Sabtu, 25 Juli 2020

Oleh: Ahmad M. Nizar Alfian Hasan



"Sekolahku nanti kelas-kelasnya akan disebar ke rumah-rumah penduduk. Sehingga sekolah cukup menyediakan fasilitas-fasilitas pendukung saja, seperti perpustakaan, gudang, ruang internet, komputer, dan lain-lain." (Hilmy)

Belakangan ini saya teringat kembali dengan suasana malam itu, duduk bersebelahan dengan anak laki-laki usia SMP, diterangi temaram lampu sebuah angkringan, pada satu sudut trotoar Taman Pancasila Kota Salatiga. Malam itu kami berdua cukup dalam menggagas masa depan sekolah alternatif yang menjadi tempat anak itu belajar, di sebuah desa yang masih kental dengan iklim pesantren dan pertanian.

Tak terasa waktu berjalan 14 tahun sejak perbincangan itu terjadi. Apa yang kami bicarakan dulu seolah terkabul jawabannya di masa pandemi ini. Segala hal terkait dengan formalitas sekolah harus tertunda untuk waktu yang tak bisa diprediksi. Sudah hampir lima bulan anak-anak sekolah berdiam diri di rumah, melewati pergantian tahun ajaran yang betul-betul berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Tahun ajaran baru dimulai, dengam begitu banyaknya problematika pelaksanaan yang terjadi.

Empat belas tahun bukanlah waktu singkat untuk berkembangnya teknologi yang seharusnya paling dulu menunjang keniscayaan desentralisasi pembelajaran yang secara eksplisit terkandung dalam kutipan di awal tulisan ini. Tetapi nampaknya persoalan sesungguhnya tak seremeh itu. Pendidikan bukan hanya tentang ketersediaan jaringan internet ataupun kelihaian seorang murid dan guru menggunakan gadget. Butuh sikap dan penyesuaian yang lebih mendasar untuk memaknai pendidikan anak di masa pandemi ini sebagai adaptasi guna menyiapkan satu keutuhan sistem yang lebih sesuai di kemudian hari.

Kita patut berbangga memiliki menteri pendidikan yang menjiwai kecenderungan masa depan teknologi, tetapi kita pun tak kurang prihatin dengan adanya kesenjangan konteks dengan kenyataan yang ada di negeri ini. Ketika tetap saja pendidikan terkebiri maknanya hanya sebagai sekolah, yang mengharuskan para siswa bergulat dengan tuntutan hapalan dan kompetisi, maka bakal lebih banyak anak-anak yang terpinggirkan dari amanat konstitusi.

Terbersit satu harapan yang tumbuh bersama kemampuan masyarakat mengatasi persoalannya sendiri, termasuk sekadar memikirkan kegiatan yang lebih bermakna daripada bermain gadget dan menonton televisi. Orangtua-orangtua yang masih mau menyisihkan lebih banyak waktunya untuk anak-anak, mengingatkan saya pada hirarki pendidikan yang sepenuhnya menjadi kewajiban keluarga. Orangtua-orangtua yang mau terbuka berdialog dan berbagi peran dengan warga lainnya, membangun suatu ekosistem pendidikan lewat kegiatan bersama, sanggar kreatif, taman baca, komunitas belajar, atau sekadar menyediakan ruang-ruang interaksi yang membangun mental belajar anak pada satu lingkungan, mengingatkan saya pada buku 'Desaku Sekolahku' yang terbit setahun setelah terjadinya perbincangan di awal tulisan ini.

Mungkin sudah saatnya kita harus kembali menjajaki kemungkinan bentuk sekolah yang betul-betul baru. Tidak hanya berubah piranti, tetapi juga secara radikal bertransformasi, menjelajahi konteks-konteks yang unik di setiap tempat dan keadaan. Fungsi negara dalam hal ini cukup memfasilitasi tumbuhnya kesadaran baru tersebut, lewat kerjasama dan kemudahan birokrasi yang efektif. Jadi, justru bukan dengan membuat program hibah kompetisi yang penuh dengan tendensi. Sehingga jalan menuju era baru pendidikan yang lebih membumi niscaya hadir tak lama lagi. (ian) ***


Sepanggang, 25 Juli 2020




DESAKU SEKOLAHKU DAN HAL-HAL YANG BELUM SELESAI

Read More

Jumat, 17 Juli 2020

Refleksi Diskusi ke[kalang]an #2
(sebuah narasi tentang ketukangan)



Pada awalnya, sempat saya berpikir, "Nggak salah nih, IAI Solo mengundang Pak Paulus Mintarga dan Mas Yoshi Fajar Kresno Murti jadi pembicara?" Sebab saya menduga, apa yang bakal disampaikan keduanya secara bersamaan bakal menggedor kemapanan cara pandang arus utama, baik itu dari praktisi profesional ataupun mahasiswa.

Tetapi saya tetap berharap banyak dengan gairah IAI Solo belakangan ini, yang produktif membuat acara dengan mengundang khalayak. Sedangkan kali ini saya hanya akan merefleksikan sebagian kecil pemahaman yang saya dapat dari dua narasumber berkompeten dalam kegiatan diskusi itu. Kebetulan dua-duanya telah bergelut dengan praktik 'ketukangan' selama 15 tahun (mungkin lebih) dan tentu saja 'menghadiahkan' jejak karya arsitektural yang terbilang kaya dengan pengetahuan yang dapat ditularkan. Semoga tidak salah dalam saya menduga.

Secara dangkal saya membedakan antara Pak Paulus yang banyak bereksplorasi tentang kesadaran site dan material, sedangkan Mas Yoshi lebih dalam lagi menyelami esensi dan cara pandang arsitektur terhadap keberlangsungan kehidupan nyata. Terasa sekali, perspektif kedua pembicara menjelaskan perihal 'nilai' arsitektur yang melampaui batasan tubuh (fisik) yang tampak. Lebih-lebih Mas Yoshi yang hanya menempatkan perwujudan arsitektur tak lebih sebagai dampak logis belaka, bukan sebagai tujuan.

Sedikit meringkas tema mendasar yang Mas Yoshi bawa mengenai 'ugahari' dan ketukangan, sebagai konsep laku dan pikir yang berdampak luas lagi holistik, menyentuh segala aspek sosial, budaya, ekonomi dan politik yang lekat terhadap konteks ruang ataupun waktu. Saya bayangkan akan selalu ada pergerakan, yang melibatkan antar-pihak dalam setiap 'proyek' Mas Yoshi. Ada sesuatu yang tertanam, terawat, lalu tumbuh menjadi sesuatu yang baru, namun juga masih terjelaskan kegayutannya dengan situasi sebelumnya. Semisal pertumbuhan pengalaman dan wawasan pemilik yang bisa dilihat dari sebelum dan sesudah rumahnya terbangun. Atau percepatan regenerasi keahlian dan ketrampilan memberdayakan potensi (tidak hanya material) setempat,  manakala antar-pihak terlibat aktif mengambil peran masing-masing dengan pas. Nah, kosakata 'pas' ini, yang kurang lebih sepadan dengan kata 'wangun' dalam bahasa Jawa, menjelaskan 'ugahari' sebagai satu konsep berpikir, metode dan hasil yang kelak terjadi.

Saya kembali teringat perihal 'ketukangan' dimaksud, yang barangkali masih sempat saya saksikan melekat pada generasi kakek saya. Tiga puluhan lampau, sangat lazim dijumpai alat pertukangan, pertanian, dan alat-alat dapur tersimpan di pawon. Sudah biasa seseorang selain bisa tandur, matun, derep, ngerek gabah, nggejik dhele, nyambat kambil, napen, ngayak, dondom, nguleg, ngungkal, ndeplok, dll, mereka juga menguasai keahlian-keahlian ketukangan kayu dan ketrampilan tangan lainnya. Berbagai macam 'skill' ketahanan hidup itu bahkan sejak dini dikenalkan pada anak-anak, laki ataupun perempuan. Sehingga bukan hal aneh ketika anak seusia TK-SD sudah biasa menggunakan lading (pisau), lalu beranjak secara bertahap menggunakan graji (gergaji), tatah (pahat), arit (sabit), dan sebagainya, untuk membuat mainan atau benda-benda lain. Sekarang, edukasi ketrampilan seperti itu bisa saja masih ada dan terjadi, namun sudah semakin sedikit dan tinggal tersisa di desa-desa pelosok saja. Analoginya, bagi generasi seumuran bapak-ibuk saya, memanjat kelapa dan nyilem ke dalam sumur sudah jadi ketrampilan yang jarang orang menguasai, turun sampai ke generasi saya tinggal daftar kosakata.

Mungkin masih jauh panggang daripada api, refleksi sangat singkat ini jika dikembalikan pada muatan acara. Lepas dari itu, saya seperti mendapatkan hawa segar dan pada akhirnya bisa bernapas lebih lega untuk kembali menyadari satu ekosistem yang betul-betul terasa dekat dan bisa dirasakan seperti ini. Hanya saja di akhir acara saya sempat berpikir kembali ke pertanyaan awal. Apalagi setelah mendengarkan beberapa pertanyaan dan tanggapan dari peserta. Saya berasumsi bahwa mahasiswa hanya akan mendapatkan sensasi permukaannya saja (seperti halnya saya), sementara praktisi akan menanggapinya secara pragmatis sebagai kontroversi beda arus yang hanya bisa dimaklumi pada ranah akademik. Semoga kali ini saya salah meletakkan asumsi.

Sebab pada kenyataannya meski apa yang dipaparkan oleh kedua pembicara lebih berupa gambaran praktik dan proses, apakah lalu mudah bagi peserta pada umumnya menerima itu sebagai bukan wacana? Karena ketika kedua hal itu belum pernah terselami sendiri, maka sebagaimana tulisan ini hanya akan menjadi pemahaman sia-sia saja, karena tidak ada 'pergerakan' apapun yang sesungguhnya terjadi.

Karanganyar, 7 Maret 2020

GERAK-DAMPAK DALAM ARSITEKTUR

Read More