yang terkumpul di tahun ini dapat diakses dan senantiasa ditindak-lanjuti oleh para dermawan dan muslimin-muslimat yang berkenan “mengusap kepala” anak-anak yatim ini di hari-hari yang lain.
Sebagai penutup kata, semoga kita semua digolongkan kepada umat yang selalu diberi kesempatan mengikuti jejak-sunnah rasulullah, lewat para sahabat, para pengikut, para ulama dan para guru kita, kepada mereka semua kita sampaikan shalawat dan salam sebagai ungkapan cinta. Segala bentuk sumbangsih dan peran-serta, baik itu dari segenap panitia penyelenggara, pengurus Fatayat-Muslimat NU Ranting Brotonegaran, dan tak lupa para jamaah dan warga masyarakat yang secara ikhlas ikut mendukung terselenggaranya acara ini, semoga tercatat sebagai jariyah yang tak pernah putus. Lebih-lebih kepada para pendahulu yang merintis, memrakarsai dan memulai sebuah tradisi yang penuh barokah ini, semoga segala kebaikan yang kita lakukan dalam melestarikan acara ini akan terus menjadi pahala yang kelak pasti mereka terima.

...Al-faatihah...


Karanganyar, 16 Oktober 2016

SETENGAH ABAD YATIMAN

Read More

Jumat, 22 Februari 2019

Oleh : Djuneidi Saripurnawan | 13-Sep-2007, 21:24:40 WIB



Judul Buku : Desaku, Sekolahku
Penulis : Ahmad M. Nizar Alfian Hasan
Penerbit : Pustaka Q-Tha
Tahun : Agustus 2007
XXV+189 hlm, 14 x 20 cm


Ketika sekolah semakin mahal dan membosankan, apa yang mungkin kita lakukan untuk menghadapi situasi seperti ini? Biaya sekolah terus mengikuti trend harga barang-barang di pasaran yang terus membumbung naik. Sementara, kualitas lulusannya masih jauh dari yang diharapkan. Murid-murid sendiri banyak yang menyatakan kebosanan, tidak menyenangkan dan tidak menarik atas proses pembelajaran di Sekolah. Ke Sekolah dengan rasa tertekan dan keterpaksaan. Belum lagi ketegangan dengan guru dan tugas-tugas sekolah serta pekerjaan rumah (PR) yang menyebalkan. Waktu untuk mengekspresikan diri dan explorasi ketertarikan pada hal-hal di luar sekolah habis ditelan tuntutan aktivitas di sekolah.

Formalitas sekolahan telah memandulkan kreativitas dan mengasingkan para murid dari lingkungan hidupnya sendiri. Dan, bagaimana nasib anak-anak dari keluarga miskin yang tersebar luas di Indonesia Raya ini?

Dan pada akhir ritual sekolah yang ditunggu-tunggu pun tiba, ijasah adalah symbol kebanggaan kelulusan yang konon bisa memberikan jaminan hidup kedepan(?) Perlu disadari para mahasiswa bahwa ketika ijasah itu diterimakan, ketika itu pula status anda berubah, bukan lagi menjadi mahasiswa sang intelektual melainkan “pengangguran” bila anda belum produktif.

Sebagai sarjana, sudahkah anda memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menerapkannya dalam aktivitas kerja produktif di tengah-tengah masyarakat membangun ini; pertanyaannya, apa yang bisa anda kerjakan/ hasilkan? Apa yang bisa dibanggakan dengan ijasah di tangan tapi tidak berdaya..?

Kenyataan cenderung mengatakan “untuk menjadi pandai itu memang mahal.” Dan “orang-orang miskin dilarang sekolah.”
Namun demikian, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin terjadi di muka Bumi ini selama hal itu manusiawi. Bahwa sekolah (baca: belajar) itu bisa murah dan berkualitas adalah bukan mimpi, dan hal ini dibuktikan oleh komunitas petani—yang menamakan dirinya komunitas Qaryah Thayyibah-- di Desa Kalibening, Kecamatan Tingkir, 3 kilometer dari Kota Salatiga, Propinsi Jawa Tengah.

Berawal dari solidaritas yang kuat dari seorang Bahrudin yang melihat para tetangganya tidak mungkin menyekolahkan anak-anaknya ke SLTP, karena biaya masuk sekolah dan SPP bulanannya terasa memberatkan. Ketika itu, ia akan memasukkan anaknya, Hilmy, ke SLTP di Kota Salatiga. Ia menemui kenyataan bahwa biayanya cukup mahal, dan tidak sampai hati menyaksikan anaknya pergi ke sekolah sementara anak-anak tetangganya tak terperhatikan pendidikannya, maka ia mengajak warga sekitarnya untuk mendirikan sekolah SLTP terbuka, yang kemudian berkembang menjadi SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah.

SLTP itu menyebut diri “alternatif” karena mereka memang bisa dikatakan terlepas dari mainstreaming proses pembelajaran sebagaimana yang terjadi di sekolah-sekolah pada umumnya. Sekolah ini mempunyai prinsip dasar: 1) Pendidikan dilandasi semangat pembebasan dan perubahan yang lebih baik; 2) Keberpihakan kepada keluarga miskin; 3) proses belajar yang menyenangkan (egaliter); dan partisipasi semua pihak.

Dan sebagaimana yang dicita-citakan oleh penggagasnya, bahwa SLTP alternatif ini bercita-cita menjadi sekolah yang murah dan berkualitas. Pak Bahrudin menekankan bahwa lembaga pendidikan alternatif seyogyanya menyatu dengan lingkungan sosial dan alam sehingga secara langsung berkonribusi pada perwujudan masyarakat yang tangguh yang mampu mengelola dan mengontrol segala sumber daya yang tersedia beserta seluruh potensinya sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan dan kelestarian lingkungan serta kesetaraan laki-laki dan perempuan, atau masyarakat ilmu yang berkeadaban (hlm.37).

“Desaku, Sekolahku” adalah pilihan judul buku yang sangat tepat untuk menyebut konsepsi belajar yang terjadi di Desa Kalibening. Bahwa belajar tidak hanya di ruang kelas, tetapi bisa juga di kebun, di lapangan, di bengkel, di sawah, di pinggir kali, di dapur, di masjid, di rumah-rumah warga, dan seterusnya. Penulis, A.M.Nizar Alfian Hasan menemukan pesona tersendiri dari anak-anak SLTP yang mempunyai konsep sekolah ideal tidak terbatas pada bangunan sekolah, atau konsep ruang bangunan. Sekolah bagi anak-anak itu adalah rumah, ruang perpustakaan, dapur, halaman rumah sampai lingkungan alam desa dimana mereka hidup.

Proses belajar ditentukan sendiri oleh para murid dan kondisi yang nyaman serta menyenangkan dengan sendirinya tetap terjaga. Ternyata suasana informal justru sangat mendukung proses belajar yang kreatif, efektif dan menyatu dengan masyarakat.
Lompatan besar pun terjadi. Anak-anak SLTP alternatif ini dengan kesadaran baru tidak mengejar penilaian dan ijasah, melainkan pengetahuan dan kemampuan baru. Bukan kompetisi penilaian yang dibangun, melainkan kompetisi memahami pengetahuan dan membagikannya kepada kawan-kawan lainnya. Hanya 4 orang muridnya yang ikut Ujian Akhir Negara (UAN) 2006 yang lalu; itu pun tujuannya adalah penelitian. Persoalan pun dipecahkan bersama-sama.

Saya harus menyampaikan rasa salut saya kepada Bapak Roy Budhianto di Kota Salatiga yang mendukung pembelajaran anak-anak itu dengan menyediakan akses internet 24 jam gratis sebagai jendela wawasan dunia. Atas dukungan inilah anak-anak SLTP QT melesat cepat menjadi komunitas pengguna internet terbaik di dunia sejajar dengan tujuh komunitas dunia lainnya, seperti Kampung Issy Les Moulineauk di Perancis dan Kecamatan Mitaka di Tokyo—menurut peneliti Asia Pasific Telecommunity di Bangkok, Dr.Naswil Idris.

Action Day” adalah agenda belajar anak-anak SLTP untuk beraktivitas di lingkungan masyarakat secara langsung, misalnya meneliti dan menulis tentang sengketa mata air “Belik “ Luweng. Kegiatan ini menjadi ajang implementasi pengetahuan dan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya.

Tidak ada anggapan bahwa ada anak yang bodoh, yang ada adalah talenta dan ketertarikan yang berbeda-beda. Mereka tidak hanya belajar pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga belajar tentang kehidupan (humanisme). Tidak ada paksaan bahwa semua siswa harus menguasai pelajaran; kalau ternyata guru saja tidak harus menguasai bahan pelajaran. Hal ini mengingatkan saya pada situasi belajar di Tomoe, Jepang, pasca perang dunia kedua, sebagaimana digambarkan oleh Tetsuko Kuroyanagi dalam bukunya yang terkenal “Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela”. Dan seperti cita-cita Alm. Romo YB.Mangunwijaya yang sering saya dengarkan sebelum kepergiannya.

Proses belajar ini telah menghasilkan anak-anak berkualitas. Sebagian dari mereka sudah menulis beberapa novel dan buku ilmiah yang dipublikasikan oleh penerbit di Yogyakarta. Dan juga sering mendapatkan undangan untuk menjadi pembicara atau sekadar berbagi pengalaman. Beberapa karya mereka meliputi pembuatan film documenter dan film untuk belajar (pengetahuan), menerbitkan majalah E-lalang, berteater untuk masyarakat, dan mahir dalam multimedia. Mereka sudah menjadi bagian dari masyarakat kosmopolitan tetapi tetap mengakar di dunianya.Mereka telah berpikir global dan bertindak lokal (think globally, act locally).

Dalam buku ini tereksplorasi bagaimana anak-anak kelas-3 SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah mempunyai tugas akhir—sebagai pengganti UAN--untuk menandai kelulusannya dengan mengadakan dan menyelesaikan “disertasi” masing-masing. “Disertasi” itu antara lain Pengadaan Ruang Belajar, Studio Musik Bawah Tanah dan Kolam Belut di Rumah As’ad; Laboratorium Tanaman dan Pembuatan Briket Sampah di Rumah Amri; Ruang Belajar dan Budidaya Tanaman Obat di Rumah Ulfa; Ruang Belajar di Rumah Amik; “Menghidupkan” Kembali Kolam Renang Milik Keluarga Alm.Bapak Tafdil; Radio Sekolah dan Gudang/Bengkel Karya di Rumah Bapak Bahrudin; dan lain-lain.

Proses penulisan Tugas Akhir dalam studi Arsitektur di FT-UNS Surakarta ini perlu dijadikan contoh nyata, bahwa pembelajaran yang langsung melibatkan suatu masyarakat akan memberikan transformasi positif bagi kedua belah pihak. Penulis mengakui bahwa proses interaksi dengan komunitas, terutama anak-anak SLTP alternatif Qaryah Thayyibah mempuyai dampak pembelajaran yang memberikan pencerahan. Semuanya merasakan perubahan yang lebih baik.

Dan pada akhirnya, perlu diambil hikmahnya: bahwa belajar itu tidak mengenal batas ruang dan waktu, bahwa sekolah itu bisa murah dan berkualitas, dan tentunya dengan adanya semangat dan upaya yang kuat dari semua pihak. Inilah yang disebut Komunitas Belajar.



Djuneidi Saripurnawan,
RDC Plan Aceh, alumnus Studi Antropologi UGM Yogyakarta.


=============
sumber: 
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&dn=20070913153445

KETIKA SEKOLAH SEMAKIN MAHAL DAN MEMBOSANKAN

Read More

Kamis, 21 Februari 2019



"Sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat perlu dan mutlak memiliki tiga hal, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan”
(Soekarno, dalam Pidato Trisakti 1963)

Kemajuan zaman dalam arus besar peradaban manusia belakangan ini semata-mata kita terima sebagai definisi yang telah ditentukan oleh bangsa lain sehingga berakibat mundurnya gerak laju pembangunan watak bangsa yang sebelumnya dikenal sebagai kreator (pencipta) dengan kemampuan memaknai kemajuan secara mandiri. Begitu hebat dan halusnya pengaruh itu sehingga tanpa sadar kita telah terdorong pada  upaya global pengerdilan secara sistemik yang membuat kita tidak sempat untuk berpikir membuat atau menciptakan sesuatu karena sesuatu itu telah disediakan untuk sekadar kita pelajari bagaimana cara menggunakannya. Hal ini terjadi di semua lini kehidupan, entah itu budaya, ekonomi, politik, hukum, kenegaraan, pendidikan, dsb.

Kepercayaan diri sebagai manusia dengan fitrah kecerdasan identik dan juga sebagai bangsa yang konon berlatar sejarah panjang peradaban atlantis hingga kejayaan imperium sebesar Sriwijaya-Majapahit, kian memudar tatkala berhadapan dengan realitas zaman yang lambat kita persiapkan penyikapannya karena tak sempat memahami situasi dibalik kenyataan nir-kesadaran yang kita terima. Padahal jauh-jauh hari Bung Karno telah mengingatkan supaya ilmu pengetahuan modern dan sejarah kebudayaan Indonesia mutlak disandingkan agar bangsa ini mampu menjangkau kecenderungan masa depan sekaligus tetap berpijak pada landasan pengetahuan dan latar kebijaksanaan lokal yang telah dipunyai. Lalu bagaimana menyederhanakan penyelesaian atas polemik ini dalam kaitannya dengan usia kemerdekaan yang sudah bukan muda lagi saat ini?

Merdeka bermakna tak bergantung, selain juga berarti bebas dan mandiri menentukan nasib sendiri. Pada praktiknya kemerdekaan bukan hanya sebuah penerimaan pasif, akan tetapi lebih bernuansa upaya dan perjuangan terus menerus untuk bertahan pada sikap yang sepenuhnya dimengerti, disadari dan dilaksanakan. Kesadaran yang demikian akan mengantarkan sebuah keberanian menemu-kenali jatidiri, memulai sebuah langkah menegakkan eksistensi yang berakar dari hal-hal terkecil yang bahkan bisa jadi hanya berawal dari diri sendiri dan orang-orang terdekat terlebih dulu. Ini akan menjadi basis kreatifitas dan ketekunan yang bakal susah diukur oleh siapa pun selain diri sendiri.

Sementara menepis ketergantungan terhadap keinginan mendapatkan segala sesuatu dengan cara membeli dan berbuat sesuatu atas dorongan imbalan adalah langkah awal menjabarkan makna kemerdekaan dalam keseharian. Nilai yang mendasarinya adalah rasa syukur atas pemberian Tuhan yang masih banyak kita kesampingkan akibat bingkai kecukupan yang tak sempat kita rawat. Kenikmatan apa lagi yang akan kita tuntut manakala ke-aku-an kita merebah serendah-rendahnya? Sementara kekosongan yang demikian justru akan memantik daya cipta kita sewajarnya, tak berlebihan, menepi pada batas terujung kesungguhan kita dalam merespon sumberdaya dan kemudahan yang telah dibentangkan-Nya di sekeliling kita.

Mandiri bukan lantas menjadikan kita berjarak dari lingkungan, baik alam ataupun sosial. Justru kemandirian menyertakan pondasi keterbukaan yang berarti meniscayakan keterkaitan satu sama lain. Kendali siapa saja dalam menyeimbangkan keduanya tentu berdampak pada terbangunnya sinergi tanpa batas, antara manusia dengan alamnya ataupun dengan sesamanya. Oleh sebab itulah sejak sekarang kita dapat tengok apa yang terpampang di depan mata keseharian kita. Sudahkah kita kembalikan semuanya pada ukuran, batasan dan kekuatan diri sendiri, baik itu sebagai individu ataupun entitas besar sebuah bangsa? Sedikit bekal sinau (belajar) agar tahu tentu tak cukup untuk membaca pantulan diri paling dekat tersebut, sebelum kita semua mau ngerti (paham) agar bijak dan titen (cermat) agar tepat.

Kita tidak usah terburu-buru berharap pada patron akademis ataupun politis ketika bicara praktik sederhana, karena di sekitar kita sebetulnya telah disiapkan pakar-pakar organis (yang muncul alami, dengan sendirinya) sesuai dengan warna identik masing-masing. Andai saja setiap sarjana atau insan akademis mau “turun” dan berhadapan langsung dengan persoalan dan penemuan solusi di lingkungan terkecil masing-masing (semisal lingkup RT), sebetulnya itu pun sudah cukup menjanjikan. Sementara kekuatan asli masyarakat kita dalam mengupayakan solusi sebetulnya terletak pada sinergi dan saling berbagi keterbukaan dalam “institusi” yang dinamai rembug (musyawarah). Saat kualitas musyawarah dan intensitasnya dapat terjaga, pastilah akan tergelar butir-butir solusi dan muncul pakar-pakar yang mengerti betul situasi dan kebaikan yang akan diperoleh.

Keluarga dan komunitas pada akhirnya menjadi benteng terakhir paling riil (nyata) sekaligus basis permulaan membangun perubahan paradigma kemerdekaan sebagaimana tergambar di atas. Mari kita selalu perbarui kesempatan makan bersama seluruh anggota keluarga (orangtua, anak dan anggota keluarga lainnya) dengan memanfaatkannya sekaligus sebagai ruang rembug sesungguhnya, di mana kedaulatan politik tiap anggota keluarga dapat termanifestasikan dan menempati posisi sebenarnya. Begitu pula forum-forum musyawarah warga, kelompok-kelompok arisan, perkumpulan-perkumpulan do’a dan peribadatan, akan menjadi aktual dan berdaya manakala persoalan-persoalan riil diangkat dan diselesaikan secara bersama, tanpa menunggu, tanpa bergantung pada kemudahan (fasilitas) dari liuar (eksternal). Kalaupun ada keterkaitan antar pihak maka sifatnya adalah hubungan mutual yang bersejajar, saling menjamin, saling memerdekakan satu sama lain. Syukur-syukur jika di mana saja komunitas-komunitas warga masyarakat mampu menyelenggarakan solusi-solusi bergayut (berkonteks) lokal dengan kesungguhan mengelola sumberdaya yang sudah ada di wilayah masing-masing, lalu jejaringnya tumbuh secara positif, maka akan jadi penyeimbang solusi yang tidak melulu bergantung pada negara.

Singkat kata telah lewat sekitar 50-an tahun silam, Bung karno—salah seorang sosok sentral di antara para pendiri bangsa ini—telah mengampanyekan tiga paradigma tersebut, paradigma mendasar yang menjelaskan makna progresif (gerak-maju) kemerdekaan bagi bangsa besar yang pada saat itu baru 18 tahun bersepadu-seharap membangun negara. Sampai di sini saya jadi teringat pada obrolan tengah malam dengan Mbah Wandi, sosok marginal (tersisih) di kampung yang tekun mengemban “amanat” alam bersebadan dengan Bumi Sepanggang, pada medio Agustus tahun ini. Beliau banyak berwasiat, salah satunya tentang “…tidak cukup kita jalani hidup berbekal tujuan, yang lebih penting lagi adanya gerak yang membuat kita tak pernah berhenti, sekecil apapun jika terus menerus pasti akan sampai.” Untuk itulah kemerdekaan niscaya senantiasa beranjak. Merdekalah dengan terus bergerak, karena kalau tidak berarti berhenti!

Bumi Sepanggang, 7-25 Agustus 2017

===============
*dimuat dalam Buletin Literasi Kemuning edisi kedua, Agustus 2017 dan dibacakan dalam Khutbah Jum'at di Masjid Baitullah Pokoh-Ngijo, 17 Agustus 2018

KEMERDEKAAN YANG SENANTIASA BERANJAK

Read More

: menyapa harapan dan kecemasan



Mingkar mingkuring angkara, akarana karnan mardi siwi
Sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta
Aduh Gusti, pakartining ngilmu
Ingkang tumrap… ning ngalam dunya
Agama ageming aji

Sapa entuk wahyuning  Allah, gya dumilah mangulah ngelmu bangkit
Bangkit rikat reh mangukut, kukutaning jiwangga
Yen mangkono, kena sinebut wong sepuh
Lir ing sepuh… sepi hawa ...
Awas loro ning atunggil

Ingsun ing Ngarcapada, urip kudu nerima
Karsaning Sang Pangarsa, tuhu setya utama
Hong wilaheng sekareng bawana langgeng ... sekar mayang
Hong wilaheng sekareng bawana langgeng ... sekar kajang

(Lirik lagu “Sekar Mayang” – Gombloh pada tahun 1981, yang diserap dari “Serat Wredhatama”  Pupuh Pangkur bait I dan XII – K.G.P.A.A. Mangkunagara IV pada abad 19)


Mari kita petakan harapan—selayak makna mayang (bunga pinang) dalam tradisi Jawa yang kita diami—lalu membunyikan kecemasan secara lebih jujur. Sebab siapa saja kini boleh berpendapat, kapan saja, di mana saja. Bahkan kentut dan ingus kadal saja barangkali bisa memicu dialektika dan perdebatan luas di belahan dunia yang bukan habitatnya.  Alat bantu menyuarakannya pun sekarang bukan jadi kendala lagi, terdukung oleh kemutakhiran teknologi dan industri media yang terus disempurnakan. Kita seperti  tengah dihadapkan pada suatu era yang dulunya begitu didamba-dambakan banyak orang. Ibarat tidak ada alasan lagi menjadi pecundang karena setiap kemauan pasti ada jalan. Banyaknya kemungkinan kiranya jauh melampaui hitungan dan bayangan. Hal ini terdukung dengan telah tersedianya segala fasilitas sebelum kita sendiri terpikir untuk apa kegunaannya.

Dunia ke depan seolah-olah begitu sempurna karena setiap orang mampu mengupayakan dan bertanggungjawab atas keberhasilannya sendiri.  Setiap mimpi dan hasrat purba manusia menemui jalan lapang. Jika mau, pencapaian kulminasi seseorang menjadi narasi aktual yang seolah tak terbantahkan di masa yang tak kenal lagi batas. Manusia kini betul-betul berada pada puncak piramida kendali atas dunia yang dihidupinya. Bahkan, manusia kian memupuk kepercayaan diri untuk menjangkau tuhan dalam ko-eksistensi yang profan, sebingkai dan selingkar dalam struktur ekologi yang imanen. Hal ini menimbulkan keniscayaan turunan bahwa transedensi tuhan tanpa sadar dinafikan pula oleh para pengagungnya.

Pada tahap berikut, segala bentuk kelembagaan (institusi) yang kemapanannya dibangun pada era sebelumnya, belakangan ini dikritisi atau bahkan dirobohkan eksistensinya. Segala sistem yang pada mulanya dikembangkan untuk mengatur dan mengoptimalkan kemudahan menjalankankan kehidupan mekanis dan terprediksi, pada akhirnya berbalik membebani dan justru menambah panjang lintasan mencapai tujuan. Lalu bersama-sama kita sedang menuju peradaban masyarakat permisif yang serba boleh. Ekspresi dan respon sosial kita barangkali menunjukkan seberapa pekat ekstase kesadaran kita atas situasi yang sedang terjadi. Kita dituntun terlalu jauh meninggalkan mata angin kearifan dan ketajaman penghayatan  terhadap keniscayaan konteks, sesuatu yang dulu menjadi bahan baku intelektual nenek moyang membangun peradaban nan gemilang. Kita terlanjur terpukau oleh keampuhan bumerang nalar diri yang buas, menggulung dan menerjang bak tsunami.

Sebentar saja kita tengok, drama kolosal yang terpampang di layar keseharian kita. Sekolah-sekolah semakin banyak dan maju, tetapi tidak lantas membuat akses pendidikan menjadi semakin mudah terjangkau, alih-alih mencerdaskan anak-anak terbelakang dan papa. Rumah-rumah sakit baru dan apotek-apotek kian menjamur seiring pertumbuhan sebuah daerah. Namun itu juga tidak lantas menyurutkan antrean inap pasien dan jumlah orang sakit dengan ketergantungan medis.  Masjid-masjid dan tempat-tempat ibadah lain tiap tahun bertambah, lebih megah dan semakin berdekatan jaraknya. Akan tetapi tidak serta-merta kemajuan seperti itu membuat kohesi moral dan spiritualitas umat beragama berdampak nyata secara sosial. Ada indikasi kejumudan pada hal-hal yang sebetulnya lebih prinsipil namun tak tampak. Bukan pada keberadaan dunia seisinya atau progresi peradaban yang mengalami percepatan hebat ini. Bukan pula tentang gairah dan kemauan siapapun untuk menjadi lebih baik, entah sebagai diri pribadi ataupun komunal. Tetapi kejumudan dalam pertumbuhan makna dan hakikat kemanusiaan itu sendiri.

Di balik kepercayaan-dirinya yang melambung, manusia pada dasarnya sedang mengalami dekadensi status dan identitas. Gejala kerisauan itu begitu meluap di benak dan perilaku generasi-generasi paska-kolonial atau kita kenal pula sebutan millennial. Mereka adalah generasi yang terpapar kemajuan budaya informasi dan teknologi digital di saat belum genap kesadaran dirinya terbangun. Daya tarik kekinian sedang menghisap nyaris keseluruhan perhatian mereka atas diri sendiri, lingkungan dan wawasan-wawasan yang mengisi ruang-ruang kosong dalam jiwa bernama “kerisauan” tersebut. Orang-orang tua, para remaja dan bahkan anak-anak tidak ada bedanya merespon kegagapan atas dunia yang begitu baru ini dengan “terpukau” dan “melenting” ke segala arah. Terjadi pula banyak “para pencari” yang terlalu sedikit membawa bekal kesadaran dan ketekunan berproses, meskipun kegairahannya begitu segar dan menyala. Semua dihadapkan pada kerisauan tentang bagaimana memahami dunia yang ada di sekeliling mereka. Perubahan-perubahan yang terjadi, pembaruan-pembaruan yang dijuangi adalah pergerakan masif yang masih berkutat pada bagaimana merespon rangsangan dari luar itu.

Pada akhirnya karena tulisan ini bukan hendak menjawab, kita perlu kembali bersandar pada bangun pribadi masing-masing. Kita perlu lebih banyak menyelam ke palung kesadaran, baik sebagai individu ataupun komunitas, secara mandiri atau bersama-sama. Kita perlu terus belajar mengembalikan kenyataan-kenyataan yang masih terserak dan sebagian terlanjur terbang bersama angin. Kita perlu menyadari betul bahwa takdir manusia adalah belajar segala hal untuk menyeimbangkan pemahaman atas realitas sekelilingnya. Tapi kita adalah bagian dari sebuah proses maha-panjang penemuan jati-diri ras “makhluk berpikir dan berdiri tegak” yang kita sendiri menyebutnya manusia ini. Sebagai bangsa, kita punya konteks sendiri yakni kegayutan atas capaian-capaian yang telah diraih para pendahulu kita, di tanah air ini bukan di tempat lain. Kita punya rasa, kearifan dan tradisi nalar yang juga paripurna sebetulnya. Kita generasi sekarang ini, perlu lebih giat menempa kematangan jiwa dan kesadaran batin yang terus menerus. Supaya kita tidak hanya menjadi juru gaduh, tukang caci, atau ahli cela yang terasing dari kedamaian, persaudaraan, keindahan, keteladanan dan kebijaksanaan pada fragmen kemajuan yang bukan pada kita kendali kesadarannya.

“Apakah barangkali aku telah terasing dari bangsaku? Mengapa aku lalu merasa gusar melihat hal-hal yang memenuhi hidup mereka, yang sangat mereka lekati? Mengapa aku kerap menganggap hal-hal yang bagi mereka mengandung keindahan dan menumbuhkan perasaan halus justru tak punya arti dan jelek?” (Sutan Syahrir)

Patutnya kerisauan atau kecemasan, sebagaimana Syahrir di atas ketika merenungkan tugas-panggilannya dalam perjuangan mengangkat bangsanya dari keterbelakangan dan penjajahan. Dia selalu melihat pembangunan bangsa pada akar-akar kebudayaan serta keyakinan dasar yang lebih dalam daripada pembangunan material belaka. Sedangkan kita?


Bumi Sepanggang, 26 Agustus 2018

============================
(dimuat pada edisi ketiga Buletin Literasi Kemuning, September 2018)

GEGAR SEKAR MAYANG

Read More




Lestari alamku, lestari desaku
Di mana Tuhanku menitipkan aku
Nyanyi Bocah-bocah di kala purnama
Nyanyikan pujaan untuk nusa

Damai saudaraku suburlah bumiku
Ku ingat ibuku dongengkan cerita
Kisah tentang jaya nusantara lama
Tentram karta raharja di sana

(cuplikan lirik lagu Berita Cuaca – Gombloh)



Dua bait bernas yang pernah diciptakan dan dinyanyikan dalam durasi 5 menit 20 detik penuh penghayatan oleh almarhum seniman bernama asli Soedjarwoto Soemarsono tersebut serasa membeku tak koyak oleh waktu, mengingatkan kembali akan bentang ekosistem di sekitar kita yang sedang merintih hebat saat ini. Baiklah kalau memang fitrahnya alam seisinya ini berujung kerusakan (kiamat), akan tetapi apakah kita tak boleh memilih untuk mengawal sisa-sisa usianya itu karena memang menyongsong takdir maut-nya sendiri, bukan karena sakit atau kecelakaan disengaja akibat kelaian kita dalam kesungguhan merawatnya?

Kita hidup di zaman sekarang yang menuntut segalanya serba cepat, di mana waktu dieksploitasi atas nama efisiensi dan produktifitas maksimal. Yah eksploitasi, karena mengeksploitasi waktu berbanding lurus dengan tindakan eksploitasi yang sebenarnya, terhadap sumberdaya alam, manusia dan kehidupan sosial di sekitarnya. Sampai-sampai bicara umur makhluk hidup pun, dengan berlindung di balik kemegahan pengetahuan dan teknologi, menjadi  hal lazim sekarang  jika hewan ternak dan tanaman pangan kian diperpendek usia siap panennya. Berbeda dengan para pendahulu dengan kearifannya, masih sangat meyakini bahwa di dalam waktu ada keberkahan, bahwa menghayati setiap detik-detik perjalanan hidup adalah proses pencapaian ruhani yang membahagiakan. Lambat laun di era sekarang, kuasa waktu menunjukkan tanda-tanda dalam bentuk yang sebetulnya sudah sejak lama kita sadari. Jika apa yang kita makan saja diupayakan dengan berbagai cara agar bergegas cukup usia panennya dan masih ditambah pula supaya segera siap tersaji, maka sudah barang tentu tidak aneh jika saat sekarang banyak anak-anak kita yang lebih cepat dewasa secara fisik, tidak termasuk jiwanya. Badan bongsor jiwa kosong atau anak-anak kecil tak bisa menolak datangnya masa akil baligh lebih dini dari generasi sebelumnya. Lebih jauh sangat masuk akal bila kemudian kita dapati umur manusia saat ini semakin pendek hanya dari melihat fakta apa yang dimakan.

Banyak ragam penyakit baru bermunculan, menyertai kian banyak pula jenis makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita. Kita bukan hanya tak peduli lagi dari mana asal makanan dan minuman tersebut, tetapi bahkan ketika sudah tahu bahwa ada kandungan racun kimia sintetik atau bahan berbahaya bagi tubuh pun, tetap saja kita konsumsi. Kita juga terlanjur mengimani kemujaraban obat-obatan farmasi mampu lebih cepat menyembuhkan daripada racikan obat-obatan tradisional yang sejatinya lebih mampu bersenyawa dengan daya kesembuhan tubuh kita. Betapa dari segala lini ekologi tubuh kita pun terpapar sedemikian hebat bahan-bahan yang tak sempat kita ketahui sumbernya, sehingga tak terasa memalingkan keyakinan total kita akan datangnya kesembuhan dari Sang Pemberi sakit. Generasi-generasi pasca millenials pada akhirnya menderita semacam kutukan dari 2-3 generasi sebelumnya. Kita lihat pasca-2000 muncul kecenderungan anak-anak yang terlahir dalam kondisi berbeda, entah itu secara mental, fisik ataupun nalar. Dan semua ini bukan tanpa sebab jika kita mau menelusuri diorama sejarah pertanian dan pangan yang sejatinya kian memprihatinkan. Ketergantungan yang kian tak terbendung dari hulu ke hilir. Contoh paling sederhana bagaimana sebagian besar petani saat ini susah untuk mandiri mulai dari lahan, bibit, pupuk, pengendalian hama hingga pengelolaan pasca panen.

Perlu kembali kita sadari bahwa alam ini bagaikan keluarga yang mestinya harmonis dan hidup rukun. Kenyataannya manusia hidup sepenuhnya bergantung dari alam dan bahkan seringkali terlewat rakus dengan banyak menuntut dan memperkosanya. Pemaknaan bias atas waktu pada dzahir-nya menjadi sebab utama kerusakan di mana-mana. Bahan-bahan mineral dan logam diambil dari perut bumi semata-mata untuk menopang nafsu ingin “lebih cepat” tadi. Cara-cara budidaya yang menjadi dialog mutual manusia dan alam menjadi bukan pilihan karena memang lebih panjang rantai produksinya sehingga jauh lebih lambat daripada cara-cara eksplorasi dan eksploitasi langsung dari alam.  Alat dan mesin rakus energi dibuat termasuk kendaraan, lalu jalan-jalan dibangun dan selalu diperlebar untuk menampung pergerakannya. Hamparan tanah sejengkal ataupun berhektar-hektar dilapis perkerasan atau bahkan tertutup bangunan. Air hujan yang katanya berkah dianggap kotor dan mengganggu ketika menggenang sehingga nasibnya pun sama, bagaimana supaya air cepat kering tuntas lebih dipilih daripada dibiarkan sebentar menggenang agar meresap kembali ke tanah. Dedaunan dan bahan-bahan organik yang berserakan pun demikian, dianggap kotor dan tak-elok dipandang lalu jadi alasan untuk boleh disapu bersih dan lantas dibakar atau dibuang ke sungai, tanpa kita sadari bahwa merekalah sesungguhnya remah-remah rejeki yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa untuk kembali diserap nutrisinya oleh tetumbuhan.

Demikianlah ternyata selama ini kita masih lalai mengindahkan hukum alam. Terlalu cepat kita menyalahkan alam ketika bencana terjadi meluluh-lantakkan batin, sisi kemanusiaan dan juga kenangan. Sedangkan alam hanya berjalan menyesuai dengan Yang Maha Kuasa tetapkan. Air mendidih ketika dipanaskan pun demikian akan menjadi “bulldozer alami” yang dahsyat ketika tak berkesempatan memeluk kembali Sang Pertiwi. Begitulah cara alam menyampaikan pesan Ketuhanan yang masih selalu saja kita salah-artikan. Sedangkan lewat karya-karya sebagaimana cuplikan lagu di awal tulisan ini—kalau boleh dibilang—bisa menjadi bentuk peran-serta menyuarakan upaya penyatuan-diri yang paripurna dalam ekologi semesta. Kemunculan substansi dalam rupa wadag yang tak lagi penting seperti ini niscaya disandingkan dengan narasi utama yang menjadi keprihatinan kita bersama. Begitupun kita semua pada dasarnya punya kesempatan yang luas untuk berbuat sesuatu memuliakan sesama ciptaan, apa pun latar belakang kita senyampang menyadari kesempatan itu. Jika ditelisik lebih dalam dua bait di atas, lihat saja bagaimana perhatian dan apresiasi jujur atas keberadaan dan saling sinergi antara ekosistem alam, ekosistem sosial, ekosistem spiritual, ekosistem kebangsaan, ekosistem pendidikan dan keteladanan dapat menyatu-padu dalam satu pesan atau peringatan bahwa senjakala ekologi niscaya datang lebih cepat manakala kita mengabaikan atau bahkan meremehkannya.


Bumi Sepanggang, 31 Mei – 8 Juni 2017


==================

* Tulisan ini hanya mengabarkan beberapa catatan dengan keterbatasan daya rekam saya dari pengalaman dan wawasan para sahabat dan guru winasis yang tak kuasa saya sebut satu-persatu, teriring doa untuk beliau semua dan mohon maaf apabila ada kesalahan dalam saya merekamnya;

**Dimuat dalam edisi perdana #jagalawu, Buletin "Literasi Kemuning", sebuah media komunitas nir-laba yang dikelola oleh Komunitas Kamar Kata Karanganyar;

*** Sumber Foto: https://i0.wp.com/santrijawa.com/wp-content/uploads/2018/04/konsep-ekologi.jpg?ssl=1

SENJAKALA EKOLOGI

Read More