Sabtu, 25 Juli 2020

Oleh: Ahmad M. Nizar Alfian Hasan



"Sekolahku nanti kelas-kelasnya akan disebar ke rumah-rumah penduduk. Sehingga sekolah cukup menyediakan fasilitas-fasilitas pendukung saja, seperti perpustakaan, gudang, ruang internet, komputer, dan lain-lain." (Hilmy)

Belakangan ini saya teringat kembali dengan suasana malam itu, duduk bersebelahan dengan anak laki-laki usia SMP, diterangi temaram lampu sebuah angkringan, pada satu sudut trotoar Taman Pancasila Kota Salatiga. Malam itu kami berdua cukup dalam menggagas masa depan sekolah alternatif yang menjadi tempat anak itu belajar, di sebuah desa yang masih kental dengan iklim pesantren dan pertanian.

Tak terasa waktu berjalan 14 tahun sejak perbincangan itu terjadi. Apa yang kami bicarakan dulu seolah terkabul jawabannya di masa pandemi ini. Segala hal terkait dengan formalitas sekolah harus tertunda untuk waktu yang tak bisa diprediksi. Sudah hampir lima bulan anak-anak sekolah berdiam diri di rumah, melewati pergantian tahun ajaran yang betul-betul berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Tahun ajaran baru dimulai, dengam begitu banyaknya problematika pelaksanaan yang terjadi.

Empat belas tahun bukanlah waktu singkat untuk berkembangnya teknologi yang seharusnya paling dulu menunjang keniscayaan desentralisasi pembelajaran yang secara eksplisit terkandung dalam kutipan di awal tulisan ini. Tetapi nampaknya persoalan sesungguhnya tak seremeh itu. Pendidikan bukan hanya tentang ketersediaan jaringan internet ataupun kelihaian seorang murid dan guru menggunakan gadget. Butuh sikap dan penyesuaian yang lebih mendasar untuk memaknai pendidikan anak di masa pandemi ini sebagai adaptasi guna menyiapkan satu keutuhan sistem yang lebih sesuai di kemudian hari.

Kita patut berbangga memiliki menteri pendidikan yang menjiwai kecenderungan masa depan teknologi, tetapi kita pun tak kurang prihatin dengan adanya kesenjangan konteks dengan kenyataan yang ada di negeri ini. Ketika tetap saja pendidikan terkebiri maknanya hanya sebagai sekolah, yang mengharuskan para siswa bergulat dengan tuntutan hapalan dan kompetisi, maka bakal lebih banyak anak-anak yang terpinggirkan dari amanat konstitusi.

Terbersit satu harapan yang tumbuh bersama kemampuan masyarakat mengatasi persoalannya sendiri, termasuk sekadar memikirkan kegiatan yang lebih bermakna daripada bermain gadget dan menonton televisi. Orangtua-orangtua yang masih mau menyisihkan lebih banyak waktunya untuk anak-anak, mengingatkan saya pada hirarki pendidikan yang sepenuhnya menjadi kewajiban keluarga. Orangtua-orangtua yang mau terbuka berdialog dan berbagi peran dengan warga lainnya, membangun suatu ekosistem pendidikan lewat kegiatan bersama, sanggar kreatif, taman baca, komunitas belajar, atau sekadar menyediakan ruang-ruang interaksi yang membangun mental belajar anak pada satu lingkungan, mengingatkan saya pada buku 'Desaku Sekolahku' yang terbit setahun setelah terjadinya perbincangan di awal tulisan ini.

Mungkin sudah saatnya kita harus kembali menjajaki kemungkinan bentuk sekolah yang betul-betul baru. Tidak hanya berubah piranti, tetapi juga secara radikal bertransformasi, menjelajahi konteks-konteks yang unik di setiap tempat dan keadaan. Fungsi negara dalam hal ini cukup memfasilitasi tumbuhnya kesadaran baru tersebut, lewat kerjasama dan kemudahan birokrasi yang efektif. Jadi, justru bukan dengan membuat program hibah kompetisi yang penuh dengan tendensi. Sehingga jalan menuju era baru pendidikan yang lebih membumi niscaya hadir tak lama lagi. (ian) ***


Sepanggang, 25 Juli 2020




DESAKU SEKOLAHKU DAN HAL-HAL YANG BELUM SELESAI

Read More

Jumat, 17 Juli 2020

Refleksi Diskusi ke[kalang]an #2
(sebuah narasi tentang ketukangan)



Pada awalnya, sempat saya berpikir, "Nggak salah nih, IAI Solo mengundang Pak Paulus Mintarga dan Mas Yoshi Fajar Kresno Murti jadi pembicara?" Sebab saya menduga, apa yang bakal disampaikan keduanya secara bersamaan bakal menggedor kemapanan cara pandang arus utama, baik itu dari praktisi profesional ataupun mahasiswa.

Tetapi saya tetap berharap banyak dengan gairah IAI Solo belakangan ini, yang produktif membuat acara dengan mengundang khalayak. Sedangkan kali ini saya hanya akan merefleksikan sebagian kecil pemahaman yang saya dapat dari dua narasumber berkompeten dalam kegiatan diskusi itu. Kebetulan dua-duanya telah bergelut dengan praktik 'ketukangan' selama 15 tahun (mungkin lebih) dan tentu saja 'menghadiahkan' jejak karya arsitektural yang terbilang kaya dengan pengetahuan yang dapat ditularkan. Semoga tidak salah dalam saya menduga.

Secara dangkal saya membedakan antara Pak Paulus yang banyak bereksplorasi tentang kesadaran site dan material, sedangkan Mas Yoshi lebih dalam lagi menyelami esensi dan cara pandang arsitektur terhadap keberlangsungan kehidupan nyata. Terasa sekali, perspektif kedua pembicara menjelaskan perihal 'nilai' arsitektur yang melampaui batasan tubuh (fisik) yang tampak. Lebih-lebih Mas Yoshi yang hanya menempatkan perwujudan arsitektur tak lebih sebagai dampak logis belaka, bukan sebagai tujuan.

Sedikit meringkas tema mendasar yang Mas Yoshi bawa mengenai 'ugahari' dan ketukangan, sebagai konsep laku dan pikir yang berdampak luas lagi holistik, menyentuh segala aspek sosial, budaya, ekonomi dan politik yang lekat terhadap konteks ruang ataupun waktu. Saya bayangkan akan selalu ada pergerakan, yang melibatkan antar-pihak dalam setiap 'proyek' Mas Yoshi. Ada sesuatu yang tertanam, terawat, lalu tumbuh menjadi sesuatu yang baru, namun juga masih terjelaskan kegayutannya dengan situasi sebelumnya. Semisal pertumbuhan pengalaman dan wawasan pemilik yang bisa dilihat dari sebelum dan sesudah rumahnya terbangun. Atau percepatan regenerasi keahlian dan ketrampilan memberdayakan potensi (tidak hanya material) setempat,  manakala antar-pihak terlibat aktif mengambil peran masing-masing dengan pas. Nah, kosakata 'pas' ini, yang kurang lebih sepadan dengan kata 'wangun' dalam bahasa Jawa, menjelaskan 'ugahari' sebagai satu konsep berpikir, metode dan hasil yang kelak terjadi.

Saya kembali teringat perihal 'ketukangan' dimaksud, yang barangkali masih sempat saya saksikan melekat pada generasi kakek saya. Tiga puluhan lampau, sangat lazim dijumpai alat pertukangan, pertanian, dan alat-alat dapur tersimpan di pawon. Sudah biasa seseorang selain bisa tandur, matun, derep, ngerek gabah, nggejik dhele, nyambat kambil, napen, ngayak, dondom, nguleg, ngungkal, ndeplok, dll, mereka juga menguasai keahlian-keahlian ketukangan kayu dan ketrampilan tangan lainnya. Berbagai macam 'skill' ketahanan hidup itu bahkan sejak dini dikenalkan pada anak-anak, laki ataupun perempuan. Sehingga bukan hal aneh ketika anak seusia TK-SD sudah biasa menggunakan lading (pisau), lalu beranjak secara bertahap menggunakan graji (gergaji), tatah (pahat), arit (sabit), dan sebagainya, untuk membuat mainan atau benda-benda lain. Sekarang, edukasi ketrampilan seperti itu bisa saja masih ada dan terjadi, namun sudah semakin sedikit dan tinggal tersisa di desa-desa pelosok saja. Analoginya, bagi generasi seumuran bapak-ibuk saya, memanjat kelapa dan nyilem ke dalam sumur sudah jadi ketrampilan yang jarang orang menguasai, turun sampai ke generasi saya tinggal daftar kosakata.

Mungkin masih jauh panggang daripada api, refleksi sangat singkat ini jika dikembalikan pada muatan acara. Lepas dari itu, saya seperti mendapatkan hawa segar dan pada akhirnya bisa bernapas lebih lega untuk kembali menyadari satu ekosistem yang betul-betul terasa dekat dan bisa dirasakan seperti ini. Hanya saja di akhir acara saya sempat berpikir kembali ke pertanyaan awal. Apalagi setelah mendengarkan beberapa pertanyaan dan tanggapan dari peserta. Saya berasumsi bahwa mahasiswa hanya akan mendapatkan sensasi permukaannya saja (seperti halnya saya), sementara praktisi akan menanggapinya secara pragmatis sebagai kontroversi beda arus yang hanya bisa dimaklumi pada ranah akademik. Semoga kali ini saya salah meletakkan asumsi.

Sebab pada kenyataannya meski apa yang dipaparkan oleh kedua pembicara lebih berupa gambaran praktik dan proses, apakah lalu mudah bagi peserta pada umumnya menerima itu sebagai bukan wacana? Karena ketika kedua hal itu belum pernah terselami sendiri, maka sebagaimana tulisan ini hanya akan menjadi pemahaman sia-sia saja, karena tidak ada 'pergerakan' apapun yang sesungguhnya terjadi.

Karanganyar, 7 Maret 2020

GERAK-DAMPAK DALAM ARSITEKTUR

Read More

Senin, 16 Maret 2020

(Catatan Seorang Pemula dalam Laku Spiritual)




Saya, bisa dibilang awam atau pemula dalam laku spiritual, lebih khusus meditasi. Beberapa kali mengikuti kajian dan praktik meditasi bersama SHD, belum ada hal spesifik yang membuat saya mengerti kondisi hening yang dimaksud. Sampai pada acara di Batuwarno awal Desember 2019 lalu, ada satu sesi --dari beberapa sesi-- meditasi yang membuat saya serasa mendapat curahan energi yang menyegarkan. Saya sebut begitu karena dalam kondisi hening itu saya berada di ambang kesadaran (semacam tertidur tapi sadar) dengan menyisakan kondisi tubuh lebih segar dan fit setelahnya.

Setelah Batuwarno, terhitung dua kesempatan berikutnya, di Ponorogo dan Karanganyar, saya lebih banyak memperhatikan isi kajian, terkait banyak hal baru yang sempat saya dapat daripada penjelasan SHD sebelumnya. Posisi menjadi (semacam) panitia penyelenggara di dua acara tersebut, barangkali membuat kepala saya sedikit dipenuhi pikiran-pikiran teknis. Meditasi yang saya jalankan menjadi tak begitu mendalam, mungkin berawal dari pikiran yang masih keruh. Ah, analisa seperti ini juga sebetulnya yang kemungkinan besar membuat saya belum berjatah.

Beruntung saya mendapat beasiswa 'Workshop The Secret of Avatar' di Solo, menjadi pengalaman dua hari yang menurut saya sangat berharga. Saya sebut begitu karena dalam acara itu, saya rasakan energi yang demikian besar baik dari SHD sendiri ataupun dari penyatuan energi para peserta. Meskipun dalam rangkaian meditasi selama dua hari itu saya merasa belum cukup 'sampai,' ada satu momen yang begitu saya ingat. Momen itu terjadi manakala ada salah satu peserta yang 'trans' (atau apalah sebutannya, saya kurang begitu paham), sesaat setelah berakhirnya sesi meditasi bersama. Saat itu saya teringat dengan kejadian 'trans' Mbak Desi di Batuwarno sebelumnya. Bedanya, saat di Batuwarno saya mengabaikan kejadian yang saya saksikan, sedangkan di Solo saya sengaja punya niat memperhatikan apa yang sesungguhnya terjadi. Apalagi waktu itu, selain SHD juga beberapa peserta lain, saya saksikan meresponnya dengan berbagai macam cara. Saya sendiri hanya berusaha fokus memperhatikan apa yang dialami peserta yang 'trans' itu, sampai saya rasakan begitu kuat energi di sekeliling yang terkumpul masuk ke tubuh saya dari segala arah, menyusul mata saya terpejam dengan sendirinya demi merasakan hal itu. Beberapa detik saya coba menikmati apa yang terjadi dengan tubuh saya. Tak lama kemudian, kedua kening saya seperti 'diplirit' oleh sesuatu. Saat yang sama, saya rasakan pancaran kuat dari kepala (atau dahi?) mengarah ke peserta tersebut. Seingat saya --entah benar atau tidak-- waktu itu saya pun sempat tersenyum, terkesima oleh fenomena energi yang baru sekali itu saya rasakan, meski berlangsung tidak lama, tapi sangat terasa dan membekas hingga sekarang.

Setelah acara Solo, terhitung beberapa kali SHD mengajak meditasi bersama (di waktu yang sama, meski lokasi berbeda). Beberapa meditasi saya ikuti sebisa mungkin, selain yang kebetulan memang tidak bisa. Ada satu kesempatan (seingat saya yang Adhi Budha), saya kembali bisa merasa nikmat ambang sadar, terasa energi benderang tercurah mendamaikan, sampai-sampai tak terasa satu jam meditasi itu saya lakukan. Saya juga jadi bisa bedakan rasa halus dan rasa kasar dari mengikuti beberapa kali meditasi bersama itu, selain mulai terbiasa meditasi menggunakan iringan 'sound' yang saya siapkan sebelumnya.

Khusus untuk pengalaman meditasi di Candi Sukuh, kesempatan pertama saya sengajakan untuk  melunasi saran SHD, di bulan Februari belum lama ini. Saat itu saya berangkat sendiri, mengambil waktu sekitar jam 10-11 pagi. Tiba di Sukuh saya langsung ambil tempat dan memulai meditasi tanpa menggunakan iringan 'sound.' Sebisa mungkin saya berusaha memusatkan rasa dan perhatian pada nafas, pada kehadiran saya di situ, disertai niat tersambung dengan entitas yang ada. Samar-samar tersingkap suatu gambaran keberadaan Candi Sukuh di masa lalu, sempat saya saksikan. Semoga saja kesaksian itu bukan atas kerja pikiran saya yang memang sejak berangkat telah termotivasi oleh petunjuk dari SHD tentang jiwa masa lalu saya di situ.

Kesempatan kedua, saya berangkat berempat dengan Pak Untung, Bu Ririn, dan Pak Langking, di malam 'anggara kasih' yang telah jadi kesepakatan kami sebelumnya. Kami datang disambut hawa dingin disertai kabut lumayan tebal menyelimut. Angin kencang memang sudah berlangsung sejak sore, sebelum kami berangkat. Sisa-sisa basah terlihat seperti baru saja selesai hujan. Langit tertutup awan, bulan dan bintang tidak kelihatan. Meditasi saya lakukan bersama yang lain,  saya sendiri mengawalinya dengan bantuan sound Guru Sejati, lalu di tengah-tengahnya saya sempat menggunakan sound 'Peacefull Relaxing Instrument', meski baru jalan beberapa menit kemudian saya lepas, menyusul saya tanggalkan pula jaket yang membungkus badan. Soundscape di sekeliling kami sangat mendukung, dan ada saat beberapa menit benar-benar sepi (tidak ada angin, tidak ada suara), membuat hening total yang melegakan. Saat yang singkat itu saya nikmati sebagai keheningan yang berharga, di antara suara angin kencang dan perasaan-perasaan terancam yang muncul pada mulanya. Karena di detik-detik sebelumnya sempat ada perasaan dikelilingi sesuatu, meski akhirnya bisa terlepas ketika kembali fokus mengikuti rasa hening, kelindan cahaya ungu dan jingga, berikut pendaran cahaya putih mengecil-membesar. Selebihnya saya merasa puas dengan capaian ini, karena semakin ke sini menjadi terbiasa melepas harapan-harapan terlalu tinggi atas hasilnya. Semoga bisa berjatah lagi, selalu hening dan terkondisi mawas diri.

Karanganyar, 16 Maret 2020

JEJAK PEJALAN AWAM

Read More

Jumat, 13 Maret 2020

: Refleksi Acara Diskusi "Menggagas Praktik Model Sekolah Merdeka" di Teras Budaya nDaleme Eyang, Sumber-Solo



"Esok adalah hari ini, karena hari ini telah menjadi masa lalu" (Dr. Sutanto Sastraredja)

Sengaja saya mengutip pernyataan Pak Tanto sebagai salah satu pembicara semalam, karena hal itu seperti mengingatkan perihal kelambatan kita semua --bukan hanya pemerintah-- dalam hal ini, menyikapi perubahan dunia yang sudah sedemikian cepatnya. Sedangkan negeri ini tak kurang memiliki paedagog (dalam bahasa Yunani bermakna seseorang yang diserahi tanggungjawab mengamati tingkah laku anak dan mengajarnya menulis dan membaca) yang telah puluhan tahun meramu suatu rumusan dan praktik kemerdekaan belajar.  Kalau mau, dari pemikiran dan pengalaman merekalah kita sebetulnya bisa belajar banyak mengenai paradigma dan metodologi belajar dimaksud, sehingga kegagapan seperti sekarang bisa dihindari.

Perkembangan pendidikan akhir-akhir ini yang cenderung menyempit pada pengertian pembelajaran vokasi (ketrampilan), agaknya patut dikhawatirkan. Karena tujuan pendidikan yang mestinya mengantarkan seseorang pada kebahagiaan dan keselamatan tertinggi, bakal semakin jauh dari harapan. Manusia pada kodratnya telah sempurna memiliki akal, karsa dan budi, beserta tugas menyempurnakan itu semua sepanjang hidupnya, bakal semakin terpuruk pada mekanisme dunia yang semakin pragmatis dan individualistik.

Kedua pembicara sepakat bahwa sesungguhnya akar substansi dari sekolah merdeka adalah merdeka belajar, yang tergerak dari dalam diri seseorang sebagai tanggungjawab pribadi (individu) ataupun komunal (sosial). Bermula dari tujuan memenuhi kebutuhan dasar, lalu beranjak pada memenuhi kewajiban bersama, pendidikan diharapkan mampu memuliakan kehidupan sebagai ekspresi moral-spiritual secara lebih luas.

Ibe Karyanto yang berlatar-belakang pemikir dan pegiat, mengupas secara terstruktur mulai dari paradigma, metodologi dan praktik. Hal itu dia kemukakan sebagai bagian dari partisipasi warga negara yang prihatin dengan keberlangsungan pendidikan di akar rumput, meskipun undang-undang memberi amanat negara untuk menjamin pendidikan bagi warganya. Ibe mengetengahkan satu rangkaian metodologi pendidikan yang disederhanakan sebagai: berdiskusi, bernalar, bereksplorasi dan berefleksi. Memahami cara itu secara dalam, membuat kita bisa sedikit mengabaikan keriuhan akibat kebijakan Sekolah Merdeka yang dicanangkan. Ibe berharap makin banyak tumbuh inisiatif, entah itu di lingkup pendidikan formal ataupun non-formal, yang kesemuanya berangkat dari paradigma 'belajar merdeka' seperti dimaksud.

Sementara itu, Pak Tanto secara kreatif mengetengahkan metodologi belajar yang berpeluang menjadi inisiatif di tengah formalisasi pendidikan ala negara. 'Merdeka belajar' menurut beliau tidak bisa hanya berhenti pada anjuran normatif, tetapi bagaimana kreatifitas siapapun diharapkan dapat tumbuh dalam mengemas cara belajar menjadi suatu yang mengasyikkan. Dunia pendidikan yang terlanjur mekanis dan instruktif, harapannya dapat disiasati lewat perencanaan dan pembiasaan cara belajar yang dapat lebih mencukupi kebutuhan. Sekat-sekat kelembagaan sudah saatnya dileburkan supaya antar pihak dapat terkoneksi, sehingga tumbuh suatu jejaring pengetahuan tanpa batas. Dengan begitu pengetahuan dapat tereproduksi dengan sendirinya, persoalan riil kehidupan juga dapat lebih lebih cepat terselesaikan, syukur-syukur bisa lebih dini diantisipasi. Kegiatan bereksplorasi dan berkreasi yang bertumpu pada pembelajaran tanpa henti akan menjadikan kemerdekaan belajar tercapai dengan sendirinya.

Perbincangan ditutup dengan menyiratkan harapan tentang upaya yang bisa sesegera mungkin dilakukan, yakni dengan memperbanyak inisiatif, menerapkan model, serta membangun jejaring, dari lingkup terkecil menuju ekosistem merdeka belajar yang semakin luas dan membesar. Pada akhirnya momentum sekolah merdeka akan terjawab oleh kesiapan antar pihak menyambutnya.

Karanganyar, 14 Maret 2020

____
*pinjam foto hasil jepretan Mbak Catur Wulandari, pegiat Lingkar Belajar antar Sanggar asal Blumbang-Tawangmangu yang sekarang menjadi dosen di Universitas Tidar - Magelang;

MENYAMBUT EKOSISTEM MERDEKA BELAJAR

Read More

Senin, 17 Februari 2020

Bagian 1: Riwayat Singkat



Pos ronda nampaknya memiliki riwayat panjang yang melekat pada perkembangan situasi geopolitik lokal masyarakat kita, selain tentu saja dengan tetap menyertakan fungsi pokoknya sebagai prasarana keamanan wilayah. Berawal dari kemunculannya dalam bentuk gardu jaga di pintu-pintu masuk keraton, di periode berikutnya VOC memiliki andil mereplika bentuk dan fungsi gardu tersebut ke tiap kampung dan desa, untuk menandai batas teritori secara lebih tegas. Istilah ronda--yang saat itu dimaknai berkeliling-- mulai dikenal, sebagai aktifitas kolektif warga menjaga keamanan kampung, tanpa melampaui batas teritorinya masing-masing. Fungsi itu kian menguat manakala marak terjadi aksi para bandit sebagai bentuk reaksi penanggulangan dari warga.

Sementara itu, kentongan ditengarai mulai difungsikan sebagai alat penyampai kabar telah terjadinya sesuatu, termasuk isyarat situasi aman. Meski  demikian hal itu bukan lantas berarti menandai awal mula diciptakannya kentongan. Sedangkan kemunculan gardu jaga di jalan raya diduga berawal ketika Daendels membangun jalan Anyer-Panarukan, pada setiap interval tertentu, sebagai penopang keamanan dan pengawasan.

Pada akhirnya pos ronda pun sempat menjadi kepanjangan tangan pemerintah dalam mengontrol dan mengendalikan warganya, terutama saat penjajahan Jepang dan berkuasanya orde baru. Pos ronda dalam masa ini menjadi cara paling efektif untuk memata-matai sekaligus mendoktrin masyarakat akar rumput. Istilah siskamling (sistem keamanan lingkungan) kemudian menjadi lazim untuk menyebut tata laksana penyelenggaraan kegiatannya.

Selain itu, pos ronda juga sempat mewarnai gejolak politik negeri ini, ketika marak bermunculan posko-posko kader berbasis partai. Kemandirian dan kegotongroyongan --yang sayangnya tersekat aspirasi politik-- begitu menyeruak menjelang kelahiran reformasi. Dalam bentuk dan fungsi yang lain lagi, pos ronda menjelma posko-posko layanan dalam momentum tertentu, yang --lagi-lagi-- sayangnya masih dilekati kepentingan organisasi sosial atau politik tertentu.

Bumi Sepanggang, 15 Februari 2020

(bersambung, Bagian 2: Pilar Sosial dan Ekonomi)
_____
*disarikan dari pelbagai sumber
*ilustrasi: https//encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcQ2PD9auQ7DaWnqciHBzegUafYa-0QpysOc-anBbnS9uGDSvz4S

MENJADI INDONESIA DARI POS RONDA (1)

Read More

Sabtu, 15 Februari 2020



Wahai tetangga pemilik tanah sebelah rumah, yang entah kau siapa dan di mana. Sejak tujuh tahun silam kami nikmati cahaya pagi yang menyapa  dari  arah  dimana lahanmu berada. Bertahun-tahun aneka jenis tanaman liar yang tumbuh di lahanmu menemani kami, mendidik rasa keindahan dan ketelatenan, meski terkadang malas dan kesal sesekali masih menggelayuti ketidakpedulian kami padanya. Pada setiap puncak penghujan dia tergenangi air, membiru terkena pantulan langit bersih selepas hujan semalaman. Hingga sempat kupotret saujana pagi berlatar gubuk bata tempat keluarga kami berdiam, membuat orang mengira rumah kami berada di tengah-tengah telaga. Ah, saat itu tidak ada ungkapan selain memuja keindahannya.

Alang-alang yang tumbuh sepanjang tahun, krokot dan tanaman jalar membelit dan mengisi sela-selanya, atau 'thukulan' widara yang orang di sini menyebutnya talok, terlalu sering kubuat tak tenang hidupnya. Bersama rumpun pohon insulin yang beranak-pinak mengisi celah-celah batu, mereka terpaksa kubinasakan demi melegakan pandangan. Tersebab hal ini mungkin lebih pantas kuminta maaf kepada mereka. Termasuk kepada tumpukan batu bakal pondasi milik tanah sebelah utara, yang pernah menjadi sarang ular dan terakhir sekawanan tikus tanah, terpaksa berantakan susunannya menjadi pagar rendah sekeliling, alakadarnya tertata.

Entah bakal jadi apa, jika sejak dua bulan lalu kedua tangan ini tak bosan-bosan menjamahi kepasrahan mereka. Kalau sekadar batang kayu menancap ke mata, jemari tergencet bongkahan batu, atau kaki tersayat duri putri malu, semoga saja itu hanya menjadi pengganti ketidakmampuanku bercakap dengan mereka untuk sekadar menepis kekurang-ajaranku merongrong hak kemerdekaannya. Sedangkan guguran daun dan buah karsen, syukur-syukur ditemani rontokan daun trembesi tua yang terbawa angin ke Barat, kerap jadi penghibur menyertai terbit dan terbenamnya matahari. Karena dari merekalah lahan ini mendapatkan asupan gizi, selain tersebab kerja keras para cacing, semut, rayap, ulat gagak dan beberapa uret yang bergeliat panik ketika terpapar cahaya. Meskipun entah di mana sekarang, tiga ekor burung puyuh yang setiap pagi berlarian memunguti rejeki dan orkestra kodok yang mengiringi tidur malam di musim seperti ini. Yang kami tahu, saat sekarang makin banyak ulat, kupu-kupu, belalang, tawon, laba-laba dan beraneka jenis serangga yang terlihat, mungkin juga karena tak sengaja tersingkap persembunyiannya.

Tentu tak ada yang pantas dibenamkan kecuali rasa syukur, bahwa kami masih diberi kesempatan berdekatan dengan tanah, tempat kembalinya jasad semua makhluk yang hidup di muka bumi, dengan membaui aromanya, juga merasai tekstur kehidupannya. Terlebih ketika menjumpai sekarung-dua kotoran kambing yang tahu-tahu tergeletak siap dipakai sore kemarin, mungkin dikirim oleh mbah angon yang setiap hari menyemangati. Tak pelak, kami seperti diingatkan tentang bagaimana cara lain berkasih-sayang.

Tetangga, makasih ya...

Sepanggang, 15 Februari 2020

BERKASIH-SAYANGLAH

Read More

Rabu, 12 Februari 2020


Yaz, setiap kali kubuka media sosial, senantiasa kau hadir dalam status-statusmu yang mengesankan. Seraya kusaksikan selalu harapan yang tumbuh di dadaku, tertusuk-tusuk runcing kenyataan hidupku sendiri hingga koyak tak keruan. Cairannya keruh, menggenangi mimpi-mimpiku tentangmu, mengapungkan serasah penyesalan yang makin hari kian menumpuk, mengotori setiap aliran kenangan sejak kita tak lagi bersama. Belum lama kusadari, tak mungkin kubandingkan kau dengan bekas suamiku. Dia yang menikahiku saat menjadi bintang lapangan, di akhir pernikahan kami terpaksa menjadi pengangguran dan suka berjudi mengadu peruntungan. Kau yang dulu kutinggalkan sebab terlalu lambat memberiku jaminan masa depan, ternyata memiliki ketangguhan mimpi dan harapan.

Kau dan siapapun lelaki boleh saja menerka apa yang ada dalam isi kepala perempuan sepertiku, tetapi jangan harap kalian temukan sesuatu kecuali kekecewaan. Apalagi untuk menyelami hingga dasar batin, di mana rasa terpelihara bersama jejak sejarahnya. Kalian sesungguhnya perlu bertanya kembali kepada tujuan awal mengenal perempuan, terlebih kepada seseorang yang pernah memikat hatinya. Aku bukannya sedang mengakui perihal kepalsuan yang menjadi kecenderungan sikap sebagian perempuan sepertiku. Atau semacam membenarkan sebagian besar anggapan lelaki, bahwa berkat keunggulan nalarnya, mereka merasa tahu semua hal, termasuk isi kepala perempuan. Seperti halnya penuturanmu ketika terakhir kali kita bertemu, cukup Sel, aku sudah tahu. Kau sudahi pembicaraan kita dengan beberapa saran jalan keluar yang semakin membuatku terpikat dan merasa diperhatikan.

Taksi online yang kutumpangi melaju sedikit lebih kencang. Sorot lampu-lampu jalan, nyala terang deretan neonbox dan papan iklan, tak membuat pikiranku rebah istirahat barang sebentar. Berkali-kali kupandangi layar ponsel yang terlihat begitu silau di keremangan dalam mobil, kala mendung di langit seperti hendak runtuh petang ini. Sudah kupastikan anak buahku menyiapkan sesempurna mungkin aneka kudapan, berikut hidangan makan untuk acara malam ini di lokasi yang sedang aku tuju. Jadi jelas sekali hal itu tak perlu membuatku risau. Satu-satunya penyebab kepanikanku tak lain karena aku tak ingin kehilangan kesempatan melihatmu membaca puisi di panggung salah satu kafe pelanggan usahaku, sebagaimana poster digital yang kau pasang di statusmu sejak kemarin. Sialnya perihal acara itu tak kuketahui sebelumnya, selain pesanan konsumsi dari panitia. Padahal terpampang jelas di poster itu, kaulah salah satu bintangnya, Yaz Prihangga, penyair nasional.

Kuingat terakhir kali kau beri kabar lewat pesan WA sebulan lalu, dan tak pernah terpikir olehku, perihal kepulanganmu dalam maksud penyelenggaraan acara ini.

"Mungkin sekitar pertengahan bulan depan.”
"Sekeluarga?"
"Sendiri."

Pesan terakhir yang kuterima darimu itu serasa embun, membasahi kemarau bertahun-tahun. Sengaja kubiarkan kata itu tanpa tanggapan balik dariku agar mudah kubaca lagi. Juga supaya sebebas mungkin dapat kumaknai sesuka hati, sebelum betul-betul kita bertemu nanti.

Pukul lima lewat empat puluh delapan petang, rintik air laksana jutaan jarum yang menghujani ingatan, menyiksa kesepianku begitu tiba di lokasi acara. Kuingat pengakuanmu terkait kenangan tentang hujan sore hari bersamaan dengan putaran pandanganku berusaha mencarimu. Kulihat beberapa meja telah berisi satu-dua orang yang khusyuk bermesraan dengan ponsel masing-masing. Pada satu meja dekat kasir, kulihat Pak Roy pemilik kafe ini duduk menghadap seorang lelaki yang bisa kupastikan bukan kamu. Ah, kenapa mataku selalu tak sesabar hatiku untuk menemukanmu, batinku. Rintik hujan masih terdengar, menimpa lamunan dedaunan, tengadah rerumputan, dan segala kebekuan yang diusiknya, termasuk genangan kerinduan yang kurasa sedikit memalukan. Sedikit ragu langkahku mendekat, hingga terlihat beberapa buku dengan namamu tertera di sampulnya, di antara buku-buku lain yang tak membuatku tertarik sedikitpun. Tatapan mata Pak Roy menangkap kedatanganku, menyusul lambaian tangan dan sebuah isyarat agar aku mengambil tempat paling nyaman. Kubeli beberapa bukumu, meski tak pernah kumerasa sanggup meluangkan waktu untuk membacanya. Aku bukan penikmat puisi, tetapi hanya menghendakimu sebagai pengisi kekosongan hati.

"Tumben, Sel," tergopoh-gopoh Pak Roy menyalamiku.
"Pasti karena Yaz, ya?" Sambungnya sambil terkekeh.

Sama sekali tak kuduga sebelumnya, Pak Roy katakan perihal ceritamu tentangku, tentang masa lalu kita, bahkan tentang pertemuan-pertemuan kita. Tentu saja kuberdiri di depannya dengan menyimpan rasa tak keruan, antara malu dan tak percaya. Rupanya dia juga menduga bahwa akulah tamu khusus yang sempat kau janjikan sebelumnya, sebab kedatanganku yang tidak biasa di acara seperti ini. Seketika napasku serasa terhenti. Ada sesuatu di hatiku yang melambung tinggi. Segera kupersilakan Pak Roy menyambut rombongan tamu yang baru saja datang, agar ketidaknyamananku berdiri tak sempat dia ketahui. Beberapa detik kutertegun, sebelum kemudian kakiku melangkah ke sebuah meja di tengah, berhadapan lurus dengan panggung, sambil kubayangkan nikmatnya menyaksikan pesonamu tak lama lagi. Segera kupesan kopi hitam ketika seorang pelayan menyodorkan daftar menu, sebelum kembali kucoba hadirkanmu pada menit-menit kumenunggu.

Sekitar empat tahun sebelum hari ini, kita pernah bertemu sekali, setelah duabelas tahun sejak kepergianmu dari kota kelahiran kita ini. Kau bersedia menemuiku di calon toko roti yang sempat kujadikan pemikat perhatianmu agar kita bisa bertemu. Sebuah kedai kopi berseberangan dengan kios yang kusewa, serupa tempat kencan dua pasangan yang masing-masing telah berkeluarga. Setidaknya perasaan seperti itu yang pada waktu berikutnya baru kuketahui. Saat itulah betul-betul kusaksikan pesonamu sebagai lelaki dewasa, jauh berbeda dengan ingatanku tentangmu jauh sebelumnya. Kau begitu cekatan menyodoriku beberapa sketsa ruangan yang kuimpikan, meskipun sesungguhnya bukan itu yang membuatku terkesan. Tetapi justru rambut terkucir beserta kumis tipis dan caramu memegang rokok ketika bicara, hampir menyita keseluruhan perhatianku di puncak kerinduan dan rasa penasaran yang terlunasi malam itu.

"Anakmu sudah besar, Yaz?"
"Baru masuk TK, anakmu?"
“Ngeledek kamu ya?"

Tentu saat itu kau lihat, sempat kutersipu dan hampir saja salah mengambil cangkir kopi milikmu. Meskipun begitu sungguh kusadari, kesempatan malam itu tak sedikitpun kusia-siakan. Kau pasti tak menduga sebelumnya, bahwa rona hidupku tak secantik pujianmu ketika mengomentari foto profilku. Berawal dari cerita perihal anak gadis pertamaku yang sudah SMA, berikut si cantik kecil adiknya yang baru kelas 4 SD, kutumpahkan sedanau kisah hidup yang membuatmu terpaku sampai batang rokok terakhir.

"Selamatkan dua bidadari kecilmu, Selly."
"Maksudmu?"
"Ya, mungkin hanya itu cara menghapusnya."
"Aku makin tak mengerti."

Aku tahu, setelah puas kutumpahkan segala sesak di dada kepadamu, kau menjadi sedikit banyak tahu latar belakangku. Sehingga bisa kupastikan kau bakal memahami ketika kukatakan bahwa mungkin banyak lelaki yang bisa memberikan kepuasan berahi, lebih banyak daripada mereka yang sanggup menyediakan kepuasan materi. Dan kau terlihat dingin menanggapinya dengan, bakal lebih sedikit lagi yang mampu mempersembahkan kepuasan hati,  yang langsung kuiyakan kala itu.

"Kelak kau akan mengerti dengan sendirinya," timpalmu.

Saat itu pandanganmu jauh menerawang, seolah hendak menjangkau lapisan masa yang baru saja kuceritakan. Aku pun terbawa arus ingatan karenanya, pada saat di  mana para lelaki seumuranmu masih bau keringat anak sekolahan dan merasakan kepanikan pagi sebab PR yang belum terkerjakan. Andai kau tahu, saat itu aku telah lebih dulu mendulang keringat serta kepanikan yang lain, merasakan belaian, rengkuhan, bahkan kenikmatan yang tertukar kesucian. Sedangkan kau semakin jauh kutinggalkan.

Kau datang tak berselang lama setelah kuselesai membuka bungkus plastik bukumu yang berjudul Menjadi Jodoh Perempuan-Perempuan Terpilih’. Belum sempat kupikirkan, bagaimana cara mendekat apalagi sekadar berbincang denganmu, kulihat kau keluar dari mobil dengan syal melingkar di leher. Seorang wanita yang bukan istrimu menyusul turun dan segera menggandeng tanganmu. Perempuan berperawakan kecil itu menurutku tidak bisa dibilang cantik, namun terlihat anggun dari gerak tubuh dan caranya menanggapi lawan bicara. Tubuhnya kecil, rambut tergerai sebahu dengan pakaian warna gelap sederhana, tanpa dilengkapi perhiasan di leher ataupun pergelangan tangannya. Sesekali kau rangkul pundaknya, setiap kali orang-orang bergantian menyambut dan menyalami kalian. Aku terpaku membayangkan istri dan anakmu, betapa mereka menjadi begitu istimewa kurasa saat ini. Sekejap kemudian menyusul rasa terasingku di antara para pengunjung yang ramai membicarakan puisi dan kamu. Sambutan, pembacaan dan tanggapan, bergantian memenuhi kejenuhan, menghunuskan kata-kata yang tak satupun kumengerti maknanya.

Tiba saat gilirannya kau bacakan puisi. Pembawa acara menjelaskan perihal gangguan serius pada tenggorokanmu sehingga perempuan itu yang akan menggantikan. Segera setelah mendengar itu, kuingin secepatnya undur diri dari keterasingan yang menjadi-jadi di permulaan malam kali ini.

***
*dimuat di https://m.detik.com/hot/art/d-4864183/permulaan-malam-yang-gerimis

PERMULAAN MALAM YANG GERIMIS*

Read More

Selasa, 11 Februari 2020

Pada suatu pagi yang lusuh, tatkala riuh perayaan hari jadi kota ini sedang dipersiapkan puncak mandamnya dengan hati sungguh. Jalan-jalan utama bersolek, alun-alun kota berhias keramaian tanpa putus, dan bola mata para peresah dipenuhi spanduk dan baliho aneka rupa acara yang selalu dijaga senyuman dan setelan baju kebesaran pasangan pimpinan daerah.

Sepagi ini, saya sedang merasakan kesialan, meskipun bagi kebanyakan orang sebetulnya tak lebih sebuah kepastian nasib yang bisa datang kapan saja. Ban belakang sepeda-motor saya bocor sehingga tak ada pilihan selain menyerahkan nasib selanjutnya pada ketelitian tukang tambal ban. Nasib saya pula yang mengantarkan pada perbincangan dengannya kali ini. Termasuk beberapa tahun sebelumnya sempat saya terinspirasi oleh senyum sapa dan pancaran mata ramah dia pada setiap lalu-lalang orang yang lewat ketika dia pagi-pagi sudah memarkir gerobak. Telingaku menangkap irama karawitan dari radio transistor yang tergantung di tiang geroibaknya. Beberapa hisapan kretek mulai membuat sepi dan terlunta-lunta menyapa keingintahuan saya. “Pak No, jenengan pun putra pinten?” tanya saya setelah beberapa detik sebelumnya berhasil mengetahui namanya.
Nama aslinya Parno, akrab dipanggil Pak No, salah satu tukang tambal ban yang mangkal di Jalan Lawu Karanganyar. Pendidikan terakhirnya SD, bersama istri dan kedua anaknya, lelaki sumeh ini tinggal menempati rumah warisan orangtuanya. Anak sulungnya sudah lulus STM dan belum bekerja, meski kabarnya sudah sempat mendapat panggilan, tetapi Pak No belum tahu soal kepastian selanjutnya. Sementara itu anak keduanya masih SD, yang berarti terpaut cukup jauh umurnya, pikir saya. Istri Pak No berjualan dawet di utara Gedung KPU, yang hasilnya lumayan membantu kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Menurut pengakuannya, dia sudah jadi tukang tambal ban mulai sekitar tahun 1986-1987. Pada tahun-tahun itu dia sudah membantu ayahnya mangkal berpindah-pindah di sekitar lahan yang sekarang berdiri Toserba Mitra. Ayahnya bernama Mbah Darmo, tentu saja menjadi salah satu perintis jasa tambal ban yang ada di pusat kota Karanganyar. Sejak tahun 2000, Pak No melanjutkan usaha bapaknya di lokasi yang ditempatinya sekarang. “Sedinten ngoten rata-rata pinten kendaraan, Pak No?” Entah setan dari mana yang membuat saya berani-beraninya melontarkan tanya seperti itu. Tapi untungya Pak No mau menanggapinya, meski dengan suara lirih seolah tak mau sungguh-sungguh memperlihatkan perihal seperti ini.
“Nggih mboten mesthi, Mas. Nek sepi, sok-sok nggih pit tiga, pit sekawan, elek-eleke pit gangsal.”
“Nek paling kathah?”
“Paling nggih nek pas bareng-bareng ngoten nika, Mas.”
“Lha bikake yah napa dugi yah napa lho, Pak No?”
“Jam wolu dugi jam gangsal.”
Sebagai pemain lama, Pak No bisa merasakan pasang-surut usaha tambal bannya. Meski sekarang jalan-jalan ramai dengan kendaraan, Pak No mengaku hal itu tidak berpengaruh banyak pada peningkatan jumlah pelanggannya. Salah satu analisa sederhananya mengatakan bahwa saat ini sudah bermunculan usaha-usaha tambal ban lain di sekitar pusat kota Karanganyar. Ditambah lagi dengan adanya model velg racing dan teknologi ban tubeless, membuat Pak No semakin gusar dengan kemampuannya, “Soale nek dicongkel rosa, rusak. Biasane kula ken mbeto ten ler terminal Jongke. Yen mrika lak garape ngangge mesin.” Pak No mengaku tak mau berpikir ribet terkait pekerjaan. Sekiranya tak mampu mengerjakan karena keterbatasan alat, dia lebih memilih menunjukkan tukang tambal ban lain. Dia juga merasa tahu diri dengan ketrampilan tangannya. Untuk mobil, Pak No hanya mau terima mobil angkutan kota. Artinya Pak No tak mau sembarangan menerima kerjaan, karena takut merusak atau terjadi hal tidak mengenakkan lainnya. “Ngeten niki wong adhang-adhang ta mas. Nek enten nggih kula garap, nek mboten enten nggih kula meneng, nek mboten saged nggih kula ngomong.”
Membayangkan alam pikiran orang-orang seperti Pak No, saya jadi tertarik menggalinya lebih jauh,  tentang apa yang dia saksikan, juga tentang apa yang dia rasakan. Apalagi menjumpai semacam pergulatan antara kobaran semangat dan rasa rendah diri yang tampak dari naik-turun ekspresinya. Seperti ketika sorot matanya berbinar, rekahan senyumnya malu-malu, dan sekali waktu suaranya melirih dan semakin hilang tak terdengar. 
“Jenengan nek ningali Karanganyar kados sakniki pripun, Pak No?”
“Nek kalih ndhisik, nggih apik sakniki no, Mas. Tapi nek bab gaweyane apik dhisik.”
“Riyin kula ngertos jenengan niku pun bikak enjing sanget ta, Pak.”
“Sing dhisik setengah pitu, Mas. Mbarengi cah-cah mangkat sekolah. Sak niki cah sekolah mboten angsal numpak pit, pulisi, larangan niku! Marai ngeten le mas, nek cah sekolah numpak pit, nek tabrakan niku dereng duwe napa-napa niku le, prinsipe ngoten. Sakniki, larangan niku. Lek dhisik isa diselah mas, wayahe cah sekolah mangkat, bukak. Ra ketang enek kebanan, enek sing ngompa, saiki pun mboten kenek dijagakne.”
“Lha jenengan saged gadhah kompresor ageng ngeten niki?”
“Bapak. Warisan. Dadi niki nglanjutne mas, ditelateni. Kados kula, nyambut gawe mboten saged neka-neka. Ning bangunan nggih rekasa, nggih ta? Padha mawon. Ning sawah nggih rekasa. Luwung ngeten, ditunggu enten, mboten enten, ngleleng. Sok-sok men nggih meneng kula nggihan.”                                                                                   
“Nggih, mugi-mugi sehat terus nggih, Pak No.”
“Kudu sabar atine, Mas. Nek mboten sabar wis prei nyambut gawene. Kulo nggih angger tiyang mriki dha ngelokne panas. Panasi ra masalah, sing penting atine sik. Nek atine seneng? Kangge kula penting sabar, atine seneng.”
Perbincangan dengan Pak No berakhir tak lama selepas dia pasang kembali penutup pentil (valve cap) ban roda belakang. Bersamaan pula dengan sebuah pesan WA masuk ke ponsel saya, “Pak, wis entuk kabeh drg? Pala kr tumbare ja lali.” Baru saya ingat tujuan saya mampir ke Pasar Jongke. Spontan tangan saya merogoh saku celana. Saya gegas dapati rasa syukur karena daftar titipan belanja dari istri masih ada. Menyusul serentetan suara sirene mobil-mobil pemadam kebakaran yang berkejaran ke arah Timur, membuat sesuatu di dada saya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Karanganyar, 20 November 2019

___

 *dimuat dalam Buletin Kemuning, Edisi Desember 2019

#buletin_kemuning
#rubrik_ilalang




ADHANG- ADHANG SABAR, SANGU ATI SENENG

Read More

Jumat, 24 Januari 2020

: Refleksi Acara Diskusi dan Bedah Buku 'SEKOLAH APA INI?' di Teras Budaya Ndaleme Eyang, Sumber-Solo



Kedatangan saya ke acara ini mungkin dalam niatan sedikit muluk: demi merawat harapan besar solusi pendidikan hari ini dan esok, untuk tidak mengatakannya sebagai kegembiraan karena bisa mendapatkan curahan inspirasi dan nasehat dari para pegiat pendidikan alternatif. Apalagi sosok semacam Bu Wahyaningsih (bersama suami beliau, Pak Toto Rahardjo), telah menjadi salah satu barometer pendidikan --bukan sekolah-- di negeri ini.

Tapi nampaknya saya belum berkesempatan menyimak dengan utuh lalu lintas diskusi dan berbagi pengalaman praktik tersebut dari para narasumber dan pembedah yang ada. Seperti halnya acara serupa dan setema yang beberapa bulan lalu saya ikuti di Pendapa Agung Jepara, ketika menemani Pak Ahmad Bahruddin sebagai pembedah bukunya, meski hanya di perjalanan bukan di panggung. Hehe. Kenapa begitu? Karena selalu dalam kesempatan seperti ini, berkumpul pula --tidak hanya-- para pegiat, tetapi juga stakeholder lainnya, entah itu orangtua, peserta/warga belajar, pemerhati, dll, yang sebetulnya mereka pun bisa disebut pegiat pula. Oleh karena itulah perhatian pada perbincangan inti di panggung seringkali terpecah dengan naluri ngobrol dengan sesama peserta, meskipun juga masih terkait dengan tema acara.

Sebelum berangkat, saya sempat berbalas pesan dengan Pak Yudi, inisiator Sekolah Alam Bengawan Solo, untuk bertemu sekaligus berbincang di lokasi acara, setelah sekian lama --mungkin sekitar 2-3 tahun-- tak bertemu. Sepanjang acara, kami pun tak bisa menunda untuk berbincang hangat sambil sesekali mengarahkan mata dan telinga agar tetap dapat mengikuti arus diskusi yang terjadi. Di akhir acara, kami juga masih diberi bonus dapat berbincang lebih dekat dengan Pak Baros (Bambang Suroso, salah satu pembedah) dan Pakdhe Sus ( Susilo Adinegoro, moderator).

Kenyataannya memang sebagian besar dari kita masih susah untuk membayangkan penerapan pendidikan alternatif, apalagi ketika harus menghilangkan kata 'sekolah' dari penyebutannya, di tengah ekosistem kesadaran masyarakat yang belum selaras, atau masih terkungkung pada dogma pendidikan formal atau sekolah. Namun hal itupun tak bisa disalahkan, apalagi dihindari dalam upaya terus menerus menggulirkan praktiknya di masyarakat. Sebetulnya saya sempat bermaksud 'curhat' pada sesi tanya jawab terakhir, tapi urung karena telat mengangkat tangan.

Saya menduga, Sanggar Anak Alam (Salam) tetap melibatkan kosakata 'sekolah' untuk menamai dua bukunya: Sekolah Biasa Saja dan Sekolah Apa Ini? hanyalah sebagai bentuk tawar-menawar dengan bahasa yang --saat ini masih-- lebih familiar di khalayak. Karena memang tidak gampang untuk meyakinkan bahwa yang mereka lakukan --dan juga model-model berbeda di tempat lain-- bukan termasuk dalam definisi sekolah yang selama ini kita mengerti.

Sehingga tak heran ketika berhadapan langsung dengan --entah itu-- orangtua, masyarakat umum, atau bahkan mahasiswa, masih saja muncul pertanyaan semacam: Apakah nanti mendapat ijazah? Bagaimana cara menilai proses belajar dan kompetensi anak? Bisakah model seperti itu didirikan di sini (mungkin maksudnya semacam dibuka cabang)? Bukankah tidak gampang mencari pendamping (fasilitator) yang seperti itu? dan seterusnya.

Sampai di sini, kegelisahan yang tertunda saya kemukakan barangkali terjawab, bahwa perihal harapan terselenggaranya pendidikan yang baik, bukan dilihat dari sebagus apa konsepnya, seunik apa kegiatannya, atau semenarik apa kemasan pembelajarannya. Tetapi lebih pada seberapa jauh kesadaran mengenai hal itu telah/sedang terbangun, baik itu dimulai diri sendiri ataupun ketika mampu melebarkannya pada komunitas terdekat. Salah satu resep dari Pakdhe Sus yang saya ingat, bagaimana supaya bukan hanya anak yang dilibatkan, tetapi juga siapa pun yang berkepentingan dengan mereka, khususnya orangtua. Sehingga pengertian anak sebagai subyek belajar bukan lantas menjadikan mereka satu-satunya pemain yang --maaf-- digarap penampilan atau performanya, dengan mengesampingkan keniscayaan tugas pihak lainnya untuk membersamai proses itu. Pelbagai pilihan 'pintu masuk' akan bisa menjadi satu cara progressif untuk secara alamiah mengajak para orangtua dan masyarakat terlibat langsung dalam dinamika yang ada, sehingga kemungkinan refleksi bersama menjadi mungkin terjadi. Karena dengan begitu, terselenggaranya model-model pendidikan alternatif akan tidak lagi membuat orangtua atau masyarakat bersikap pasrah menyerahkan anak-anaknya, seperti cara mereka bersikap kepada sekolah.

Sebetulnya kalimat terakhir ini saja sih yang membuat saya gelisah, terutama ketika semakin ke sini merasa masih jauh dari solusi dan terindikasi menjadi bagian dari masalah. Duh, Gusti!

Solo, 25 Januari 2020

___
*pinjam foto jepretan Agus Sunandar yang tidak sadar bahwa ada saya dalam frame kameranya

#gobloksemangat
#merdekabelajar
#pasamuan_among_anak
#sanggar_pamongan
#qaryah_thayyibah
#kbqt
#pendidikan_alternatif

INI SEKOLAH, BUKAN?

Read More