Oleh: Ahmad M. Nizar Alfian Hasan
"Sekolahku nanti kelas-kelasnya akan disebar ke rumah-rumah penduduk. Sehingga sekolah cukup menyediakan fasilitas-fasilitas pendukung saja, seperti perpustakaan, gudang, ruang internet, komputer, dan lain-lain." (Hilmy)
Belakangan ini saya teringat kembali dengan suasana malam itu, duduk bersebelahan dengan anak laki-laki usia SMP, diterangi temaram lampu sebuah angkringan, pada satu sudut trotoar Taman Pancasila Kota Salatiga. Malam itu kami berdua cukup dalam menggagas masa depan sekolah alternatif yang menjadi tempat anak itu belajar, di sebuah desa yang masih kental dengan iklim pesantren dan pertanian.
Tak terasa waktu berjalan 14 tahun sejak perbincangan itu terjadi. Apa yang kami bicarakan dulu seolah terkabul jawabannya di masa pandemi ini. Segala hal terkait dengan formalitas sekolah harus tertunda untuk waktu yang tak bisa diprediksi. Sudah hampir lima bulan anak-anak sekolah berdiam diri di rumah, melewati pergantian tahun ajaran yang betul-betul berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Tahun ajaran baru dimulai, dengam begitu banyaknya problematika pelaksanaan yang terjadi.
Empat belas tahun bukanlah waktu singkat untuk berkembangnya teknologi yang seharusnya paling dulu menunjang keniscayaan desentralisasi pembelajaran yang secara eksplisit terkandung dalam kutipan di awal tulisan ini. Tetapi nampaknya persoalan sesungguhnya tak seremeh itu. Pendidikan bukan hanya tentang ketersediaan jaringan internet ataupun kelihaian seorang murid dan guru menggunakan gadget. Butuh sikap dan penyesuaian yang lebih mendasar untuk memaknai pendidikan anak di masa pandemi ini sebagai adaptasi guna menyiapkan satu keutuhan sistem yang lebih sesuai di kemudian hari.
Kita patut berbangga memiliki menteri pendidikan yang menjiwai kecenderungan masa depan teknologi, tetapi kita pun tak kurang prihatin dengan adanya kesenjangan konteks dengan kenyataan yang ada di negeri ini. Ketika tetap saja pendidikan terkebiri maknanya hanya sebagai sekolah, yang mengharuskan para siswa bergulat dengan tuntutan hapalan dan kompetisi, maka bakal lebih banyak anak-anak yang terpinggirkan dari amanat konstitusi.
Terbersit satu harapan yang tumbuh bersama kemampuan masyarakat mengatasi persoalannya sendiri, termasuk sekadar memikirkan kegiatan yang lebih bermakna daripada bermain gadget dan menonton televisi. Orangtua-orangtua yang masih mau menyisihkan lebih banyak waktunya untuk anak-anak, mengingatkan saya pada hirarki pendidikan yang sepenuhnya menjadi kewajiban keluarga. Orangtua-orangtua yang mau terbuka berdialog dan berbagi peran dengan warga lainnya, membangun suatu ekosistem pendidikan lewat kegiatan bersama, sanggar kreatif, taman baca, komunitas belajar, atau sekadar menyediakan ruang-ruang interaksi yang membangun mental belajar anak pada satu lingkungan, mengingatkan saya pada buku 'Desaku Sekolahku' yang terbit setahun setelah terjadinya perbincangan di awal tulisan ini.
Mungkin sudah saatnya kita harus kembali menjajaki kemungkinan bentuk sekolah yang betul-betul baru. Tidak hanya berubah piranti, tetapi juga secara radikal bertransformasi, menjelajahi konteks-konteks yang unik di setiap tempat dan keadaan. Fungsi negara dalam hal ini cukup memfasilitasi tumbuhnya kesadaran baru tersebut, lewat kerjasama dan kemudahan birokrasi yang efektif. Jadi, justru bukan dengan membuat program hibah kompetisi yang penuh dengan tendensi. Sehingga jalan menuju era baru pendidikan yang lebih membumi niscaya hadir tak lama lagi. (ian) ***
Sepanggang, 25 Juli 2020


