Kemungkinan Baru Memposisikan Diri Sebagai Arsitek
Apabila arsitektur hanya dipandang sebatas kemampuannya untuk menyediakan bangunan yang kokoh dan indah, lingkungan yang bersih dan tertata rapi, atau inovasi canggih dan terkini yang menjadi solusi atas problem-problem bangunan dan kawasan, tentu tidak salah kalau kemudian bidang ini sampai saat sekarang masih ‘berjarak’ dengan masyarakat kita yang beraneka suku, adat, kebiasaan, ataupun cara mereka beradaptasi dengan lingkungan, mengelola sumberdaya alam, menerima pengaruh dari luar dan tentunya juga menjalani kehidupannya secara wajar. Masyarakat sebagai ‘lembaga’ yang didukung oleh hadirnya individu-individu di dalamnya memiliki sikap dan kepribadian yang meniscayakan pandangan di atas. Oleh sebab itu peran arsitek sejauh ini masih terkungkung oleh definisi arsitektur sebagaimana kita warisi dari dunia barat, sehingga nampak gejala keterasingan di sini, di mana perlu satu pemahaman baru yang sanggup membuka diri terhadap problem eksistensial ini, antara arsitektur, masyarakat dan arsitek.
Ironisnya, harapan untuk munculnya sebuah pemahaman baru itu terganjal justru oleh kejumudan institusi yang melahirkan para ‘arsitek’, pragmatisme sebagian masyarakat akibat terjebak oleh paradigma yang terlanjur salah, dan pula penginformasian atas karya-karya arsitektur yang ujung-ujungnya tetap saja mendidik masyarakat untuk kian memberi perhatian penting terhadap pembelanjaan status, gaya hidup dan selera kekinian. Oleh karenanya, alternatif jalan keluar yang barangkali masih memungkinkan adalah melalui cara ber-‘arsitektur’ dengan kesadaran, entah itu sebagai arsitek ataupun sebagai masyarakat, di mana syarat utamanya adalah keterbukaan untuk menerima bahwasanya arsitektur tak lagi sekadar berbicara soal teknik, estetika atau ekonomi saja. Bahwa ber-arsitektur adalah kesadaran menjalani kehidupan dengan rasa, etika sekaligus logika yang hanya untuk menyiapkan diri berselaras dengan lingkungan alam dan sosial di sekitarnya. Sejauh yang dapat saya tangkap, semangat itulah sebetulnya yang ingin ditunjukkan dari tulisan di dalam buku Laporan Tugas Akhir ini.
Burhan, Sang Penulis buku ini pada awalnya hanya mengutarakan satu pertanyaan sederhana kepada saya sekitar setahun lalu, tentang esensi merancang kaitannya dengan sejauh mana lingkup peran arsitek dalam kehidupan nyata. Waktu berjalan dan pertanyaan itu berkali-kali hanya mendapatkan jawaban yang tak memadai dan samasekali tidak komprehensif. Sampai kemudian Burhan tergerak untuk memulai ‘pencarian’-nya sendiri, lewat proses dan kondisi yang dalam kacamata saya melampaui apa yang dibayangkan sebelumnya. Kini, nampaknya saya tak perlu lagi susah-susah untuk menjawab pertanyaan di atas, karena dengan apa yang telah ditulis Burhan dalam buku ini, meskipun saya yakin bahwa masih banyak hal yang tak tertulis di situ, justru semakin meluaskan cakrawala pemahaman saya dan semoga saja setiap orang yang kelak membaca buku ini.
Apa yang saya/orang lain pahami tentu jauh berbeda dengan pemahaman yang Burhan dapatkan selama menulis ini. Karena tulisan di buku ini hanyalah mampu mengungkapkan sebatas kemampuan bahasa—sebagai alat—menyampaikan. Apa yang terjadi sesungguhnya sangatlah kental diliputi oleh konteks ruang, waktu dan rasa, di mana subyektifitas dan obyektifitas tak dapat ditolak melebur dalam diri Burhan. Subyektif karena rangkaian proses yang terentang dalam tulisan panjang di buku ini ditulis oleh Burhan dari pengalaman personalnya sendiri. Obyektif karena faktanya semua yang ada di tulisan ini sungguh terjadi, di suatu tempat yang nyata, melibatkan pula figur-figur nyata, serta terdiri atas setting-setting kejadian yang tak hanya dialami oleh Burhan seorang. Sementara bahasa, apalagi bahasa tulis justru telah mereduksi hal tersebut. Sehingga bilamana perlu, silang pembuktian sangat memungkinkan dilakukan, untuk mengetahui keakuratan fakta yang Burhan tunjukkan.
Lepas dari itu semua, bagi saya hal terbesar dan menarik dari apa yang dilakukan Burhan dalam Tugas Akhirnya adalah bukan karena produknya baik itu Buku Konsep Tugas Akhir (saya lebih suka menyebutnya Laporan Tugas Akhir), gambar-gambar teknis, panel presentasi juga maket, yang oleh sebagian besar kalangan dosen dan mahasiswa dipandang tak sesuai format, bahkan tak ilmiah. Akan tetapi keseluruhan proses yang saya melihatnya sebagai satu lompatan prestasi dan perombakan cara berpikir yang tidak sepele, di mana di awal Burhan harus memulainya benar-benar dari nol. Saya ingat kegelisahan dia di awal-awal proses yang masih sangat luas cakupannya. Hingga kemudian mengerucut pada pilihan-pilihan yang mengharuskannya selalu belajar sesuatu hal yang betul-betul baru, antara lain: tentang ekologi, tentang pengorganisasian masyarakat, tentang pemberdayaan komunitas, tentang pendidikan, tentang fenomenologi, tentang bagaimana menulis sebuah cerita, tentang bagaimana secara natural bersikap dan berhadapan dengan orang-orang yang baru dikenal, tentang bagaimana menghayati sebuah perjalanan, tentang bagaimana menjelaskan sesuatu dalam bahasa awam, tentang bagaimana mengungkap fakta secara proporsional (tidak memihak), dsb.
Memasuki dunia naturalistik seperti ini, selalu melewati masa-masa gamang dan dis-orientasi. Tak ada satu pun ‘konsep’ yang mampu menuntun atau bisa dijadikan pegangan. Pada fase ini akselerasi proses belajar terjadi, di mana hanya ada satu naluri yang menggerakkan, yakni keingintahuan. Naluri inilah yang menurut saya barangkali memberi energi besar bagi Burhan untuk mencapai nilai tertinggi, yakni kemandirian. Satu nilai yang sebetulnya sama-sama menjadi tuntutan dalam mahasiswa menjalani Tugas Akhir, hanya saja melewati jalan yang berbeda.
Akan tetapi dari nilai kemandirian yang Burhan capai justru mampu menjadi jalan tersedianya duta bagi arsitektur pada umumnya dan khususnya arsitek—sementara Burhan masih mahasiswa, yang insyaAllah calon arsitek—untuk mulai membuka diri, mencoba kemungkinan-kemungkinan baru dalam berhubungan langsung dengan masyarakat. Bukan lagi kemandirian yang tercerabut dari akar persoalan di kehidupan nyata atau kemandirian yang menurut saya sia-sia untuk menjawab persoalan-persoalan yang asumtif atau lebih menyedihkan lagi duplikatif, sebagaimana Tugas Akhir mahasiswa Arsitektur pada umumnya. Oleh sebab itu, Tugas Akhir-Tugas Akhir seperti ini sudah saatnya mendapat tempat, agar tersedia peluang-peluang baru bagi Jurusan Arsitektur untuk lebih berkembang. Ada peluang perkembangan dari cara yang sudah berjalan, akan tetapi jauh lebih banyak peluang tersedia dari cara-cara yang belum pernah dilakukan. Sedangkan jaman demikian cepat bergerak, tentu siapapun tak mau terjebak dalam langkah-langkah yang nampaknya optimis, strategis dan terstruktur, sementara alam dan dunia bergerak dalam ketidakpastian dan ke-takterduga-an, dalam lompatan-lompatan peristiwa dan terobosan-terobosan peradaban yang memungkinkan apa yang sebelumnya tak mungkin. Niscaya kita akan memilih sesuatu yang lebih menjejak membumi, responsif terhadap permasalahan riil, dan kritis dalam menangkap gejala-gejala aktual, sehingga setidaknya dengan begitu kehadiran kita diperhitungkan dari kacamata yang lebih manusiawi, karya kita pun lebih orisinil dan tepat guna. Lalu apakah dengan mengikuti proses sedemikian panjang dari membaca Laporan Tugas Akhir ini, seorang mahasiswa Arsitektur seperti Burhan ini telah salah “memposisikan diri”?
Karanganyar, 20 Maret 2010
Ahmad M. Nizar Alfian Hasan
Apabila arsitektur hanya dipandang sebatas kemampuannya untuk menyediakan bangunan yang kokoh dan indah, lingkungan yang bersih dan tertata rapi, atau inovasi canggih dan terkini yang menjadi solusi atas problem-problem bangunan dan kawasan, tentu tidak salah kalau kemudian bidang ini sampai saat sekarang masih ‘berjarak’ dengan masyarakat kita yang beraneka suku, adat, kebiasaan, ataupun cara mereka beradaptasi dengan lingkungan, mengelola sumberdaya alam, menerima pengaruh dari luar dan tentunya juga menjalani kehidupannya secara wajar. Masyarakat sebagai ‘lembaga’ yang didukung oleh hadirnya individu-individu di dalamnya memiliki sikap dan kepribadian yang meniscayakan pandangan di atas. Oleh sebab itu peran arsitek sejauh ini masih terkungkung oleh definisi arsitektur sebagaimana kita warisi dari dunia barat, sehingga nampak gejala keterasingan di sini, di mana perlu satu pemahaman baru yang sanggup membuka diri terhadap problem eksistensial ini, antara arsitektur, masyarakat dan arsitek.
Ironisnya, harapan untuk munculnya sebuah pemahaman baru itu terganjal justru oleh kejumudan institusi yang melahirkan para ‘arsitek’, pragmatisme sebagian masyarakat akibat terjebak oleh paradigma yang terlanjur salah, dan pula penginformasian atas karya-karya arsitektur yang ujung-ujungnya tetap saja mendidik masyarakat untuk kian memberi perhatian penting terhadap pembelanjaan status, gaya hidup dan selera kekinian. Oleh karenanya, alternatif jalan keluar yang barangkali masih memungkinkan adalah melalui cara ber-‘arsitektur’ dengan kesadaran, entah itu sebagai arsitek ataupun sebagai masyarakat, di mana syarat utamanya adalah keterbukaan untuk menerima bahwasanya arsitektur tak lagi sekadar berbicara soal teknik, estetika atau ekonomi saja. Bahwa ber-arsitektur adalah kesadaran menjalani kehidupan dengan rasa, etika sekaligus logika yang hanya untuk menyiapkan diri berselaras dengan lingkungan alam dan sosial di sekitarnya. Sejauh yang dapat saya tangkap, semangat itulah sebetulnya yang ingin ditunjukkan dari tulisan di dalam buku Laporan Tugas Akhir ini.
Burhan, Sang Penulis buku ini pada awalnya hanya mengutarakan satu pertanyaan sederhana kepada saya sekitar setahun lalu, tentang esensi merancang kaitannya dengan sejauh mana lingkup peran arsitek dalam kehidupan nyata. Waktu berjalan dan pertanyaan itu berkali-kali hanya mendapatkan jawaban yang tak memadai dan samasekali tidak komprehensif. Sampai kemudian Burhan tergerak untuk memulai ‘pencarian’-nya sendiri, lewat proses dan kondisi yang dalam kacamata saya melampaui apa yang dibayangkan sebelumnya. Kini, nampaknya saya tak perlu lagi susah-susah untuk menjawab pertanyaan di atas, karena dengan apa yang telah ditulis Burhan dalam buku ini, meskipun saya yakin bahwa masih banyak hal yang tak tertulis di situ, justru semakin meluaskan cakrawala pemahaman saya dan semoga saja setiap orang yang kelak membaca buku ini.
Apa yang saya/orang lain pahami tentu jauh berbeda dengan pemahaman yang Burhan dapatkan selama menulis ini. Karena tulisan di buku ini hanyalah mampu mengungkapkan sebatas kemampuan bahasa—sebagai alat—menyampaikan. Apa yang terjadi sesungguhnya sangatlah kental diliputi oleh konteks ruang, waktu dan rasa, di mana subyektifitas dan obyektifitas tak dapat ditolak melebur dalam diri Burhan. Subyektif karena rangkaian proses yang terentang dalam tulisan panjang di buku ini ditulis oleh Burhan dari pengalaman personalnya sendiri. Obyektif karena faktanya semua yang ada di tulisan ini sungguh terjadi, di suatu tempat yang nyata, melibatkan pula figur-figur nyata, serta terdiri atas setting-setting kejadian yang tak hanya dialami oleh Burhan seorang. Sementara bahasa, apalagi bahasa tulis justru telah mereduksi hal tersebut. Sehingga bilamana perlu, silang pembuktian sangat memungkinkan dilakukan, untuk mengetahui keakuratan fakta yang Burhan tunjukkan.
Lepas dari itu semua, bagi saya hal terbesar dan menarik dari apa yang dilakukan Burhan dalam Tugas Akhirnya adalah bukan karena produknya baik itu Buku Konsep Tugas Akhir (saya lebih suka menyebutnya Laporan Tugas Akhir), gambar-gambar teknis, panel presentasi juga maket, yang oleh sebagian besar kalangan dosen dan mahasiswa dipandang tak sesuai format, bahkan tak ilmiah. Akan tetapi keseluruhan proses yang saya melihatnya sebagai satu lompatan prestasi dan perombakan cara berpikir yang tidak sepele, di mana di awal Burhan harus memulainya benar-benar dari nol. Saya ingat kegelisahan dia di awal-awal proses yang masih sangat luas cakupannya. Hingga kemudian mengerucut pada pilihan-pilihan yang mengharuskannya selalu belajar sesuatu hal yang betul-betul baru, antara lain: tentang ekologi, tentang pengorganisasian masyarakat, tentang pemberdayaan komunitas, tentang pendidikan, tentang fenomenologi, tentang bagaimana menulis sebuah cerita, tentang bagaimana secara natural bersikap dan berhadapan dengan orang-orang yang baru dikenal, tentang bagaimana menghayati sebuah perjalanan, tentang bagaimana menjelaskan sesuatu dalam bahasa awam, tentang bagaimana mengungkap fakta secara proporsional (tidak memihak), dsb.
Memasuki dunia naturalistik seperti ini, selalu melewati masa-masa gamang dan dis-orientasi. Tak ada satu pun ‘konsep’ yang mampu menuntun atau bisa dijadikan pegangan. Pada fase ini akselerasi proses belajar terjadi, di mana hanya ada satu naluri yang menggerakkan, yakni keingintahuan. Naluri inilah yang menurut saya barangkali memberi energi besar bagi Burhan untuk mencapai nilai tertinggi, yakni kemandirian. Satu nilai yang sebetulnya sama-sama menjadi tuntutan dalam mahasiswa menjalani Tugas Akhir, hanya saja melewati jalan yang berbeda.
Akan tetapi dari nilai kemandirian yang Burhan capai justru mampu menjadi jalan tersedianya duta bagi arsitektur pada umumnya dan khususnya arsitek—sementara Burhan masih mahasiswa, yang insyaAllah calon arsitek—untuk mulai membuka diri, mencoba kemungkinan-kemungkinan baru dalam berhubungan langsung dengan masyarakat. Bukan lagi kemandirian yang tercerabut dari akar persoalan di kehidupan nyata atau kemandirian yang menurut saya sia-sia untuk menjawab persoalan-persoalan yang asumtif atau lebih menyedihkan lagi duplikatif, sebagaimana Tugas Akhir mahasiswa Arsitektur pada umumnya. Oleh sebab itu, Tugas Akhir-Tugas Akhir seperti ini sudah saatnya mendapat tempat, agar tersedia peluang-peluang baru bagi Jurusan Arsitektur untuk lebih berkembang. Ada peluang perkembangan dari cara yang sudah berjalan, akan tetapi jauh lebih banyak peluang tersedia dari cara-cara yang belum pernah dilakukan. Sedangkan jaman demikian cepat bergerak, tentu siapapun tak mau terjebak dalam langkah-langkah yang nampaknya optimis, strategis dan terstruktur, sementara alam dan dunia bergerak dalam ketidakpastian dan ke-takterduga-an, dalam lompatan-lompatan peristiwa dan terobosan-terobosan peradaban yang memungkinkan apa yang sebelumnya tak mungkin. Niscaya kita akan memilih sesuatu yang lebih menjejak membumi, responsif terhadap permasalahan riil, dan kritis dalam menangkap gejala-gejala aktual, sehingga setidaknya dengan begitu kehadiran kita diperhitungkan dari kacamata yang lebih manusiawi, karya kita pun lebih orisinil dan tepat guna. Lalu apakah dengan mengikuti proses sedemikian panjang dari membaca Laporan Tugas Akhir ini, seorang mahasiswa Arsitektur seperti Burhan ini telah salah “memposisikan diri”?
Karanganyar, 20 Maret 2010
Ahmad M. Nizar Alfian Hasan












