Pom Bensin batas kota. Sebuah mobil berpelat nomor cantik '7777' sedang dilayani. Kau yang sedikit kedinginan menyusul mengantri di sebelah mobil kinyis-kinyis itu. Sambil menurunkan standar sepeda motor, batinmu berkata, "Huh, apa pentingnya pelat nomor harus dipercantik? Aku tak habis pikir dengan orang-orang tolol yang masih menganggap hal-hal demikian itu perlu."
Pagi itu barangkali menjadi hari yang begitu penting sepanjang hidupmu, setidaknya untuk kepastian masa depanmu di umur yang sudah lewat seperempat abad ini. Yah, tibalah saatnya kau akan segera menapak satu anak tangga lagi untuk menjalani hidup dan idealisme yang selama ini kau bangun dan perjuangkan. Tapi setahuku ini bukan soal capaian karier atau ideologi kekinian, bukan, bukan itu. Ini soal merangkai sebuah jalan cerita, merangkai sebuah kisah yang akan terus berlanjut. Baiklah, dalam bahasamu yang lebih mudah kupahami, ini soal menjemput takdir pendamping hidup. Sesuai kata-katamu dulu, kau lebih memilih istilah demikian, karena menurutmu istilah cinta dan kasih, di luar sana sudah menjadi simbol belaka.
"Bukankah simbol hanya menjadi tempat bersembunyinya kebohongan dan kemunafikan?" begitu seringkali kau mendebat pikiran jamak teman-temanmu di kampus dulu, bahkan sempat sekali waktu ayahmu kau sangkal seperti itu, meskipun untuk hal yang berbeda.
Aku lihat saat ini kau telah berada di ambang kesangsian berkenaan dengan ketulusan sebuah simbol. Karena menurutmu begitu mudahnya akhir-akhir ini seseorang menggunakannya tanpa harus memetik pemahaman yang benar terlebih dahulu. Bahwa melaksanakan sebutir buah pikir jauh lebih penting daripada sibuk menyematkan simbol-simbol belaka. Meskipun begitu, mestinya kau tetap menyimpan rasa syukur, sebab kenyataan hidup yang kau terima melulu berpihak pada kisah hidup yang sedang kau bangun.
Kau sungguh bersemangat bahwa pada akhirnya apa yang kau yakini bakal terjadi hari ini. Bagaimana tidak? Aku yang sebentar lagi menjadi istrimu, sempurna sekali menjadi bagian dari kisah ini. Aku bukan keturunan orang kaya, pun terlahir dari orangtua yang memang tanpa embel-embel apa pun. Mereka bukan ningrat, bukan bangsawan, bukan kyai, bukan haji, bukan PNS, dan juga bukan tokoh lingkungan yang perkataannya menjadi racun bagi tetangga sekampung. Orangtuaku hanya kalangan biasa saja, yang juga berurusan dengan catatan kependudukan ataupun hampir saja terusir dari rumah kontrakan.
Tapi anehnya hal biasa semacam itu justru menjadikanmu kian mantap memilihku, atau lebih tepatnya memilih kami. Bukannya Ning Siti yang anaknya Kyai, Mbak Sekar yang saudaranya bupati, atau Mbak Ifah anak dosen yang terus saja mendekatimu.
Terkadang aku berpikir, hubungan kita yang sudah terjalin lima tahun ini punya andil juga membuatmu jadi seperti sekarang. Meskipun aku tahu kau sendiri sejak dulu memang sudah punya bakat keras kepala dan kelainan tertentu daripada kebanyakan laki-laki. Kau sendiri yang memilih untuk berpacaran dengan cara yang sebelumnya sudah kita sepakati, karena istilah pacaran itu kau sangkal pula maknanya.
"Pacaran tidak boleh mengurangi kemandirian kita semula, Wulan. Mari kita jalani saja apa adanya. Tak perlu mengancam kehangatan persahabatan dengan teman-teman kita sebelumnya. Bahkan kalau perlu kita berdua menjadi jembatan terjalinnya lingkaran pertemanan yang lebih lebar. Kau berteman dengan temanku, aku berteman dengan temanmu, bahkan sahabatku pun akan jadi kenal lalu jadi teman sahabat-sahabatmu, dan juga sebaliknya" Begitulah kira-kira caramu mengajakku berikrar kala itu.
Itulah mengapa, dalam masa itu aku jadi tak begitu beban ketika harus sering meninggalkanmu cukup lama, tidak hanya seminggu dua minggu. Entah karena kegiatan sanggar di kampus atau karena jadwal kuliah yang memang harus terus aku kejar. Kau tahu sendiri, mana mungkin aku harus menyia-nyiakan waktu dan doa kedua orangtuaku hanya untuk bermanja-manja denganmu. Haha, tapi aku ingat kau pernah marah-marah kepadaku. Kau bilang telah kau baca sms-ku dan sejak sore sudah kau siapkan kegembiraan diri menerima telponku malam itu. Kau marah karena aku hanya menanyakan cara bikin proposal, dan telepon aku tutup begitu saja karena telah kau jawab dan jelaskan pertanyaanku. Ah, mungkin itu karena kau sedikit rentan saja gara-gara sudah berbulan kita berjauhan kota tanpa sekalipun bertemu. Sementara aku pun terlalu canggung akibat terliputi kebahagiaan dengan sekadar mendengar suaramu dari telepon. Dan aku yakin kisah ini bakal membosankan jika terlalu larut dalam egomu dan luapan rasa hatiku yang seperti itu.
Kembali ke kisahmu. Rupanya kau sudah semakin dekat dengan kota kelahiranku. Sampai di perempatan dekat terminal, nyala lampu merah membuatmu harus mengurangi tarikan gas sepeda motor yang telah menemanimu lebih dulu dan lebih sering dari pada aku. Seketika matamu kembali tertumbuk pada pelat bernomor '3333' sebuah mobil keluaran terbaru yang keluar dari arah lain dan berbelok menjauhimu. Ingatanmu kembali ke nomor cantik yang kau temui di Pom Bensin batas kota tadi. Sambil mengendorkan genggaman tangan di stang sepeda motor, sudut bibirmu tertarik membocorkan sebuah senyuman yang hanya kau ketahui sendiri maksudnya.
"Ah, barangkali sekadar kebetulan, tapi juga apakah ada takdir sekonyol itu?" gumammu dalam hati.
Batinmu seperti meresahkan sesuatu yang sedang kau selidiki kepastiannya. Keresahan yang membuatmu beberapa menit tersilap dan baru menyadari keberadaanmu di antara arus satu arah kendaraan yang mengitari alun-alun kota kelahiranku. Satu putaran sia-sia terpaksa kau selesaikan tanpa sempat kau nilai apakah itu takdir atau sebuah kebetulan. Kau pun akhirnya sampai juga di depan pintu rumah orangtuaku. Satu persatu uluran sungkem kau berikan ke ayah-ibuku yang telihat biasa-biasa saja menyambutmu. Mereka cukup berbaik hati memberi waktu kau istirahat dengan suguhan teh hangat yang pasti kau tebak, itu buatanku.
"Lancar ya tadi perjalanan ke sini, Nak Tejo?"
"Yah, begitulah Pak, namanya juga hari Minggu."
Rupanya ayahku pun mencoba memantaskan kehangatan yang lain untuk memberimu ruang kenyamanan di ujung penantian kita ini.
***
Jelang sore. Rencananya sebelum pulang baru kau sampaikan maksud dan keperluanmu kepada orangtuaku.
"Mandi dulu saja gih Nak Tejo, biar seger dan nggak ngantuk di jalan!" kata ibuku yang sudah berlagak menaruh harapan kepadamu.
"Njih buk, terasa lengket juga ini, bau asap knalpot!" timpalmu.
Selama kau mandi, timbul minderku. Karena rumah orangtuaku memang tak seberapa luas. Hanya ada satu kamar, itupun hanya menyisakan ruang untuk terbukanya pintu, selain ranjang dan almari yang berdempetan tak keruan. Kadang aku yang menempati kamar itu, kadang juga adik perempuanku, tergantung siapa yang duluan merebahkan badan di situ. Sedangkan ayah ibuku tak punya kamar. Mereka beristirahat di ruang tengah yang hanya bersekat lemari pakaian. Kami memang sudah berpuluh tahun tinggal di sini, tapi baru setahun lalu rumah ini kami miliki. Itupun cicilannya masih harus kami tanggung hingga beberapa tahun ke depan.
Aku sadari bahwa kau bakal semakin dalam memasuki dunia yang sejatinya bukan dari mana asalmu. Asalmu dari keluarga cukup berada. Buyut dari ayahmu seorang nayakapraja sejak negeri ini belum merdeka, tentu bukan hal remeh yang harus kami terima. Sedangkan moyang dari ibumu seorang pemimpin tarekat yang makam dan keturunannya terjaga wibawanya, meskipun telah tiada. Tapi lagi-lagi kau katakan semua itu justru menjadi kemapanan yang kau resahkan sejak remaja. Aku ingat pernah kau sebut soal perpaduan feodalisme tradisi dan agama ketika membicarakan keluargamu. Sayangnya sampai sekarang tak juga aku pahami maksudnya, atau lebih tepat kukatakan bahwa sama sekali tak cukup wawasanku untuk memahami istilah semacam itu.
Yang aku tahu, kau begitu keras kepala dalam menjalankan prinsip. Termasuk kedatanganmu hari ini yang kisahnya sudah kau mulai sejak pagi tadi. Yah, pagi yang telah kau persiapkan bertahun-tahun lalu, bahkan mungkin sejak awal kita seolah-olah pacaran itu.
"Aku mau hubungan ini hanya untuk 5 tahun saja. Di tahun itu nanti, pilihan kita hanya ada dua: menikah atau cukup sampai di situ saja. Sudah aku bilang, di tahun itu segalanya telah siap dan tidak ada yang perlu ditunggu lagi. Jadi Wulan, tolong selalu ingatkan aku tentang hal ini."
Tugas itu telah aku laksanakan sebulan lalu. Setelah hampir dua tahun aku kembali ke kota kelahiranku ini. Kau pun telah bekerja di salah satu perusahaan yang kau rintis bersama sahabatmu. Kau juga pernah bilang bahwa akan memboyongku begitu kita telah menikah, hidup merantau, berdikari membina keluarga dan membesarkan anak-anak kita bersama irama kerinduan kepada kakek-neneknya. Sehingga baru sekarang aku sadari apa yang kau maksud dengan segala sesuatunya telah siap dan tak ada lagi yang perlu ditunggu.
"Gimana Nak Tejo, jadi mau pulang sekarang?" ayah menyambutmu yang baru saja selesai mandi.
"Njih pak, tapi sebelumnya mungkin saya mau 'matur' beberapa hal ke bapak-ibuk" sahutmu, sambil memasukkan baju kotor ke dalam tas.
"Ya sudah, Wulan kamu panggil ibukmu ke sini! Biar nanti sekalian Nak Tejo pamit, supaya ndak kemalaman di jalan."
"Ya, Pak!" aku bergegas menuruti perintah ayah.
Entah rasa apa yang sedang berkecamuk dalam batinku. Pada kesempatan yang paling kita tunggu ini, yang aku ingat hanya ketika kau jelaskan perihal rencana kedatangan orangtuamu sebulan lagi, berikut kemantapan hati dan sedikit riwayat pekerjaanmu sekarang. Mungkin kau sedang membangun kepercayaan diri atau semacam kehormatan diri sebagai lelaki. Bahwa sudah saatnya kau buktikan kesungguhan menjalani masa depan bersamaku, bersama kenyataan yang terhampar di hadapan kita nanti. Sedangkan pada saat seperti itu, aku sama sekali tidak ada keberanian untuk ikut bicara. Yang ku bisa hanya menatap bergantian wajah kalian bertiga, ayah, ibuk dan kau yang terlihat paling tegang daripada yang lain. Wajahmu terlihat rata merona dengan rambut yang telah kau rapikan dari biasanya panjang melebihi telinga. Ketukan kaki dan genggaman tanganmu tampak tak jenak, meskipun tanpa suara. Kesadaranmu keruh.
"Ah, sialan!" hatimu tiba-tiba mengumpat.
"Kenapa masih Kau ajak aku bercanda di saat seperti ini Tuhan?" Gerutumu pula, ketika mendapati kaos oblong dan celana kolor yang kau kenakan.
Nyala di batinmu seketika lindap, bersamaan saat nalarmu menjajaki bilangan kisah baru yang terkuak sebentar lagi.
***
ilustrasi : https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcQjgb7IMkqzwKLrQV-MHFnhpBr9yUrOwztfiwrdepMIfcF6X6Ax


0 komentar:
Posting Komentar