Selasa, 26 Februari 2019

Kemungkinan Baru Memposisikan Diri Sebagai Arsitek



Apabila arsitektur hanya dipandang sebatas kemampuannya untuk menyediakan bangunan yang kokoh dan indah, lingkungan yang bersih dan tertata rapi, atau inovasi canggih dan terkini yang menjadi solusi atas problem-problem bangunan dan kawasan, tentu tidak salah kalau kemudian bidang ini sampai saat sekarang masih ‘berjarak’ dengan masyarakat kita yang beraneka suku, adat, kebiasaan, ataupun cara mereka beradaptasi dengan lingkungan, mengelola sumberdaya alam, menerima pengaruh dari luar dan tentunya juga menjalani kehidupannya secara wajar. Masyarakat sebagai ‘lembaga’ yang didukung oleh hadirnya individu-individu di dalamnya memiliki sikap dan kepribadian yang meniscayakan pandangan di atas. Oleh sebab itu peran arsitek sejauh ini masih terkungkung oleh definisi arsitektur sebagaimana kita warisi dari dunia barat, sehingga nampak gejala keterasingan di sini, di mana perlu satu pemahaman baru yang sanggup membuka diri terhadap problem eksistensial ini, antara arsitektur, masyarakat dan arsitek.

Ironisnya, harapan untuk munculnya sebuah pemahaman baru itu terganjal justru oleh kejumudan institusi yang melahirkan para ‘arsitek’, pragmatisme sebagian masyarakat akibat terjebak oleh paradigma yang terlanjur salah, dan pula penginformasian atas karya-karya arsitektur yang ujung-ujungnya tetap saja mendidik masyarakat untuk kian memberi perhatian penting terhadap pembelanjaan status, gaya hidup dan selera kekinian. Oleh karenanya, alternatif jalan keluar yang barangkali masih memungkinkan adalah melalui cara ber-‘arsitektur’ dengan kesadaran, entah itu sebagai arsitek ataupun sebagai masyarakat, di mana syarat utamanya adalah keterbukaan untuk menerima bahwasanya arsitektur tak lagi sekadar berbicara soal teknik, estetika atau ekonomi saja. Bahwa ber-arsitektur adalah kesadaran menjalani kehidupan dengan rasa, etika sekaligus logika yang hanya untuk menyiapkan diri berselaras dengan lingkungan alam dan sosial di sekitarnya. Sejauh yang dapat saya tangkap, semangat itulah sebetulnya yang ingin ditunjukkan dari tulisan di dalam buku Laporan Tugas Akhir ini.

Burhan, Sang Penulis buku ini pada awalnya hanya mengutarakan satu pertanyaan sederhana kepada saya sekitar setahun lalu, tentang esensi merancang kaitannya dengan sejauh mana lingkup peran arsitek dalam kehidupan nyata. Waktu berjalan dan pertanyaan itu berkali-kali hanya mendapatkan jawaban yang tak memadai dan samasekali tidak komprehensif. Sampai kemudian Burhan tergerak untuk memulai ‘pencarian’-nya sendiri, lewat proses dan kondisi yang dalam kacamata saya melampaui apa yang dibayangkan sebelumnya. Kini, nampaknya saya tak perlu lagi susah-susah untuk menjawab pertanyaan di atas, karena dengan apa yang telah ditulis Burhan dalam buku ini, meskipun saya yakin bahwa masih banyak hal yang tak tertulis di situ, justru semakin meluaskan cakrawala pemahaman saya dan semoga saja setiap orang yang kelak membaca buku ini.

Apa yang saya/orang lain pahami tentu jauh berbeda dengan pemahaman yang Burhan dapatkan selama menulis ini. Karena tulisan di buku ini hanyalah mampu mengungkapkan sebatas kemampuan bahasa—sebagai alat—menyampaikan. Apa yang terjadi sesungguhnya sangatlah kental diliputi oleh konteks ruang, waktu dan rasa, di mana subyektifitas dan obyektifitas tak dapat ditolak melebur dalam diri Burhan. Subyektif karena rangkaian proses yang terentang dalam tulisan panjang di buku ini ditulis oleh Burhan dari pengalaman personalnya sendiri. Obyektif karena faktanya semua yang ada di tulisan ini sungguh terjadi, di suatu tempat yang nyata, melibatkan pula figur-figur nyata, serta terdiri atas setting-setting kejadian yang tak hanya dialami oleh Burhan seorang. Sementara bahasa, apalagi bahasa tulis justru telah mereduksi hal tersebut. Sehingga bilamana perlu, silang pembuktian sangat memungkinkan dilakukan, untuk mengetahui keakuratan fakta yang Burhan tunjukkan.

Lepas dari itu semua, bagi saya hal terbesar dan menarik dari apa yang dilakukan Burhan dalam Tugas Akhirnya adalah bukan karena produknya baik itu Buku Konsep Tugas Akhir (saya lebih suka menyebutnya Laporan Tugas Akhir), gambar-gambar teknis, panel presentasi juga maket, yang oleh sebagian besar kalangan dosen dan mahasiswa dipandang tak sesuai format, bahkan tak ilmiah. Akan tetapi keseluruhan proses yang saya melihatnya sebagai satu lompatan prestasi dan perombakan cara berpikir yang tidak sepele, di mana di awal Burhan harus memulainya benar-benar dari nol. Saya ingat kegelisahan dia di awal-awal proses yang masih sangat luas cakupannya. Hingga kemudian mengerucut pada pilihan-pilihan yang mengharuskannya selalu belajar sesuatu hal yang betul-betul baru, antara lain: tentang ekologi, tentang pengorganisasian masyarakat, tentang pemberdayaan komunitas, tentang pendidikan, tentang fenomenologi, tentang bagaimana menulis sebuah cerita, tentang bagaimana secara natural bersikap dan berhadapan dengan orang-orang yang baru dikenal, tentang bagaimana menghayati sebuah perjalanan, tentang bagaimana menjelaskan sesuatu dalam bahasa awam, tentang bagaimana mengungkap fakta secara proporsional (tidak memihak), dsb.

Memasuki dunia naturalistik seperti ini, selalu melewati masa-masa gamang dan dis-orientasi. Tak ada satu pun ‘konsep’ yang mampu menuntun atau bisa dijadikan pegangan. Pada fase ini akselerasi proses belajar terjadi, di mana hanya ada satu naluri yang menggerakkan, yakni keingintahuan. Naluri inilah yang menurut saya barangkali memberi energi besar bagi Burhan untuk mencapai nilai tertinggi, yakni kemandirian. Satu nilai yang sebetulnya sama-sama menjadi tuntutan dalam mahasiswa menjalani Tugas Akhir, hanya saja melewati jalan yang berbeda.

Akan tetapi dari nilai kemandirian yang Burhan capai justru mampu menjadi jalan tersedianya duta bagi arsitektur pada umumnya dan khususnya arsitek—sementara Burhan masih mahasiswa, yang insyaAllah calon arsitek—untuk mulai membuka diri, mencoba kemungkinan-kemungkinan baru dalam berhubungan langsung dengan masyarakat. Bukan lagi kemandirian yang tercerabut dari akar persoalan di kehidupan nyata atau kemandirian yang menurut saya sia-sia untuk menjawab persoalan-persoalan yang asumtif atau lebih menyedihkan lagi duplikatif, sebagaimana Tugas Akhir mahasiswa Arsitektur pada umumnya. Oleh sebab itu, Tugas Akhir-Tugas Akhir seperti ini sudah saatnya mendapat tempat, agar tersedia peluang-peluang baru bagi Jurusan Arsitektur untuk lebih berkembang. Ada peluang perkembangan dari cara yang sudah berjalan, akan tetapi jauh lebih banyak peluang tersedia dari cara-cara yang belum pernah dilakukan. Sedangkan jaman demikian cepat bergerak, tentu siapapun tak mau terjebak dalam langkah-langkah yang nampaknya optimis, strategis dan terstruktur, sementara alam dan dunia bergerak dalam ketidakpastian dan ke-takterduga-an, dalam lompatan-lompatan peristiwa dan terobosan-terobosan peradaban yang memungkinkan apa yang sebelumnya tak mungkin. Niscaya kita akan memilih sesuatu yang lebih menjejak membumi, responsif terhadap permasalahan riil, dan kritis dalam menangkap gejala-gejala aktual, sehingga setidaknya dengan begitu kehadiran kita diperhitungkan dari kacamata yang lebih manusiawi, karya kita pun lebih orisinil dan tepat guna. Lalu apakah dengan mengikuti proses sedemikian panjang dari membaca Laporan Tugas Akhir ini, seorang mahasiswa Arsitektur seperti Burhan ini telah salah “memposisikan diri”?

Karanganyar, 20 Maret 2010
Ahmad M. Nizar Alfian Hasan

BERARSITEKTUR DENGAN KESADARAN

Read More

Sabtu, 23 Februari 2019

: pernikahan maria ulfa


Hati kita bertaut sejak sebelas tahun lalu
Meramu simfoni dalam rasa terdalam
Meskipun hanya meraung pada ruang takjub
Tatkala rentang masa merunduk... tunduk

Kukenal senyum itu sejak sebelas tahun lalu
Meyakinkan bahwa kabar baik terkabar
Pun watak bumi kini binar memancar
Tatkala sapa damai menyentuh... teduh

Ibarat air, tenang kau melenggang
Ibarat api, tak perlu sampai membakar
Hanya dengan tatapan kau menjelaskan
Hanya dengan kelembutan kau redakan

Hari ini kusaksikan
Kebahagiaan yang sepadan

Karanganyar, 16 Desember 2016

SEJAK SEBELAS TAHUN LALU

Read More

: Mengawal 50 Tahun Tradisi Bakti Sosial Penyantunan Anak Yatim di Brotonegaran - Ponorogo

"Tahukah engkau yang mendustakan agama? Yaitu orang yang menelantarkan anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat, yakni orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya dan enggan menolong." (Q.S. Al-Ma'un 1-7)




[KILAS SEJARAH]
Kegiatan ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 1966 (Muharram 1386 H), menyusul tragedi kebangsaan yang meluluh-lantakkan rasa kemanusiaan sehingga dalam waktu seketika banyak anak-anak yang kehilangan orangtuanya (terutama ayah). Peristiwa kelam tersebut mengusik keprihatinan beberapa tokoh lokal (yang juga motor penggerak organisasi Fatayat dan Muslimat Nahdlatul Ulama Ranting Brotonegaran) yang kemudian berinisiatif mengadakan kegiatan bakti sosial penyantunan untuk anak-anak korban tragedi 1965. Penggagas dan penyelenggara pertama kegiatan ini adalah:
  1.  Ibu Hj. Fatimah (Istri Lurah Brotonegaran)
  2. Ibu Modin As’ad (Istri Mbah Modin Brotonegaran)
  3. Ibu Hj. Siti Asiyah (Istri Bapak Moh. Dimyati)
  4. Ibu Siti Chomsah (Istri Bapak Amir)
  5. Ibu Parmiyati (Istri Bapak Moh. Sulaiman)
  6. Ibu Hj. Thohir (Istri Mbah H. Thohir)
  7. Ibu Hj. Siti Fathonah (Istri Bapak Abd. Manan)
  8. Ibu Hj. Siti Chotijah (Istri Bapak H. Purnomo)

Pada kesempatan pertama yang diselenggarakan di rumah Mbah Lurah Martoredjo (Lurah Brotonegaran pada masa itu), sejumlah 13 anak yatim mendapatkan santunan ala-kadarnya dan tersedia pula hidangan spesifik “bubur suran”, punten, serta aneka jenis panganan tradisional lainnya. Jamaah ibu-ibu yang hadir ada sekitar 50 orang dengan rangkaian acara mulai dari Shalat Isya’ berjamaah, lalu dilanjutkan dengan Shalat Tasbih, Shalat Hajat dan Pengajian untuk kemudian diakhiri dengan kegiatan mengusap kepala anak yatim yang disusul dengan pembagian santunan yang telah disiapkan sebelumnya. Kegiatan Bakti Sosial ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan “Yatiman” yang dinisbatkan kepada subyek penyebab terlenggaranya kegiatan ini, digelar rutin pada malam Hari Asyura (tanggal 9 malam 10 bulan Muharram dalam penanggalan Islam/Jawa) setiap tahunnya.
Hingga tahun 2016 ini terhitung sudah 50 kali kegiatan Yatiman dilaksanakan tanpa pernah jeda sekali pun. Bahkan sejak tahun 1990-an mulai menginspirasi tempat-tempat lain di Ponorogo untuk menyelenggarakan kegiatan serupa dan juga beberapa kabupaten lain, seperti Magetan dan Jombang. Barangkali memang kegiatan ini dimulai bukan dari gagasan besar, namun karena keuletan serta dedikasi penyelenggaranya sehingga tahun demi tahun mampu menunjukkan eksistensi dan kemanfaatannya bagi masyarakat sekitar.

[SIMBOL KASIH-SAYANG]
Menelisik sejarah singkat di atas, terang bahwa gagasan acara Yatiman ini diliputi oleh rasa empati dan kasih-sayang sesama manusia kepada manusia-manusia kecil yang terpaksa kehilangan sosok ayah sebagai pimpinan keluarga. Momentum awal yang diambil sungguh tepat karena terselenggara ketika bangsa ini tengah dirundung duka mendalam, yang sampai kapan pun akan menjadi sejarah kelam kehidupan berbangsa. Untuk tidak larut dalam rasa duka dan kehilangan tersebut ataupun terbatasnya kondisi ekonomi keluarga yang ditinggalkan, maka para figur pemrakarsa kegiatan ini mengambil langkah cerdas lagi bijak dalam merangkai rasa kemanusiaan tersebut menjadi sebuah kegiatan penuh makna dan harapan.
Ramuan kegiatan kemanusiaan yang berbalut ritual keagamaan seakan bersenyawa menyentuh sisi ruhani dua pihak sekaligus. Bagi anak yatim kegiatan ini betul-betul menjadi “belaian” atau “usapan” kasih sayang yang sehari-hari mereka rindukan. Apalagi di dalam kegiatan Yatiman, hal itu secara fisik termanifestasikan ke dalam bentuk ritual “mengusap kepala anak yatim” yang bagi orang pelakunya dapat melembutkan hati atau menundukkan ego-pribadi, sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah serta dijelaskan dan dilakukan pula oleh para ulama salaf, sebagai penjaga mata-rantai ajaran Islam hingga sampai ke zaman kini. Di lain pihak praktik ini sekaligus menjadi simbol sunnah yang diajarkan Rasulullah untuk memberi makan atau santunan kepada anak yatim, yakni anak yang telah kehilangan ayah dan belum mencapai usia akil-baligh.

[MEMASUKI SETENGAH ABAD]
Bukan hal sepele ketika sesuatu yang sederhana mampu bertahan hingga memasuki usia yang ke-50 tahun. Pada tahun 2016 ini, kegiatan Yatiman telah memasuki usia setengah abad. Di antara para pemrakarsanya hanya tinggal satu orang yang masih hidup, yakni Mbah Hj. Siti Asiyah binti Abdullah Umar. Beliau bersama suami (Mbah H. Moh. Dimyati) tentu merasakan kebahagiaan yang tak terhingga, apabila pada pelaksanaan tahun ini (dan semoga juga di tahun-tahun berikutnya) masih diperkenankan menyaksikan kiprah para putra-putri, keponakan, cucu dan cicit beliau sendiri ataupun dari para sahabat beliau yang telah mendahului.
Adapun pelaksanaan pada tahun 2016 ini jatuh pada hari Senin Pon malam Selasa Wage, tanggal 10 Oktober 2016 M atau bertepatan dengan tanggal 9 malam 10 Muharram 1438 H. Sebanyak kurang lebih 2.000 jama’ah berduyun-duyun hadir di lokasi acara yang dipusatkan di Halaman Langgar Maskanussalam (Jl. Kokrosono 57-59 Brotonegaran). Namun sebagaimana telah berjalan di tahun-tahun sebelumnya, barisan-barisan jama’ah dari tahun ke tahun terus meluber ke jalan termasuk ke halaman-halaman rumah yang bisa dimanfaatkan, hingga ratusan meter ke Timur dari pusat acara. Rumah transit anak yatim pun sejak beberapa tahun lalu terpaksa ikut bergeser sekitar 150-200 meter dari lokasi yang menjadi panggung utama. Berikut informasi terkait acara dan statistik bantuan/santunan yang dikelola panitia pada penyelenggaraan Yatiman tahun 2016 ini:
§  Ketua Panitia                                                                                     : Ailyn Farihah Hasan
§  Sekretaris/Pembawa Acara                                                               : Yustin Musfiroh
§  Mauidlotil Hasanah                                                                            : Syahrul Munir
§  Jumlah Anak Yatim                                                                            : 275 Anak
§  Dana Operasional                                                                             : Rp. 7.000.000,-
§  Dana Santunan Anak Yatim                                                              : Rp. 157.301.000,-
§  Dana Santunan (yang diterima setiap anak)                                     : Rp. 550.000,-/anak
§  Sisa Dana Santunan (diakumulasi untuk dibagikan tahun depan)    : Rp. 6.051.000,-

Perlu dipahami bahwa dana santunan bagi anak yatim dikumpulkan sejak jauh hari sebelum acara berlangsung. Sehingga terdapat panitia inti yang terus bekerja sepanjang tahun, terutama yang berkenaan dengan pembaruan database anak yatim dan penerimaan dana-dana bantuan. Dana dan bantuan pun sejak awal terbagi dua, yakni dana-bantuan operasional (termasuk terop/kajang, sound-system, konsumsi, dll) untuk teknis pelaksanaan acara dan dana-santunan sedekah (sembako, pakaian, dll) untuk anak yatim. Selain itu selalu terdapat dana santunan sisa (karena tidak habis terbagi ke sejumlah anak yatim) yang akan di-akumulasikan ke penyelenggaraan di tahun berikutnya. Artinya dana santunan yang menjadi hak anak yatim akan selalu terjaga, tidak diperuntukkan untuk alokasi lain. Termasuk ketika dermawan menyerahkan bantuan, akan selalu dipertegas akad-nya untuk kedua jalur pemanfaatan tadi agar niat amal-ibadahnya termuliakan sejak awal. InsyaAllah segenap panitia terus berusaha untuk selalu menjaga amanah tersebut agar rahmat dan barakah dari-Nya senantiasa tercurah dalam penyelenggaraan acara ini.
Tentu ada harapan dan juga doa, meskipun anak-anak ini tergolong kurang beruntung karena kehilangan ayah ketika masih kecil, suatu saat kelak mereka sanggup menopang masa depannya dengan badan tegak, berjuang untuk diri dan keluarganya dalam segala keterbatasan. Adapun kesedihan itu manusiawi, merasa sendirian itu hanyalah fragmen kehidupan yang tak perlu disesali, sebab Allah dan para dermawan dan jamaah yang hadir dalam kegiatan Yatiman ini telah menunjukkan rasa kasih dan sayangnya kepada mereka. Rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang terjalin tentu tak hanya berhenti dalam seremoni yang hanya setahun sekali ini. Sungguh, panitia dan pengurus Fatayat-Muslimat Brotonegaran dengan tangan terbuka berharap agar data 275 anak yatim (beserta keluarganya) yang terkumpul di tahun ini dapat diakses dan senantiasa ditindak-lanjuti oleh para dermawan dan muslimin-muslimat yang berkenan “mengusap kepala” anak-anak yatim ini di hari-hari yang lain.
Sebagai penutup kata, semoga kita semua digolongkan kepada umat yang selalu diberi kesempatan mengikuti jejak-sunnah rasulullah, lewat para sahabat, para pengikut, para ulama dan para guru kita, kepada mereka semua kita sampaikan shalawat dan salam sebagai ungkapan cinta. Segala bentuk sumbangsih dan peran-serta, baik itu dari segenap panitia penyelenggara, pengurus Fatayat-Muslimat NU Ranting Brotonegaran, dan tak lupa para jamaah dan warga masyarakat yang secara ikhlas ikut mendukung terselenggaranya acara ini, semoga tercatat sebagai jariyah yang tak pernah putus. Lebih-lebih kepada para pendahulu yang merintis, memrakarsai dan memulai sebuah tradisi yang penuh barokah ini, semoga segala kebaikan yang kita lakukan dalam melestarikan acara ini akan terus menjadi pahala yang kelak pasti mereka terima.

...Al-faatihah...


Karanganyar, 16 Oktober 2016

SETENGAH ABAD YATIMAN

Read More

Jumat, 22 Februari 2019

Oleh : Djuneidi Saripurnawan | 13-Sep-2007, 21:24:40 WIB



Judul Buku : Desaku, Sekolahku
Penulis : Ahmad M. Nizar Alfian Hasan
Penerbit : Pustaka Q-Tha
Tahun : Agustus 2007
XXV+189 hlm, 14 x 20 cm


Ketika sekolah semakin mahal dan membosankan, apa yang mungkin kita lakukan untuk menghadapi situasi seperti ini? Biaya sekolah terus mengikuti trend harga barang-barang di pasaran yang terus membumbung naik. Sementara, kualitas lulusannya masih jauh dari yang diharapkan. Murid-murid sendiri banyak yang menyatakan kebosanan, tidak menyenangkan dan tidak menarik atas proses pembelajaran di Sekolah. Ke Sekolah dengan rasa tertekan dan keterpaksaan. Belum lagi ketegangan dengan guru dan tugas-tugas sekolah serta pekerjaan rumah (PR) yang menyebalkan. Waktu untuk mengekspresikan diri dan explorasi ketertarikan pada hal-hal di luar sekolah habis ditelan tuntutan aktivitas di sekolah.

Formalitas sekolahan telah memandulkan kreativitas dan mengasingkan para murid dari lingkungan hidupnya sendiri. Dan, bagaimana nasib anak-anak dari keluarga miskin yang tersebar luas di Indonesia Raya ini?

Dan pada akhir ritual sekolah yang ditunggu-tunggu pun tiba, ijasah adalah symbol kebanggaan kelulusan yang konon bisa memberikan jaminan hidup kedepan(?) Perlu disadari para mahasiswa bahwa ketika ijasah itu diterimakan, ketika itu pula status anda berubah, bukan lagi menjadi mahasiswa sang intelektual melainkan “pengangguran” bila anda belum produktif.

Sebagai sarjana, sudahkah anda memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menerapkannya dalam aktivitas kerja produktif di tengah-tengah masyarakat membangun ini; pertanyaannya, apa yang bisa anda kerjakan/ hasilkan? Apa yang bisa dibanggakan dengan ijasah di tangan tapi tidak berdaya..?

Kenyataan cenderung mengatakan “untuk menjadi pandai itu memang mahal.” Dan “orang-orang miskin dilarang sekolah.”
Namun demikian, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin terjadi di muka Bumi ini selama hal itu manusiawi. Bahwa sekolah (baca: belajar) itu bisa murah dan berkualitas adalah bukan mimpi, dan hal ini dibuktikan oleh komunitas petani—yang menamakan dirinya komunitas Qaryah Thayyibah-- di Desa Kalibening, Kecamatan Tingkir, 3 kilometer dari Kota Salatiga, Propinsi Jawa Tengah.

Berawal dari solidaritas yang kuat dari seorang Bahrudin yang melihat para tetangganya tidak mungkin menyekolahkan anak-anaknya ke SLTP, karena biaya masuk sekolah dan SPP bulanannya terasa memberatkan. Ketika itu, ia akan memasukkan anaknya, Hilmy, ke SLTP di Kota Salatiga. Ia menemui kenyataan bahwa biayanya cukup mahal, dan tidak sampai hati menyaksikan anaknya pergi ke sekolah sementara anak-anak tetangganya tak terperhatikan pendidikannya, maka ia mengajak warga sekitarnya untuk mendirikan sekolah SLTP terbuka, yang kemudian berkembang menjadi SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah.

SLTP itu menyebut diri “alternatif” karena mereka memang bisa dikatakan terlepas dari mainstreaming proses pembelajaran sebagaimana yang terjadi di sekolah-sekolah pada umumnya. Sekolah ini mempunyai prinsip dasar: 1) Pendidikan dilandasi semangat pembebasan dan perubahan yang lebih baik; 2) Keberpihakan kepada keluarga miskin; 3) proses belajar yang menyenangkan (egaliter); dan partisipasi semua pihak.

Dan sebagaimana yang dicita-citakan oleh penggagasnya, bahwa SLTP alternatif ini bercita-cita menjadi sekolah yang murah dan berkualitas. Pak Bahrudin menekankan bahwa lembaga pendidikan alternatif seyogyanya menyatu dengan lingkungan sosial dan alam sehingga secara langsung berkonribusi pada perwujudan masyarakat yang tangguh yang mampu mengelola dan mengontrol segala sumber daya yang tersedia beserta seluruh potensinya sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan dan kelestarian lingkungan serta kesetaraan laki-laki dan perempuan, atau masyarakat ilmu yang berkeadaban (hlm.37).

“Desaku, Sekolahku” adalah pilihan judul buku yang sangat tepat untuk menyebut konsepsi belajar yang terjadi di Desa Kalibening. Bahwa belajar tidak hanya di ruang kelas, tetapi bisa juga di kebun, di lapangan, di bengkel, di sawah, di pinggir kali, di dapur, di masjid, di rumah-rumah warga, dan seterusnya. Penulis, A.M.Nizar Alfian Hasan menemukan pesona tersendiri dari anak-anak SLTP yang mempunyai konsep sekolah ideal tidak terbatas pada bangunan sekolah, atau konsep ruang bangunan. Sekolah bagi anak-anak itu adalah rumah, ruang perpustakaan, dapur, halaman rumah sampai lingkungan alam desa dimana mereka hidup.

Proses belajar ditentukan sendiri oleh para murid dan kondisi yang nyaman serta menyenangkan dengan sendirinya tetap terjaga. Ternyata suasana informal justru sangat mendukung proses belajar yang kreatif, efektif dan menyatu dengan masyarakat.
Lompatan besar pun terjadi. Anak-anak SLTP alternatif ini dengan kesadaran baru tidak mengejar penilaian dan ijasah, melainkan pengetahuan dan kemampuan baru. Bukan kompetisi penilaian yang dibangun, melainkan kompetisi memahami pengetahuan dan membagikannya kepada kawan-kawan lainnya. Hanya 4 orang muridnya yang ikut Ujian Akhir Negara (UAN) 2006 yang lalu; itu pun tujuannya adalah penelitian. Persoalan pun dipecahkan bersama-sama.

Saya harus menyampaikan rasa salut saya kepada Bapak Roy Budhianto di Kota Salatiga yang mendukung pembelajaran anak-anak itu dengan menyediakan akses internet 24 jam gratis sebagai jendela wawasan dunia. Atas dukungan inilah anak-anak SLTP QT melesat cepat menjadi komunitas pengguna internet terbaik di dunia sejajar dengan tujuh komunitas dunia lainnya, seperti Kampung Issy Les Moulineauk di Perancis dan Kecamatan Mitaka di Tokyo—menurut peneliti Asia Pasific Telecommunity di Bangkok, Dr.Naswil Idris.

Action Day” adalah agenda belajar anak-anak SLTP untuk beraktivitas di lingkungan masyarakat secara langsung, misalnya meneliti dan menulis tentang sengketa mata air “Belik “ Luweng. Kegiatan ini menjadi ajang implementasi pengetahuan dan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya.

Tidak ada anggapan bahwa ada anak yang bodoh, yang ada adalah talenta dan ketertarikan yang berbeda-beda. Mereka tidak hanya belajar pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga belajar tentang kehidupan (humanisme). Tidak ada paksaan bahwa semua siswa harus menguasai pelajaran; kalau ternyata guru saja tidak harus menguasai bahan pelajaran. Hal ini mengingatkan saya pada situasi belajar di Tomoe, Jepang, pasca perang dunia kedua, sebagaimana digambarkan oleh Tetsuko Kuroyanagi dalam bukunya yang terkenal “Totto-Chan: Gadis Cilik di Jendela”. Dan seperti cita-cita Alm. Romo YB.Mangunwijaya yang sering saya dengarkan sebelum kepergiannya.

Proses belajar ini telah menghasilkan anak-anak berkualitas. Sebagian dari mereka sudah menulis beberapa novel dan buku ilmiah yang dipublikasikan oleh penerbit di Yogyakarta. Dan juga sering mendapatkan undangan untuk menjadi pembicara atau sekadar berbagi pengalaman. Beberapa karya mereka meliputi pembuatan film documenter dan film untuk belajar (pengetahuan), menerbitkan majalah E-lalang, berteater untuk masyarakat, dan mahir dalam multimedia. Mereka sudah menjadi bagian dari masyarakat kosmopolitan tetapi tetap mengakar di dunianya.Mereka telah berpikir global dan bertindak lokal (think globally, act locally).

Dalam buku ini tereksplorasi bagaimana anak-anak kelas-3 SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah mempunyai tugas akhir—sebagai pengganti UAN--untuk menandai kelulusannya dengan mengadakan dan menyelesaikan “disertasi” masing-masing. “Disertasi” itu antara lain Pengadaan Ruang Belajar, Studio Musik Bawah Tanah dan Kolam Belut di Rumah As’ad; Laboratorium Tanaman dan Pembuatan Briket Sampah di Rumah Amri; Ruang Belajar dan Budidaya Tanaman Obat di Rumah Ulfa; Ruang Belajar di Rumah Amik; “Menghidupkan” Kembali Kolam Renang Milik Keluarga Alm.Bapak Tafdil; Radio Sekolah dan Gudang/Bengkel Karya di Rumah Bapak Bahrudin; dan lain-lain.

Proses penulisan Tugas Akhir dalam studi Arsitektur di FT-UNS Surakarta ini perlu dijadikan contoh nyata, bahwa pembelajaran yang langsung melibatkan suatu masyarakat akan memberikan transformasi positif bagi kedua belah pihak. Penulis mengakui bahwa proses interaksi dengan komunitas, terutama anak-anak SLTP alternatif Qaryah Thayyibah mempuyai dampak pembelajaran yang memberikan pencerahan. Semuanya merasakan perubahan yang lebih baik.

Dan pada akhirnya, perlu diambil hikmahnya: bahwa belajar itu tidak mengenal batas ruang dan waktu, bahwa sekolah itu bisa murah dan berkualitas, dan tentunya dengan adanya semangat dan upaya yang kuat dari semua pihak. Inilah yang disebut Komunitas Belajar.



Djuneidi Saripurnawan,
RDC Plan Aceh, alumnus Studi Antropologi UGM Yogyakarta.


=============
sumber: 
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&dn=20070913153445

KETIKA SEKOLAH SEMAKIN MAHAL DAN MEMBOSANKAN

Read More

Kamis, 21 Februari 2019



"Sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat perlu dan mutlak memiliki tiga hal, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan”
(Soekarno, dalam Pidato Trisakti 1963)

Kemajuan zaman dalam arus besar peradaban manusia belakangan ini semata-mata kita terima sebagai definisi yang telah ditentukan oleh bangsa lain sehingga berakibat mundurnya gerak laju pembangunan watak bangsa yang sebelumnya dikenal sebagai kreator (pencipta) dengan kemampuan memaknai kemajuan secara mandiri. Begitu hebat dan halusnya pengaruh itu sehingga tanpa sadar kita telah terdorong pada  upaya global pengerdilan secara sistemik yang membuat kita tidak sempat untuk berpikir membuat atau menciptakan sesuatu karena sesuatu itu telah disediakan untuk sekadar kita pelajari bagaimana cara menggunakannya. Hal ini terjadi di semua lini kehidupan, entah itu budaya, ekonomi, politik, hukum, kenegaraan, pendidikan, dsb.

Kepercayaan diri sebagai manusia dengan fitrah kecerdasan identik dan juga sebagai bangsa yang konon berlatar sejarah panjang peradaban atlantis hingga kejayaan imperium sebesar Sriwijaya-Majapahit, kian memudar tatkala berhadapan dengan realitas zaman yang lambat kita persiapkan penyikapannya karena tak sempat memahami situasi dibalik kenyataan nir-kesadaran yang kita terima. Padahal jauh-jauh hari Bung Karno telah mengingatkan supaya ilmu pengetahuan modern dan sejarah kebudayaan Indonesia mutlak disandingkan agar bangsa ini mampu menjangkau kecenderungan masa depan sekaligus tetap berpijak pada landasan pengetahuan dan latar kebijaksanaan lokal yang telah dipunyai. Lalu bagaimana menyederhanakan penyelesaian atas polemik ini dalam kaitannya dengan usia kemerdekaan yang sudah bukan muda lagi saat ini?

Merdeka bermakna tak bergantung, selain juga berarti bebas dan mandiri menentukan nasib sendiri. Pada praktiknya kemerdekaan bukan hanya sebuah penerimaan pasif, akan tetapi lebih bernuansa upaya dan perjuangan terus menerus untuk bertahan pada sikap yang sepenuhnya dimengerti, disadari dan dilaksanakan. Kesadaran yang demikian akan mengantarkan sebuah keberanian menemu-kenali jatidiri, memulai sebuah langkah menegakkan eksistensi yang berakar dari hal-hal terkecil yang bahkan bisa jadi hanya berawal dari diri sendiri dan orang-orang terdekat terlebih dulu. Ini akan menjadi basis kreatifitas dan ketekunan yang bakal susah diukur oleh siapa pun selain diri sendiri.

Sementara menepis ketergantungan terhadap keinginan mendapatkan segala sesuatu dengan cara membeli dan berbuat sesuatu atas dorongan imbalan adalah langkah awal menjabarkan makna kemerdekaan dalam keseharian. Nilai yang mendasarinya adalah rasa syukur atas pemberian Tuhan yang masih banyak kita kesampingkan akibat bingkai kecukupan yang tak sempat kita rawat. Kenikmatan apa lagi yang akan kita tuntut manakala ke-aku-an kita merebah serendah-rendahnya? Sementara kekosongan yang demikian justru akan memantik daya cipta kita sewajarnya, tak berlebihan, menepi pada batas terujung kesungguhan kita dalam merespon sumberdaya dan kemudahan yang telah dibentangkan-Nya di sekeliling kita.

Mandiri bukan lantas menjadikan kita berjarak dari lingkungan, baik alam ataupun sosial. Justru kemandirian menyertakan pondasi keterbukaan yang berarti meniscayakan keterkaitan satu sama lain. Kendali siapa saja dalam menyeimbangkan keduanya tentu berdampak pada terbangunnya sinergi tanpa batas, antara manusia dengan alamnya ataupun dengan sesamanya. Oleh sebab itulah sejak sekarang kita dapat tengok apa yang terpampang di depan mata keseharian kita. Sudahkah kita kembalikan semuanya pada ukuran, batasan dan kekuatan diri sendiri, baik itu sebagai individu ataupun entitas besar sebuah bangsa? Sedikit bekal sinau (belajar) agar tahu tentu tak cukup untuk membaca pantulan diri paling dekat tersebut, sebelum kita semua mau ngerti (paham) agar bijak dan titen (cermat) agar tepat.

Kita tidak usah terburu-buru berharap pada patron akademis ataupun politis ketika bicara praktik sederhana, karena di sekitar kita sebetulnya telah disiapkan pakar-pakar organis (yang muncul alami, dengan sendirinya) sesuai dengan warna identik masing-masing. Andai saja setiap sarjana atau insan akademis mau “turun” dan berhadapan langsung dengan persoalan dan penemuan solusi di lingkungan terkecil masing-masing (semisal lingkup RT), sebetulnya itu pun sudah cukup menjanjikan. Sementara kekuatan asli masyarakat kita dalam mengupayakan solusi sebetulnya terletak pada sinergi dan saling berbagi keterbukaan dalam “institusi” yang dinamai rembug (musyawarah). Saat kualitas musyawarah dan intensitasnya dapat terjaga, pastilah akan tergelar butir-butir solusi dan muncul pakar-pakar yang mengerti betul situasi dan kebaikan yang akan diperoleh.

Keluarga dan komunitas pada akhirnya menjadi benteng terakhir paling riil (nyata) sekaligus basis permulaan membangun perubahan paradigma kemerdekaan sebagaimana tergambar di atas. Mari kita selalu perbarui kesempatan makan bersama seluruh anggota keluarga (orangtua, anak dan anggota keluarga lainnya) dengan memanfaatkannya sekaligus sebagai ruang rembug sesungguhnya, di mana kedaulatan politik tiap anggota keluarga dapat termanifestasikan dan menempati posisi sebenarnya. Begitu pula forum-forum musyawarah warga, kelompok-kelompok arisan, perkumpulan-perkumpulan do’a dan peribadatan, akan menjadi aktual dan berdaya manakala persoalan-persoalan riil diangkat dan diselesaikan secara bersama, tanpa menunggu, tanpa bergantung pada kemudahan (fasilitas) dari liuar (eksternal). Kalaupun ada keterkaitan antar pihak maka sifatnya adalah hubungan mutual yang bersejajar, saling menjamin, saling memerdekakan satu sama lain. Syukur-syukur jika di mana saja komunitas-komunitas warga masyarakat mampu menyelenggarakan solusi-solusi bergayut (berkonteks) lokal dengan kesungguhan mengelola sumberdaya yang sudah ada di wilayah masing-masing, lalu jejaringnya tumbuh secara positif, maka akan jadi penyeimbang solusi yang tidak melulu bergantung pada negara.

Singkat kata telah lewat sekitar 50-an tahun silam, Bung karno—salah seorang sosok sentral di antara para pendiri bangsa ini—telah mengampanyekan tiga paradigma tersebut, paradigma mendasar yang menjelaskan makna progresif (gerak-maju) kemerdekaan bagi bangsa besar yang pada saat itu baru 18 tahun bersepadu-seharap membangun negara. Sampai di sini saya jadi teringat pada obrolan tengah malam dengan Mbah Wandi, sosok marginal (tersisih) di kampung yang tekun mengemban “amanat” alam bersebadan dengan Bumi Sepanggang, pada medio Agustus tahun ini. Beliau banyak berwasiat, salah satunya tentang “…tidak cukup kita jalani hidup berbekal tujuan, yang lebih penting lagi adanya gerak yang membuat kita tak pernah berhenti, sekecil apapun jika terus menerus pasti akan sampai.” Untuk itulah kemerdekaan niscaya senantiasa beranjak. Merdekalah dengan terus bergerak, karena kalau tidak berarti berhenti!

Bumi Sepanggang, 7-25 Agustus 2017

===============
*dimuat dalam Buletin Literasi Kemuning edisi kedua, Agustus 2017 dan dibacakan dalam Khutbah Jum'at di Masjid Baitullah Pokoh-Ngijo, 17 Agustus 2018

KEMERDEKAAN YANG SENANTIASA BERANJAK

Read More

: menyapa harapan dan kecemasan



Mingkar mingkuring angkara, akarana karnan mardi siwi
Sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta
Aduh Gusti, pakartining ngilmu
Ingkang tumrap… ning ngalam dunya
Agama ageming aji

Sapa entuk wahyuning  Allah, gya dumilah mangulah ngelmu bangkit
Bangkit rikat reh mangukut, kukutaning jiwangga
Yen mangkono, kena sinebut wong sepuh
Lir ing sepuh… sepi hawa ...
Awas loro ning atunggil

Ingsun ing Ngarcapada, urip kudu nerima
Karsaning Sang Pangarsa, tuhu setya utama
Hong wilaheng sekareng bawana langgeng ... sekar mayang
Hong wilaheng sekareng bawana langgeng ... sekar kajang

(Lirik lagu “Sekar Mayang” – Gombloh pada tahun 1981, yang diserap dari “Serat Wredhatama”  Pupuh Pangkur bait I dan XII – K.G.P.A.A. Mangkunagara IV pada abad 19)


Mari kita petakan harapan—selayak makna mayang (bunga pinang) dalam tradisi Jawa yang kita diami—lalu membunyikan kecemasan secara lebih jujur. Sebab siapa saja kini boleh berpendapat, kapan saja, di mana saja. Bahkan kentut dan ingus kadal saja barangkali bisa memicu dialektika dan perdebatan luas di belahan dunia yang bukan habitatnya.  Alat bantu menyuarakannya pun sekarang bukan jadi kendala lagi, terdukung oleh kemutakhiran teknologi dan industri media yang terus disempurnakan. Kita seperti  tengah dihadapkan pada suatu era yang dulunya begitu didamba-dambakan banyak orang. Ibarat tidak ada alasan lagi menjadi pecundang karena setiap kemauan pasti ada jalan. Banyaknya kemungkinan kiranya jauh melampaui hitungan dan bayangan. Hal ini terdukung dengan telah tersedianya segala fasilitas sebelum kita sendiri terpikir untuk apa kegunaannya.

Dunia ke depan seolah-olah begitu sempurna karena setiap orang mampu mengupayakan dan bertanggungjawab atas keberhasilannya sendiri.  Setiap mimpi dan hasrat purba manusia menemui jalan lapang. Jika mau, pencapaian kulminasi seseorang menjadi narasi aktual yang seolah tak terbantahkan di masa yang tak kenal lagi batas. Manusia kini betul-betul berada pada puncak piramida kendali atas dunia yang dihidupinya. Bahkan, manusia kian memupuk kepercayaan diri untuk menjangkau tuhan dalam ko-eksistensi yang profan, sebingkai dan selingkar dalam struktur ekologi yang imanen. Hal ini menimbulkan keniscayaan turunan bahwa transedensi tuhan tanpa sadar dinafikan pula oleh para pengagungnya.

Pada tahap berikut, segala bentuk kelembagaan (institusi) yang kemapanannya dibangun pada era sebelumnya, belakangan ini dikritisi atau bahkan dirobohkan eksistensinya. Segala sistem yang pada mulanya dikembangkan untuk mengatur dan mengoptimalkan kemudahan menjalankankan kehidupan mekanis dan terprediksi, pada akhirnya berbalik membebani dan justru menambah panjang lintasan mencapai tujuan. Lalu bersama-sama kita sedang menuju peradaban masyarakat permisif yang serba boleh. Ekspresi dan respon sosial kita barangkali menunjukkan seberapa pekat ekstase kesadaran kita atas situasi yang sedang terjadi. Kita dituntun terlalu jauh meninggalkan mata angin kearifan dan ketajaman penghayatan  terhadap keniscayaan konteks, sesuatu yang dulu menjadi bahan baku intelektual nenek moyang membangun peradaban nan gemilang. Kita terlanjur terpukau oleh keampuhan bumerang nalar diri yang buas, menggulung dan menerjang bak tsunami.

Sebentar saja kita tengok, drama kolosal yang terpampang di layar keseharian kita. Sekolah-sekolah semakin banyak dan maju, tetapi tidak lantas membuat akses pendidikan menjadi semakin mudah terjangkau, alih-alih mencerdaskan anak-anak terbelakang dan papa. Rumah-rumah sakit baru dan apotek-apotek kian menjamur seiring pertumbuhan sebuah daerah. Namun itu juga tidak lantas menyurutkan antrean inap pasien dan jumlah orang sakit dengan ketergantungan medis.  Masjid-masjid dan tempat-tempat ibadah lain tiap tahun bertambah, lebih megah dan semakin berdekatan jaraknya. Akan tetapi tidak serta-merta kemajuan seperti itu membuat kohesi moral dan spiritualitas umat beragama berdampak nyata secara sosial. Ada indikasi kejumudan pada hal-hal yang sebetulnya lebih prinsipil namun tak tampak. Bukan pada keberadaan dunia seisinya atau progresi peradaban yang mengalami percepatan hebat ini. Bukan pula tentang gairah dan kemauan siapapun untuk menjadi lebih baik, entah sebagai diri pribadi ataupun komunal. Tetapi kejumudan dalam pertumbuhan makna dan hakikat kemanusiaan itu sendiri.

Di balik kepercayaan-dirinya yang melambung, manusia pada dasarnya sedang mengalami dekadensi status dan identitas. Gejala kerisauan itu begitu meluap di benak dan perilaku generasi-generasi paska-kolonial atau kita kenal pula sebutan millennial. Mereka adalah generasi yang terpapar kemajuan budaya informasi dan teknologi digital di saat belum genap kesadaran dirinya terbangun. Daya tarik kekinian sedang menghisap nyaris keseluruhan perhatian mereka atas diri sendiri, lingkungan dan wawasan-wawasan yang mengisi ruang-ruang kosong dalam jiwa bernama “kerisauan” tersebut. Orang-orang tua, para remaja dan bahkan anak-anak tidak ada bedanya merespon kegagapan atas dunia yang begitu baru ini dengan “terpukau” dan “melenting” ke segala arah. Terjadi pula banyak “para pencari” yang terlalu sedikit membawa bekal kesadaran dan ketekunan berproses, meskipun kegairahannya begitu segar dan menyala. Semua dihadapkan pada kerisauan tentang bagaimana memahami dunia yang ada di sekeliling mereka. Perubahan-perubahan yang terjadi, pembaruan-pembaruan yang dijuangi adalah pergerakan masif yang masih berkutat pada bagaimana merespon rangsangan dari luar itu.

Pada akhirnya karena tulisan ini bukan hendak menjawab, kita perlu kembali bersandar pada bangun pribadi masing-masing. Kita perlu lebih banyak menyelam ke palung kesadaran, baik sebagai individu ataupun komunitas, secara mandiri atau bersama-sama. Kita perlu terus belajar mengembalikan kenyataan-kenyataan yang masih terserak dan sebagian terlanjur terbang bersama angin. Kita perlu menyadari betul bahwa takdir manusia adalah belajar segala hal untuk menyeimbangkan pemahaman atas realitas sekelilingnya. Tapi kita adalah bagian dari sebuah proses maha-panjang penemuan jati-diri ras “makhluk berpikir dan berdiri tegak” yang kita sendiri menyebutnya manusia ini. Sebagai bangsa, kita punya konteks sendiri yakni kegayutan atas capaian-capaian yang telah diraih para pendahulu kita, di tanah air ini bukan di tempat lain. Kita punya rasa, kearifan dan tradisi nalar yang juga paripurna sebetulnya. Kita generasi sekarang ini, perlu lebih giat menempa kematangan jiwa dan kesadaran batin yang terus menerus. Supaya kita tidak hanya menjadi juru gaduh, tukang caci, atau ahli cela yang terasing dari kedamaian, persaudaraan, keindahan, keteladanan dan kebijaksanaan pada fragmen kemajuan yang bukan pada kita kendali kesadarannya.

“Apakah barangkali aku telah terasing dari bangsaku? Mengapa aku lalu merasa gusar melihat hal-hal yang memenuhi hidup mereka, yang sangat mereka lekati? Mengapa aku kerap menganggap hal-hal yang bagi mereka mengandung keindahan dan menumbuhkan perasaan halus justru tak punya arti dan jelek?” (Sutan Syahrir)

Patutnya kerisauan atau kecemasan, sebagaimana Syahrir di atas ketika merenungkan tugas-panggilannya dalam perjuangan mengangkat bangsanya dari keterbelakangan dan penjajahan. Dia selalu melihat pembangunan bangsa pada akar-akar kebudayaan serta keyakinan dasar yang lebih dalam daripada pembangunan material belaka. Sedangkan kita?


Bumi Sepanggang, 26 Agustus 2018

============================
(dimuat pada edisi ketiga Buletin Literasi Kemuning, September 2018)

GEGAR SEKAR MAYANG

Read More




Lestari alamku, lestari desaku
Di mana Tuhanku menitipkan aku
Nyanyi Bocah-bocah di kala purnama
Nyanyikan pujaan untuk nusa

Damai saudaraku suburlah bumiku
Ku ingat ibuku dongengkan cerita
Kisah tentang jaya nusantara lama
Tentram karta raharja di sana

(cuplikan lirik lagu Berita Cuaca – Gombloh)



Dua bait bernas yang pernah diciptakan dan dinyanyikan dalam durasi 5 menit 20 detik penuh penghayatan oleh almarhum seniman bernama asli Soedjarwoto Soemarsono tersebut serasa membeku tak koyak oleh waktu, mengingatkan kembali akan bentang ekosistem di sekitar kita yang sedang merintih hebat saat ini. Baiklah kalau memang fitrahnya alam seisinya ini berujung kerusakan (kiamat), akan tetapi apakah kita tak boleh memilih untuk mengawal sisa-sisa usianya itu karena memang menyongsong takdir maut-nya sendiri, bukan karena sakit atau kecelakaan disengaja akibat kelaian kita dalam kesungguhan merawatnya?

Kita hidup di zaman sekarang yang menuntut segalanya serba cepat, di mana waktu dieksploitasi atas nama efisiensi dan produktifitas maksimal. Yah eksploitasi, karena mengeksploitasi waktu berbanding lurus dengan tindakan eksploitasi yang sebenarnya, terhadap sumberdaya alam, manusia dan kehidupan sosial di sekitarnya. Sampai-sampai bicara umur makhluk hidup pun, dengan berlindung di balik kemegahan pengetahuan dan teknologi, menjadi  hal lazim sekarang  jika hewan ternak dan tanaman pangan kian diperpendek usia siap panennya. Berbeda dengan para pendahulu dengan kearifannya, masih sangat meyakini bahwa di dalam waktu ada keberkahan, bahwa menghayati setiap detik-detik perjalanan hidup adalah proses pencapaian ruhani yang membahagiakan. Lambat laun di era sekarang, kuasa waktu menunjukkan tanda-tanda dalam bentuk yang sebetulnya sudah sejak lama kita sadari. Jika apa yang kita makan saja diupayakan dengan berbagai cara agar bergegas cukup usia panennya dan masih ditambah pula supaya segera siap tersaji, maka sudah barang tentu tidak aneh jika saat sekarang banyak anak-anak kita yang lebih cepat dewasa secara fisik, tidak termasuk jiwanya. Badan bongsor jiwa kosong atau anak-anak kecil tak bisa menolak datangnya masa akil baligh lebih dini dari generasi sebelumnya. Lebih jauh sangat masuk akal bila kemudian kita dapati umur manusia saat ini semakin pendek hanya dari melihat fakta apa yang dimakan.

Banyak ragam penyakit baru bermunculan, menyertai kian banyak pula jenis makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita. Kita bukan hanya tak peduli lagi dari mana asal makanan dan minuman tersebut, tetapi bahkan ketika sudah tahu bahwa ada kandungan racun kimia sintetik atau bahan berbahaya bagi tubuh pun, tetap saja kita konsumsi. Kita juga terlanjur mengimani kemujaraban obat-obatan farmasi mampu lebih cepat menyembuhkan daripada racikan obat-obatan tradisional yang sejatinya lebih mampu bersenyawa dengan daya kesembuhan tubuh kita. Betapa dari segala lini ekologi tubuh kita pun terpapar sedemikian hebat bahan-bahan yang tak sempat kita ketahui sumbernya, sehingga tak terasa memalingkan keyakinan total kita akan datangnya kesembuhan dari Sang Pemberi sakit. Generasi-generasi pasca millenials pada akhirnya menderita semacam kutukan dari 2-3 generasi sebelumnya. Kita lihat pasca-2000 muncul kecenderungan anak-anak yang terlahir dalam kondisi berbeda, entah itu secara mental, fisik ataupun nalar. Dan semua ini bukan tanpa sebab jika kita mau menelusuri diorama sejarah pertanian dan pangan yang sejatinya kian memprihatinkan. Ketergantungan yang kian tak terbendung dari hulu ke hilir. Contoh paling sederhana bagaimana sebagian besar petani saat ini susah untuk mandiri mulai dari lahan, bibit, pupuk, pengendalian hama hingga pengelolaan pasca panen.

Perlu kembali kita sadari bahwa alam ini bagaikan keluarga yang mestinya harmonis dan hidup rukun. Kenyataannya manusia hidup sepenuhnya bergantung dari alam dan bahkan seringkali terlewat rakus dengan banyak menuntut dan memperkosanya. Pemaknaan bias atas waktu pada dzahir-nya menjadi sebab utama kerusakan di mana-mana. Bahan-bahan mineral dan logam diambil dari perut bumi semata-mata untuk menopang nafsu ingin “lebih cepat” tadi. Cara-cara budidaya yang menjadi dialog mutual manusia dan alam menjadi bukan pilihan karena memang lebih panjang rantai produksinya sehingga jauh lebih lambat daripada cara-cara eksplorasi dan eksploitasi langsung dari alam.  Alat dan mesin rakus energi dibuat termasuk kendaraan, lalu jalan-jalan dibangun dan selalu diperlebar untuk menampung pergerakannya. Hamparan tanah sejengkal ataupun berhektar-hektar dilapis perkerasan atau bahkan tertutup bangunan. Air hujan yang katanya berkah dianggap kotor dan mengganggu ketika menggenang sehingga nasibnya pun sama, bagaimana supaya air cepat kering tuntas lebih dipilih daripada dibiarkan sebentar menggenang agar meresap kembali ke tanah. Dedaunan dan bahan-bahan organik yang berserakan pun demikian, dianggap kotor dan tak-elok dipandang lalu jadi alasan untuk boleh disapu bersih dan lantas dibakar atau dibuang ke sungai, tanpa kita sadari bahwa merekalah sesungguhnya remah-remah rejeki yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa untuk kembali diserap nutrisinya oleh tetumbuhan.

Demikianlah ternyata selama ini kita masih lalai mengindahkan hukum alam. Terlalu cepat kita menyalahkan alam ketika bencana terjadi meluluh-lantakkan batin, sisi kemanusiaan dan juga kenangan. Sedangkan alam hanya berjalan menyesuai dengan Yang Maha Kuasa tetapkan. Air mendidih ketika dipanaskan pun demikian akan menjadi “bulldozer alami” yang dahsyat ketika tak berkesempatan memeluk kembali Sang Pertiwi. Begitulah cara alam menyampaikan pesan Ketuhanan yang masih selalu saja kita salah-artikan. Sedangkan lewat karya-karya sebagaimana cuplikan lagu di awal tulisan ini—kalau boleh dibilang—bisa menjadi bentuk peran-serta menyuarakan upaya penyatuan-diri yang paripurna dalam ekologi semesta. Kemunculan substansi dalam rupa wadag yang tak lagi penting seperti ini niscaya disandingkan dengan narasi utama yang menjadi keprihatinan kita bersama. Begitupun kita semua pada dasarnya punya kesempatan yang luas untuk berbuat sesuatu memuliakan sesama ciptaan, apa pun latar belakang kita senyampang menyadari kesempatan itu. Jika ditelisik lebih dalam dua bait di atas, lihat saja bagaimana perhatian dan apresiasi jujur atas keberadaan dan saling sinergi antara ekosistem alam, ekosistem sosial, ekosistem spiritual, ekosistem kebangsaan, ekosistem pendidikan dan keteladanan dapat menyatu-padu dalam satu pesan atau peringatan bahwa senjakala ekologi niscaya datang lebih cepat manakala kita mengabaikan atau bahkan meremehkannya.


Bumi Sepanggang, 31 Mei – 8 Juni 2017


==================

* Tulisan ini hanya mengabarkan beberapa catatan dengan keterbatasan daya rekam saya dari pengalaman dan wawasan para sahabat dan guru winasis yang tak kuasa saya sebut satu-persatu, teriring doa untuk beliau semua dan mohon maaf apabila ada kesalahan dalam saya merekamnya;

**Dimuat dalam edisi perdana #jagalawu, Buletin "Literasi Kemuning", sebuah media komunitas nir-laba yang dikelola oleh Komunitas Kamar Kata Karanganyar;

*** Sumber Foto: https://i0.wp.com/santrijawa.com/wp-content/uploads/2018/04/konsep-ekologi.jpg?ssl=1

SENJAKALA EKOLOGI

Read More

Rabu, 20 Februari 2019

: Rekam Dialektika dan Perjalanan Tim Penyusun Kurikulum PAUD-KBD


[KEBERANGKATAN – 11 Oktober 2016]
: dalam 10 jam perjalanan Salatiga-Jakarta dan 15 jam masa pra-acara

Bertepatan dengan malam Hari ‘Asyura—di mana bagi umat muslim menjadi hari penting yang menandai sederet peristiwa sejarah bermuatan kemanusiaan—kami berkumpul di Salatiga untuk meninjau kembali kerangka berpikir dan inti sari penyelenggaraan PAUD bagi masyarakat nun-jauh di pelosok pedesaan, sekaligus melengkapi beberapa kekurangan teknis yang tidak seberapa terkait gambar-gambar ilustrasi. Singkatnya pada malam itu tersepakati oleh kami bahwa sebagaimana telah dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara sejak sebelum republik ini berdiri, keluarga menjadi lahan sekaligus subyek sentral penyelenggaraan pendidikan untuk anak-anak. Lebih-lebih jika mengurai konsep pendidikan Ki Ageng Suryomentaram, maka pada dasarnya proses mendidik anak akan berjalan seiring dengan proses mendidik diri sendiri. Maka dari itu kami mengambil 3 (tiga) langkah sederhana namun mendasar dalam me-revitalisasi konsep pengasuhan dalam keluarga, yakni: selalu menyemangati, tidak menakut-nakuti dan senantiasa menjadi teladan.

Ketiga kearifan pengasuhan tersebut terasa lebih pas dalam meng-implementasikan konsep pengasuhan sepanjang hayat (berkelanjutan). Karena sampai kapan pun orangtua harus mampu mendampingi kehidupan anak hingga akhir hayatnya. Anak dengan demikian akan tumbuh dengan penuh rasa percaya diri, terbiasa berpikir dan terlatih bertanggung-jawab. Mereka pun dengan sendirinya bakal menjadi agen pengembalian harkat pendidikan bangsa ini yang gagal dibuktikan oleh “sekolah”. Keluarga-keluarga secara bertahap menjadi model mutu kecerdasan yang identik bagi setiap anak yang sekaligus juga menjadi benteng tangguh bagi bangun kepribadian dan karakter anak selanjutnya. Apabila kita percaya bahwa pendidikan adalah kerja-budaya maka cara atau pola kearifan seperti ini akan sanggup turun-temurun, berjalan estafet me-lintas generasi. Lebih-lebih jika antar keluarga dalam komunitas/kelompok masyarakat nantinya dapat bahu-membahu saling bantu menggenapi kelemahan satu-sama lain.

Perbanyakan yang terjadi akan semakin masif, sehingga negara dalam hal ini akan sangat terkurangi bebannya karena masyarakat terlayani bukan oleh siapa-siapa, melainkan dari upaya dan kegigihan mereka sendiri. Menyelenggarakan PAUD bukan lagi berpikir tentang bagaimana mendirikan bangunan dan menyediakan perangkat pembelajaran yang memaksa kita mendatangkan dengan cara membeli sumberdaya yang tidak dimiliki atau bagaimana menggaji guru/tenaga pendidik yang dalam praktiknya justru relatif membatasi ruang tumbuh-kembang anak atau bahkan tanpa sadar terlibat pula dalam menanamkan rasa takut dan bodoh ke alam-pikir mereka. Akan tetapi menjadi sebuah langkah bersama antar warga dalam suatu komunitas untuk berbagi kemudahan (fasilitas) dan secara realistis mengoptimalkan sumberdaya yang ada di sekitar.

[MEMBEDAH ISI – 12 Oktober 2016]
: dalam 8 jam acara bedah buku panduan yang sudah dipersingkat dari rencana semula

Isu Pendidikan Anak Usia Dini nampaknya kian menjadi perhatian pelbagai pihak. Sejumlah program dan juga tentu saja anggaran menjadikan PAUD sebagai alasan penggelontoran. Namun apalah artinya program ataupun anggaran, jika sudut pandang yang dipakai belum cukup lebar untuk menyaksikan bentang-cakrawala yang meliputi keadaan sebenarnya. Beragam indikator atau apa pun alat ukur yang selama ini dipakai hanya akan semakin menempatkan anak-anak dan komunitas/kelompok masyarakat di pelosok pedesaan pada posisi tertinggal atau terbelakang. Sudah saatnya kita perlu lebih jujur memaknai fasilitas sebagai kemudahan, dalam segala bentuknya. Sehingga bagi masyarakat pedesaan yang tinggal di pelosok-pelosok (kepulauan, hutan, gunung, pantai, dll) akan semakin mengerti bahwa di sekitar mereka terlimpah begitu banyak sumberdaya yang bisa dikelola untuk kemudian menjadi “ruang dan alat bermain-belajar” bagi anak-anak. Kita juga tidak bisa begitu saja mengesampingkan nila-nilai kearifan yang hingga saat sekarang kita yakini masih tertanam jejak-jejaknya pada keluarga-keluarga yang ada di sana.

Pada acara “Bedah Buku Panduan PAUD Berbasis Lokal” di Swissbell-Residence Kalibata,  kita dapat tengok data yang dipakai Kemendesa-PDT, bahwa masih ada sekitar 33.367 desa yang belum memiliki PAUD dari total 74.709 desa yang ada di Indonesia. Sementara data Kemendikbud menyebutkan masih ada sekitar 22.00 desa dari total 74.053 desa. Lebih lanjut Kemendikbud pada tahun ini mencanangkan program PAUD Desa dalam Gerakan Nasional PAUD Berkualitas (GNPB) 2016-2030, sementara itu Kemendesa-PDT mencanangkan program PAUD Generasi Sehat Cerdas Desa (GSCD) 2016-2017. Peserta acara ini meliputi unsur-unsur pemerintahan (Kemendikbud, Kemendesa-PDT, Kemenkes, BKKBN, Bappenas, dll), lembaga-lembaga penyelenggara dan jaringan guru PAUD (Fatayat, Sekolah Alam, Himpaudi, Forum PAUD, dll), serta beberapa organisasi/yayasan/NGO/LSM pemerhati pendidikan (Indonesian Heritage Foundation, Komunitas Belajar Bengkel Kreasi, Frontiers,  Ashoka, YPQTI). Beraneka ragam komposisi tersebut menyepakati beberapa hal, antara lain:

  • Mudah, menjadi prinsip penyelenggaran yang realistis, ketika secara demokratis masyarakat didampingi dalam mewujudkan PAUD Komunitas Berbasis Lokal;
  • Perlu langkah terobosan di luar yang konvensional agar percepatan jangkauan penyelenggaraan PAUD yang berkonteks lokal di desa-desa pelosok (terpencil, terdepan atau terluar) dapat sesegera mungkin tercapai;
  • Menuntut kemungkinan kerjasama lintas bidang, lintas lembaga, lintas kementrian bahkan lintas program agar menjadi solusi yang terintegrasi;
  • Buku Panduan sederhana akan sangat membantu, lebih-lebih dengan sistematika dan bahasa yang mudah dipahami bagi pembaca dengan asumsi belum lulus SD;
  • Buku Panduan hanya menjadi landasan umum untuk lebih dijabarkan lagi dalam detail isi kurikulum pada masing-masing desa/komunitas sebagai basis konteks lokal yang dimaksud;
  • Dominasi bahasa visual, kepadatan tata-letak dan membagi sejumlah bab yang ada  ke dalam beberapa buku lebih tipis menjadi alternatif pembenahan jika memungkinkan;
  • Sedapat mungkin segera menyebar-luaskan panduan penyelenggaran PAUD Komunitas Berbasis Lokal (Desa) ini lewat jalur apa pun, agar segera dapat diimplementasikan baik oleh masyarakat secara langsung ataupun lewat dampingan lembaga/organisasi/yayasan yang bersentuhan langsung dengan komunitas/kelompok masyarakat dimaksud;

Adapun beberapa hal lain perlu ditinjau kembali kesesuaiannya dengan prioritas kebutuhan tersedianya sesegera mungkin panduan penyelenggaraan PAUD yang berkonteks lokal, antara lain: standar kompetensi guru, acuan komponen pembelajaran, standar penilaian, dsb. Oleh karena itu, dapatlah ditinggalkan keharusan mengacu buku panduan ini jika memang justru menambah rumit atau merepotkan.

[KEPULANGAN – 12/13 Oktober 2016]
: dalam 13 jam perjalanan Jakarta-Salatiga dan 7 jam penuh makna di Purwokerto

Sebuah tawaran mendadak datang dari Kang Heri Kristanto, komandan “bres” Komunitas Zona Bombong agar kami sudi mampir ke Purwokerto, untuk sekadar berdiskusi dan ber-sambungrasa atas serangkaian aktifitas-gerak kecil kami dalam ikut serta mewujudkan Desa Mandiri tanpa Korupsi (DMtK). Subuh kami sampai di Purwokerto dan singkat cerita kami berenam (Alfian, Jono, Awiek, Arif, Hidayah, dan Isnain) ditraktir sarapan di sebuah kedai Gudeg yang tersembunyi di ujung gang dekat dengan pasar besar (Pasar Wage) Purwokerto. Cerita pun berawal dari sini.

Saat ini tidak banyak—bahkan nyaris tidak ada—masyarakat yang mau menerima sebuah tawaran solusi yang melawan arus utama tanpa tersedianya bukti-bukti cukup dan konkrit. Apalagi di tengah hiruk-pikuk program beserta anggaran pemerintah yang menjanjikan perubahan sistematis namun perlahan. Oleh sebab itulah kami tiba pada satu kesimpulan bahwa pekerjaan terdekat adalah bagaimana menemukan satu komunitas yang mau secara riil menerapkan solusi terintegrasi, mulai dari pangan, pendidikan, ekonomi, ke-tenagakerja-an, dll. Satu komunitas saja cukup asal dapat menjadi contoh nyata bagi yang lain.

Spontan saat itu juga kami sepakat menengok apa yang terjadi di Desa Wlahar Wetan, Kec. Kalibagor, Kab. Purwokerto. Agar lengkap kami sempatkan menjemput Bung Rusdi Tagaroa (Tenaga Ahli yang direkrut Kemendesa-PDT) yang memang dalam beberapa hari sedang bertugas di Purwokerto. Beberapa materi perbincangan dengan Bung Rusdi dalam perjalanan menuju lokasi kian mempertajam kebutuhan panduan teknis di lapangan, semacam: integrasi kegiatan anak usia 0-12 bulan dalam Posyandu serta pembagian jenjang-jenjang kelompok usia yang membutuhkan kecermatan terkait situasi di masing-masing tempat.

Langkah kami berikutnya seakan “dituntun” agar lebih mendekat pada realitas. Perbincangan berikutnya dengan Kepala Desa Wlahar Wetan—Kang Dodiet Prasetyo Andiyanto, sesosok figur pemimpin muda—yang seakan memberi kami suntikan darah segar di balik deraan rasa lelah perjalanan sejak malam sebelumnya. Kang Dodiet menyampaikan imipian dan keberpihakannya pada isu PAUD, sembari menggambarkan potensi pedesaan Wlahar dan profil pengembangannya. Sedikit koreksi kami sampaikan terkait masih seringnya kita membandingkan desa dengan kota, sementara keduanya sudah jelas memiliki karakteristik yang berbeda. Akan butuh alat ukur yang berbeda ketika bicara kualitas, kemajuan ataupun keberhasilan sebuah desa karena desa dibangun dan dikembangkan tentu saja bukan untuk berubah menjadi kota. Meskipun sama-sama keduanya menuntut cara-cara pendekatan yang demokratis dan berkeadilan.

Pengalaman dialektis kami semakin lengkap ketika berkesempatan berkunjung ke Pos PAUD  “Mulia Bangsa” yang dikepalai langsung oleh Bu Kades. Sebuah bangunan tunggal, dengan cukup hanya terdiri dari 2 ruangan (kantor dan kelas) berada pada lanskap persawahan dengan perbukitan kecil di ujung-batas pandangan. Sejumlah orangtua (ibu-ibu dan beberapa bapak-bapak) bahkan nenek-nenek terlihat begitu akrab saling berbincang dalam beberapa kelompok, sambil menunggu kegiatan anak-anak berakhir. Di dalam ruangan, anak-anak dari berbagai kelompok usia berbaur dalam satu kegiatan penutup bersama para pendamping. Menyertai guliran keakraban tersebut, kami berbincang saling bertukar pengalaman, dengan Kang Dodiet (Pak Kades) dan Bu Kades. Nampaknya gayung pun tersambut, sehingga terbuka lebar harapan sekaligus langkah-langkah kongkrit berikutnya, bagi kami tim penyusun panduan juga Kang Dodiet dan istrinya yang punya mimpi sama mewujudkan PAUD berkualitas yang berkonteks lokal.

Kami menutup perjumpaan dengan sedikit bincang-simpulan dengan Kang Heri, bahwasanya dalam konteks masa kini memang yang dibutuhkan bukan sosok-sosok hebat nan ideal. Tetapi lebih pada saling-bantu, saling mengisi dan saling menggenapi kekurangan satu-sama lain. Agar kita semakin menyadari bahwa berjejaring antar individu dan komunitas bukan untuk saling-bersaing, tetapi berdialog dan bergandengan-tangan mengejar solusi paling cepat dan paling mudah. Dengan menuntaskan satu contoh solusi yang terintegrasi, akan membantu tersebarnya solusi di tempat lain. Semoga saja...

Bumi Sepanggang, 17 Oktober 2016

IMPLEMENTASI SINERGIS PAUD KOMUNITAS BERBASIS DESA

Read More



Sudah cukup banyak koreksi atas praktik pendidikan ala pemerintah saat ini, namun bukan berarti persoalan di dalamnya menjadi cepat terselesaikan, apalagi berharap pada terjadinya perubahan yang menggembirakan. Pun agaknya kita perlu menengok sebentar ke belakang, di mana perkembangan praktik pendidikan bangsa ini pada dasarnya berwatak mandiri dan lokal. Kita juga punya banyak sekali pemikir besar sekaligus praktisi pendidikan yang meletakkan pondasi lebih dulu daripada tokoh-tokoh pendidikan dunia seperti: A.S. Neill, Paulo Freire, Ivan Illich,Jean Piaget, dll. Sebut saja kita punya Haji Agus Salim, Moh. Natsir, Tengku Mohammad Syafei, Tan Malaka, Ki Hajar Dewantara, Y.B. Mangunwijaya, dan masih banyak lagi, yang mereka selalu menyandingkan corak kebangsaan dan watak kemandirian yang berakar, ke dalam pemikiran dan praktik pendidikan yang mereka bentangkan.

Model-model praktik pendidikan pun sejak dulu bangsa ini tak kurang punya banyak sekali varian yang kesemuanya menunjukkan bahwa muatan konteks menjadi lebih dominan dan lebih solutif dalam memecahkan persoalan-persoalan masyarakat pada zamannya. Konsep mandala, padepokan, perguruan, pesantren berkembang pada fase di mana figur kebijaksanaan sentral menjadi patron. Lalu di permulaan abad 20, seiring dengan tumbuhnya wawasan kebangsaan dan pergerakan nasional menuju kemerdekaanan, muncul pelbagai praktik dan dialektika pemikiran yang mengkritisi kelangsungan pendidikan ala pemerintah (penjajah) kolonial. Sebut saja Sarasehan “MALAM SELASA KLIWONAN” di  Yogyakarta yang kemudian melahirkan National Onderwijs Institut “TAMAN SISWA” (Ki Ageng Suryomentaram, Ki Hajar Dewantara, dkk), lalu Soerjo Soemirat Afdeeling “TASHWIROEL AFKAR” di Surabaya yang mempertemukan pegiat-pegiat NU, Muhammadiyah dan Budi Utomo dalam satu forum diskusi (K.H. Wahan Chasbullah, K.H. Mas Mansur, dll), juga Indonesische Nederland School “KAYU TANAM” di Sumatera Barat yang menitik-beratkan berkembangnya minat-bakat yang sesuai dengan kebutuhan rakyat Indonesia (Tengku Mohammad Syafei), dsb. Sehingga tak heran jika pada kurun waktu ini faktanya seperti Taman Siswa sempat  dibredel pada usia belum genap satu tahun, Tashwiroel Afkar harus menggunakan awalan ‘Soerjo Soemirat’ agar aktifitasnya bisa berjalan.

Kemudian pada jelang akhir abad 20, SD Eksperimental Mangunan di Yogyakarta mencoba “keluar” dari kungkungan arus utama pendidikan dengan mengkontekstualisasikan hal-hal lama ke dalam sesuatu  yang lebih menarik dan hidup, menyesuaikan dengan dinamika kebutuhan dan persoalan bangsa (Romo Mangun, dkk di Dinamika Edukasi Dasar) di tengah orde/rezim yang hegemonik pada saat itu. Tak lama berikutnya muncul beragam praktik pendidikan ‘arus-lain’ seperti: Sanggar Anak Alam – Yogyakarta (Toto Raharjo, dkk), Sekolah Otonom Sanggak Anak Akar – Jakarta (Soesilo Adinegoro, Ibe Karyanto, dkk), Sokola Rimba – Jambi (Butet Manurung, dkk), Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah – Salatiga (Bahruddin, dkk), yang kemudian disusul lagi kemunculan banyak komunitas-komunitas belajar yang menjadi laboratorium-laboratorium praktik langsung di masyarakat, semacam Omah Dongeng Marwah – Kudus (Hasan Aoni Azis, dkk), Rumah Belajar Ilalang – Jepara (Den Hasan, dkk), Kampung Pingin Maju – Jepara (Arif Hidayat, dkk), Sanggar Pasamuan Among Anak – Karanganyar (Alfian, dkk), dan masih banyak lagi. Ke semua model itu mengetengahkan keniscayaan bahwa ‘pendidikan untuk semua’ hanya bisa tercapai (dalam waktu cepat) jika masyarakat mampu bergerak mandiri tidak bergantung pada ketersediaan layanan dan kemudahan dari pemerintah. Akan tetapi menjadi sebuah langkah bersama antar warga dalam suatu komunitas untuk berbagi kemudahan (fasilitas), saling bantu dan secara realistis mengoptimalkan sumberdaya yang ada di sekitar. Agar tidak justru menjadi beban dan dapat sesegera mungkin terbangun ekosistem pendidikan melalui perbanyakan yang terjadi di banyak tempat, sehingga negara dalam hal ini akan sangat terkurangi bebannya karena masyarakat terlayani bukan oleh siapa-siapa, melainkan dari upaya dan kegigihan mereka sendiri. Lalu patutlah kita lebih sederhanakan lagi batasan pendidikan itu sebagai:

  • Ketika berkumpul lalu bermusyawarah adalah dalam rangka membahas persoalan keseharian, lalu mengelola solusinya secara bersama-sama;
  • Ketika belajar menjadi sebuah gerakan menghargai keberagaman kecerdasan dan potensi serta selalu bersandar pada konteks kehidupan lokal;
  • Ketika berkembang gagasan kreatif dan inovatif dalam masyarakat untuk mengelola potensi sumberdaya alam setempat secara adil dan berkelanjutan sehingga mandiri dalam mencukupi kebutuhan;
  • Ketika terselenggara pendidikan yang utuh dan terpadu mulai dari anak usia dini hingga dewasa dengan bertumpu pada tradisi kepengasuhan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat;
  • Ketika terbangun peran-serta dan jejaring antar warga/komunitas kritis untuk perubahan yang lebih baik dan berkeadilan;


Lalu di mana letak Pendidikan Formal (sekolah)? Pasti itu pertanyaan yang muncul kemudian. Saya jadi ingat manakala sempat bersama kawan-kawan berbincang dengan seorang Uskup di Larantuka. Beliau menyampaikan keyakinan bahwasanya sekolah itu hanya ‘pembantu’ saja, karena utamanya seorang manusia itu terdidik dari keluarga dan masyarakat. Hal ini tentu selaras dengan apa yang kita yakini bersama sebagai bangsa relijius dan juga bangsa timur, bahwa pendidikan keluarga adalah basis pertama, di mana pondasi jiwa dan raga seseorang terbangun bersama pola kepengasuhan yang selayaknya tak kenal putus (sepanjang hayat). Sementara sekolah (sebagai model pendidikan formal  yang susah berubah) cukup hanya menjadi pelengkap saja, lewat keseragaman pengajaran yang membantu seseorang kenal dengan ilmu-ilmu alat (bahasa dan logika) sebagai bekal pembacaan mereka atas konteks kehidupan di sekitarnya. Ramuan lebih lanjut kiranya akan lebih matang jika direfleksikan bersama (keluarga dan masyarakat) sehingga terpadu dan tepat-guna dalam memenuhi kualitas penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang dimaksud di awal tulisan (percepatan perubahan). Karena (sekali lagi) bangsa ini lebih butuh keluaran pendidikan yang:

  • Minimal TIDAK MEREPOTKAN orang lain, setelah seseorang—anak misalnya— mampu mengenal dan memahami diri sendiri (identifikasi-diri) dalam perjalanan hidupnya.
  • Syukur-syukur MENJADI MANFAAT bagi sekitar, karena ada keluasan hati, pikiran, dan tenaga yang terus menerus tergali dan terbangun dalam proses berdialog dan berdamai dengan alam dan manusia di sekitarnya;
  • Kemudian tumbuh KECERDASAN RUHANI-nya, sebagai akibat dari sikap dan tindakan yang selalu dikaitkan dengan kausalitas (sebab-akibat) penciptaan, kesalehan sosial dan kearifan memaknai kelemahan diri jika tanpa dukungan semesta-sekitar;

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2017 yang juga berarti Selamat Merayakan Hari Maulid Ki Hajar Dewantara yang ke-128, dan selamat memaknai pendidikan dalam arti seluas-luasnya!

Bumi Sepanggang, 2 Mei 2017

SENARAI MAULID PENDIDIKAN ALTERNATIF

Read More

: Refleksi Praktik Penyelenggaraan Pendidikan Komunitas Berbasis Konteks Kehidupan Lokal-Setempat


"Kita tak perlu berproses selama 300-an tahun untuk mengejar kualitas sebagaimana negara-negara berpendidikan maju, semacam Finlandia atau Inggris, yang logikanya men-syaratkan mereka berhenti berproses.  Atau apakah kita mau meminta mereka melangkah mundur agar rentang waktu itu menjadi pendek? Tidak juga bukan? Saya yakin dengan menjalankan konsep alternatif ini tahun depan kita semua, bangsa ini mampu melampaui anggapan ketertinggalan itu." (Bahruddin - KBQT Salatiga)

Di tengah kegamangan/kegalauan yang terjadi belakangan ini, menuntut adanya upaya terus-menerus berefleksi bersama antar pelaku/pegiat di sela proses yang sedang berjalan. Untuk itulah sedikit catatan ini tidak hanya menjadi rekaman atas dialog/diskusi malam ini akan tetapi juga merupakan bentuk keniscayaan komunikasi mawas-diri.

Kita dihadapkan pada kenyataan masyarakat yang beragam. Sehingga pendekatan strategis yang paling sesuai adalah nilai-nilai umum (universal) yang disepakati bersama. Sebagai bangsa Timur kita pun beruntung punya warisan kekayaan budaya yang mem-fasilitasi kebutuhan itu, yakni: musyawarah (rembug), gotong-royong (sangga-gawe), tenggang-rasa (tepa-slira), kerjasama (sengkuyungan), tahu-diri (empan-papan), saling-berbagi (urun), dan lain sebagainya. Pada sisi lain, kita hampir lupa menyadari bahwa sebetulnya sudah kaya dengan alam yang sedemikian berpihak: udara yang bersih, tanah yang subur, air yang jernih, sumber energi yang melimpah. Tinggal bagaimana kemauan kita untuk mau berdamai dengan apapun/siapapun lewat cara selalu berusaha menemukan sisi positif/kebaikan agar kemewahan sumberdaya itu menjadi optimal terdayaguna.

Dengan begitu keragaman pada dengan sendirinya hanya pantas dipandang sebagai kekayaan (modal) yang sangat cukup untuk membangun kekuatan strategis dimaksud. Kunci mengawalinya terletak pada adanya ruang dialog, di mana segala keragaman tadi bertemu dan menghasilkan kesepakatan yang kita kenal sebagai mufakat. Jika cara ini secara kontinyu dilakukan, di situlah tonggak kedaulatan politik warga belajar secara substansial (mendasar) sebetulnya tercapai. Sehingga ketika ada instruksi (arahan), aturan, ataupun batasan-batasan akan sepenuhnya kembali pada ketersediaan mufakat yang dimengerti bersama (tanpa tekanan dan keterpaksaan).

Selanjutnya untuk menjadi suatu tindakan yang progressif (gerak-maju), muatan pembahasan (isi pembelajaran) yang dikedepankan adalah bagaimana seseorang atau sebuah komunitas belajar mencapai kemandirian penuh mengelola dirinya sehingga mampu mencukupi kebutuhannya sendiri (subsisten). Makna kemandirian itu sederhananya adalah tidak pernah bergantung oleh apapun/siapapun namun tetap mengakar pada konteks yang sudah alami melekat (apa adanya). Jalan menuju kemandirian itu tiada lain lewat kesungguhan berkarya dan berproduksi. Sedangkan modal dan alat produksi sudah tersedia melimpah di sekitar kita. Lalu bagaimana mengelolanya secara adil? Nah keseluruhan proses pengelolaan itulah sesungguhnya yang disebut proses belajar dalam kaitan dengan penyelenggaraan pendidikan komunitas. Karena yang terjadi adalah sebuah proses refleksi (tinjau-diri) bersama yang bakal terus-menerus dilakukan menyertai langkah-langkah berkarya dan berproduksi demi tercapainya kemandirian individu ataupun komunal.

Jika proses belajar dimaknai sebagai langkah-langkah mengoptimalkan kecerdasan, maka dengan sendirinya menyederhanakan tujuan pendidikan itu sendiri, yakni menggapai KEHIDUPAN LEBIH BAIK. Berikutnya makna keberhasilan seseorang dalam belajar adalah jika:
MINIMAL TIDAK MEREPOTKAN APAPUN/SIAPAPUN, setelah seseoranganak misalnya mampu mengenal dan memahami diri sendiri (identifikasi-diri) dalam perjalanan hidupnya. Karena bahkan alam pun ketika tidak direpoti maka akan menjadi lestari;
MENJADI MANFAAT BAGI APA/SIAPA SAJA, karena ada keluasan hati, pikiran, dan tenaga yang terus menerus tergali dan terbangun dalam proses berdialog dan berdamai dengan sekitar;
TERBANGUN KECERDASAN RUHANINYA, akibat sikap dan tindakan yang selalu dikaitkan dengan kausalitas penciptaan, kesalehan sosial dan kearifan memaknai kelemahan diri jika tanpa dukungan semesta-sekitar.
Integrasi (padu-padan) kesemuanya itu berujung pada kualitas penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang dimaksud di awal tulisan. Semua akan berproses-belajar, mulai dari diri sendiri, keluarga, komunitas dan masyarakat lebih luas. Sehingga makna tri-matra pendidikan Ki Hajar Dewantara: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani akan menemukan korelasinya. Sebagai bangsa bermartabat pun kita menjadi kian terbangun kepercayaan-dirinya, sehingga tidak mudah dipengaruhi produk pemikiran bangsa lain yang belum tentu sesuai dengan akar sosial, kearifan budaya, dan kemewahan alam yang kita punya, termasuk dalam kaitannya dengan pemikiran, ideologi/faham, dan juga metode pendidikan.

Bumi Sepanggang, 2 Desember 2016

#kbqt
#qaryah_thayyibah

===========
dalam foto:
■ Ahmad Bahruddin, Sujono Samba, Awiek Mahasin (Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah - Salatiga)
■ Alfian Hasan (Sanggar Komunitas Pamongan - Karanganyar)
■ Yudi, Ardika (Sekolah Alam Bengawan Solo - Klaten)


telah d beberapa kali dipublish:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10154179217640415&id=738725414
https://m.facebook.com/ashokaindonesia/photos/a.223796891093155/789657611173744/?type=3
https://www.linkedin.com/pulse/ngaji-bareng-desaku-sekolahku-refleksi-praktik-ashoka-indonesia?trk=hp-feed-article-title-publish

NGAJI BARENG DESAKU, SEKOLAHKU

Read More

: Jejak Gagasan tentang Garasi Gagasan

Menjadi sebuah kabar gembira manakala masih ada segelintir anak-anak muda yang notabene para sarjana berkumpul, berdiskusi, berbagi hal-hal baik, saling menyemangati dan menebar harapan dari pengalaman-pengalaman kecil yang menginspirasi. Lebih-lebih apa yang tengah dikupas adalah hal-hal maknawi nan mendasar yang melampaui kapasitas profesi ataupun basis keilmuan formal yang pernah ditempuh para pegiatnya. Semangat itulah sejauh ini yang dapat tertangkap dari kali pertama hingga ketiga pelaksanaan Garasi gagasan yang sudah pernah terselenggara.

Berangkat dari dialog satu-dua orang yang memendam kegelisahan tanpa muara, kemudian iramanya menggedor sekat-sekat tak tersadari akibat keniscayaan rutinitas dan tensi aktifitas anak-anak muda masa kini, terbitlah sebuah wacana ruang kohesi gagasan aplikatif ini. Sebuah ruang yang bukan berangkat dari kemegahan, tapi dari ketidakberdayaan yang direspon secara kritis dalam jangkauan yang logis pula. Menghadirkan apa yang bisa dilakukan sekarang, di mana saja dan oleh siapa pun, yang justru itu menjadi batasan sangat egaliter dalam kecamuk perdebatan kosong yang banyak mengemuka di ranah publik belakangan ini.

Apabila semakin banyak pihak menyadari bahwa jalan keluar sesungguhnya bukan bergantung pada kehebatan, melainkan terletak pada kemauan untuk menajamkan mawas dalam diri dan memulai sesegera mungkin hal baik yang diyakini bersama orang-orang terdekat. Dengan begitu siapa saja akan sibuk dengan denyut-denyut kecil yang menyumbang frekuensi kebaikan dan manfaat yang berdampak langsung lagi meluas. Merawat lalu menguatkan denyut-denyut kecil itulah saat sekarang menjadi perhatian dan medan dialog untuk kerja-kerja perubahan yang riil namun senyap dari perayaan ini. Setiap kehadiran, setiap perjumpaan, dan setiap dialog harapannya akan selalu melahirkan jiwa-jiwa yang terbarui, kian tahu dan mengerti hendak ke mana mengarahkan pandangan, sadar dan yakin bagaimana menghadirkan sentuhan, serta tulus dan sepenuh hati melakukan perjalanan. Hati terbuka dan rasa percaya bahwa kebaikan sudah tersedia dan tinggal menjalankannya, menjadi bekal berharga mengawali langkah-langkah yang masih muda ini.

KILAS BALIK


#1: Kencan Perdana yang Melandasi

Kesempatan pertama yang mulanya berbalut keraguan dan kegamangan dari para inisiator, akhirnya terlaksana pada malam tgl 30 September 2017, di sebuah garasi rumah yang luas dan nyaman, terhubung langsung dengan halaman terbuka di dalam. Dua orang penyaji sesi rintisan ini (Lintang dan Yudas) sungguh memantik keberanian untuk tak henti-henti menggelorakan cara pandang yang lebih mendasar dalam kreatifitas dan keseharian, setidaknya untuk diri saya sendiri. Kita seperti diingatkan bahwa kemampuan dan kosakata awam masyarakat kita sesungguhnya telah mencukupi dalam segala seginya, asal pintu masuk pembacaan dan nalar kajiannya tidak serta-merta tunduk dalam arus besar masyarakat dunia yang hegemonik. Lintang menyajikan sederet refleksi atas upaya-upaya solutif yang mengawinkan disiplin arsitektur dengan problem sosial perkotaan terkini, lewat rekam kegiatannya bersama kawan-kawan arsitek komunitas dan dinamika personal dia sendiri. Sementara Yudas begitu renyah menyajikan refleksi beningnya selama menyertai proses ber-arsitektur seorang arsitek patron (Eko Prawoto) yang tekun mengusung semangat lokalitas, kelestarian lingkungan dan penyelamatan tradisi teknik bangunan dan pertukangan nusantara. Kedua arsitek muda ini seakan ingin menunjukkan betapa masih luasnya ruang-ruang yang sebetulnya belum terisi untuk berbuat sesuatu di dalam ataupun bersama masyarakat. Mereka berdua telah memilih dan ternyata itu pun mampu mengawali kesan yang membangun harapan dan kepercayaan diri dalam diskusi dan dialog kritis yang menyertainya. Tanpa sadar, helatan perdana ini sudah lebih dari memadai untuk menjadi tolok ukur konsep dan kemasan pertemuan berikutnya. Garasi, lesehan, forum melingkar, berbagi refleksi, serta suguhan cemilan dan minuman penghangat suasana, membangun landasan harapan forum-forum berikutnya.

#2: Kehangatan yang Terlampaui

Menyusul perhelatan perdana, Garasi Gagasan periode berikutnya terselenggara di Karanganyar, 19 November 2017, sedikit menepi dari hiruk pikuk Kota Solo yang menjadi tonggak ramuan nuansa dan padu-karsa perdana para pegiatnya. Meski bukan lagi digelar di garasi dan mengambil waktu pagi jelang siang pula, namun pertemuan kedua ini justru diwarnai suasana kekeluargaan dan kebersamaan yang lebih kental. Dua penyaji, yakni Alfian (saya sendiri) dan Bangkit pada dasarnya sekedar menyajikan hal-hal umum yang membuka lebih lebar lagi medan-medan berkarya di luar kungkungan disiplin keilmuan atau profesi sebagaimana dimaksud di awal tulisan. Alfian menyajikan ironi dan kenyataan keluaran perguruan tinggi yang justru masih kebingungan mengambil peran di masyarakat lewat refleksi pribadinya di dunia pendidikan anak dan masyarakat. Sementara Bangkit menggali peluang lebih jauh bagaimana seorang sarjana arsitektur mengidentifikasikan diri bersama kultur masyarakat agraris sebagai hulu kearifan masyarakat nusantara yang tak terbatas pada aspek teknik dan estetis belaka. Dua sajian yang dihimpun dalam satu tema “Desa” ini nampaknya menjadi penyeimbang konteks dari sesi sebelumnya. Menguak kelindan persoalan perkotaan dan perdesaan nyatanya tidak bisa didekati secara terpisah karena keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. Sedangkan refleksi bersama yang dapat diambil dari helatan kedua ini bahwasanya bukan saatnya lagi menunda berbuat sesuatu mulai dari lingkaran sosial terdekat tanpa adanya tuntutan konsep atau rancangan besar yang mendahuluinya. Hal menarik lain yang nampak adalah sesi diskusi yang justru berkembang ke tema-tema pendidikan keluarga dan pengorganisasian komunitas yang seolah gayut dengan semangat kebersamaan yang sedang dibangun. Anak kecil, berbagi makanan, kopi dingin, demo racik kopi, cinderamata benih dan obrolan hangat hingga sore, melampaui sekat forum diskusi pada umumnya.

#3: Merawat Nyala yang Telah Tersulut

Agaknya memang masih belum jera mendekati tema lokalitas dari berbagai sudut pandang, sehingga pada kesempatan ketiga Garasi Gagasan, tema ini kembali mengemuka. Mengambil lokasi sebuah bengkel kerja (workshop) produksi mebel di Kadipiro-Banjarsari pada 11 Februari 2018, diskusi siang itu bersanding dengan aroma kayu dan irama kota solo di Hari Minggu. Dua penyaji sama-sama merefleksikan proses kreatif dari perspektif masing-masing. Yuditeha, seorang tukang cukur yang penulis (atau sebaliknya) mendedah bagaimana cara kerja dia dalam penulisan fiksi yang sebetulnya melulu bicara refleksi atas segala peristiwa atau perjumpaan dengan siapa saja. Sedangkan Dian ABS, seorang peng-onthel yang arsitek (pun juga bisa sebaliknya) menayangkan secara detail bagaimana konteks spasial dan waktu yang pernah dialaminya—yang bahkan semenjak kecil—mewarnai bangun nalar dan rasa yang digunakannya ketika berkarya hingga sekarang. Dua penyaji ini kian membuka cakrawala lokalitas secara lebih dekat lagi personal, bercermin dari ramuan pengalaman paling intim yang menjadi atmosfir masing-masing. Bidikan-bidikan detail dan kematangan interpretasi yang melintasi batasan definisi berkarya menjadi refleksi bersama yang mengesankan. Sehingga diskusi yang menyertainya secara alami mengungkap bagaimana kecenderungan eksistensi dan realita pada umumnya menjadi tantangan tersendiri saat ini. Perlu kepekaan dan ketelatenan yang cukup untuk menghimpun keseluruhan terma dan konteks yang ada dalam proses kreatif sebuah karya. Dan nampaknya forum kali ini mengajak semuanya untuk beranjak menyelami hulu kreatifitas sekaligus membentangkan cakrawala batin menjadi setajam mungkin, agar setiap peristiwa yang terjadi—entah itu berlatar sosial, budaya, politik, sejarah, dan sebagainya—di sekeliling kita menjadi sandaran berkarya selayaknya gelegak mata air dalam perigi yang terus kita rekam dan maknai dinamikanya. Racikan kopi rempah, beras kencur, bakpia, thiwul dan aneka jajanan pasar, menandai kesekian kalinya lokalitas meng-atmosfir dalam ruang dialog Garasi Gagasan kali ini.

Patut saya sampaikan apresiasi yang tinggi untuk beberapa nama: Sela, Lala, Lintang, Yudas, Tiara, dll. Atas prakarsa merekalah ruang dialektika dan belajar pasca-sekolah ini terjadi. Ruang seperti ini nyatanya dapat menunda rasa kenyang dan cukup dalam situasi serba mudah oleh fasilitas dan juga gelontoran arus besar yang memabukkan jika tidak secepatnya kita sadari belakangan ini. Hanya perlu digarisbawahi bahwa di luar sana banyak masyarakat yang membutuhkan karya-karya sosial yang mudah diterapkan dan berhadapan langsung dengan problematika keseharian pada umumnya. Peran dan fungsi para sarjana—atau siapa pun yang tercerahkan dan menyimpan kegelisahan atas nasib bangsanya—seyogyanya mengisi kekosongan untuk berjibaku langsung dengan situasi tersebut. Kelahiran pegiat-pegiat sosial pada era sekarang tak perlu lagi secara eksplisit “berbaju” aktifis sehingga mengesankan simbol tertentu yang heroik. Siapapun dapat memulainya dalam jangkauan bentang kapasitas masing-masing. Jika kedekatan relasi dengan komunitas riil-nya dalam keluarga dan masyarakat dirawat betul, maka seseorang—entah itu sarjana atau bukan—sudah pasti pada saatnya akan menyandang amanat sebagai kepala keluarga, ibu rumah tangga, pengurus RT, pemangku lingkungan, panitia hajatan warga, dsb. Beberapa contoh tersebut hanya menyebutkan sebagian kecil keniscayaan peran dan fungsi yang ada di depan mata.

Selebihnya akan banyak cara dan terobosan yang lebih menarik untuk menyiapkannya lewat forum sedinamis Garasi Gagasan. Melulu berkumpul, berdiskusi, atau berbagi pengalaman lewat sajian presentasi dari kita-kita sendiri mungkin juga bakal mengundang jenuh dengan sendirinya. Sesekali bisa saja anak-anak jalanan, pengasong, tukang ojek, penjual sate, juru kunci makam, penjaga pintu rel kereta api, dan sebagainya kita beri tempat. Atau praktik-praktik sederhana teknologi tepat guna yang sudah sempat dijalankan oleh siapa saja, kita pelajari dan simulasikan. Sehingga harapannya setiap kali selesai gelaran Garasi Gagasan, ada perubahan nilai tambah yang terjadi. Setidaknya membumikan pola pikir para pegiatnya, syukur-syukur ikut andil menyebarkan dampaknya ke orang-orang terdekat masing masing dengan turut serta mempraktikkannya. Sikap dan tindakan yang demikian ini sesungguhnya menjadi angsuran-angsuran yang sedikit demi sedikit dapat memberi kesempatan bagi kita melunasi “hutang” kepada keluarga, masyarakat dan bangsa pada umumnya. Saya jadi teringat dengan salah satu pesan di bawah, sekiranya menjadi penutup tulisan andai-andai yang belum tentu berguna ini:

“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak pernah diberikan sama sekali" (Tan Malaka, Madilog)

Ahmad M. Nizar Alfian Hasan
Solo-Karanganyar, 16-22 Maret 2018

#garasigagasan


=================
publish sebelumnya di https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10155481203010415&id=738725414

BERBAGI REFLEKSI YANG MENGGERAKKAN

Read More