Kamis, 21 Februari 2019

SENJAKALA EKOLOGI




Lestari alamku, lestari desaku
Di mana Tuhanku menitipkan aku
Nyanyi Bocah-bocah di kala purnama
Nyanyikan pujaan untuk nusa

Damai saudaraku suburlah bumiku
Ku ingat ibuku dongengkan cerita
Kisah tentang jaya nusantara lama
Tentram karta raharja di sana

(cuplikan lirik lagu Berita Cuaca – Gombloh)



Dua bait bernas yang pernah diciptakan dan dinyanyikan dalam durasi 5 menit 20 detik penuh penghayatan oleh almarhum seniman bernama asli Soedjarwoto Soemarsono tersebut serasa membeku tak koyak oleh waktu, mengingatkan kembali akan bentang ekosistem di sekitar kita yang sedang merintih hebat saat ini. Baiklah kalau memang fitrahnya alam seisinya ini berujung kerusakan (kiamat), akan tetapi apakah kita tak boleh memilih untuk mengawal sisa-sisa usianya itu karena memang menyongsong takdir maut-nya sendiri, bukan karena sakit atau kecelakaan disengaja akibat kelaian kita dalam kesungguhan merawatnya?

Kita hidup di zaman sekarang yang menuntut segalanya serba cepat, di mana waktu dieksploitasi atas nama efisiensi dan produktifitas maksimal. Yah eksploitasi, karena mengeksploitasi waktu berbanding lurus dengan tindakan eksploitasi yang sebenarnya, terhadap sumberdaya alam, manusia dan kehidupan sosial di sekitarnya. Sampai-sampai bicara umur makhluk hidup pun, dengan berlindung di balik kemegahan pengetahuan dan teknologi, menjadi  hal lazim sekarang  jika hewan ternak dan tanaman pangan kian diperpendek usia siap panennya. Berbeda dengan para pendahulu dengan kearifannya, masih sangat meyakini bahwa di dalam waktu ada keberkahan, bahwa menghayati setiap detik-detik perjalanan hidup adalah proses pencapaian ruhani yang membahagiakan. Lambat laun di era sekarang, kuasa waktu menunjukkan tanda-tanda dalam bentuk yang sebetulnya sudah sejak lama kita sadari. Jika apa yang kita makan saja diupayakan dengan berbagai cara agar bergegas cukup usia panennya dan masih ditambah pula supaya segera siap tersaji, maka sudah barang tentu tidak aneh jika saat sekarang banyak anak-anak kita yang lebih cepat dewasa secara fisik, tidak termasuk jiwanya. Badan bongsor jiwa kosong atau anak-anak kecil tak bisa menolak datangnya masa akil baligh lebih dini dari generasi sebelumnya. Lebih jauh sangat masuk akal bila kemudian kita dapati umur manusia saat ini semakin pendek hanya dari melihat fakta apa yang dimakan.

Banyak ragam penyakit baru bermunculan, menyertai kian banyak pula jenis makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita. Kita bukan hanya tak peduli lagi dari mana asal makanan dan minuman tersebut, tetapi bahkan ketika sudah tahu bahwa ada kandungan racun kimia sintetik atau bahan berbahaya bagi tubuh pun, tetap saja kita konsumsi. Kita juga terlanjur mengimani kemujaraban obat-obatan farmasi mampu lebih cepat menyembuhkan daripada racikan obat-obatan tradisional yang sejatinya lebih mampu bersenyawa dengan daya kesembuhan tubuh kita. Betapa dari segala lini ekologi tubuh kita pun terpapar sedemikian hebat bahan-bahan yang tak sempat kita ketahui sumbernya, sehingga tak terasa memalingkan keyakinan total kita akan datangnya kesembuhan dari Sang Pemberi sakit. Generasi-generasi pasca millenials pada akhirnya menderita semacam kutukan dari 2-3 generasi sebelumnya. Kita lihat pasca-2000 muncul kecenderungan anak-anak yang terlahir dalam kondisi berbeda, entah itu secara mental, fisik ataupun nalar. Dan semua ini bukan tanpa sebab jika kita mau menelusuri diorama sejarah pertanian dan pangan yang sejatinya kian memprihatinkan. Ketergantungan yang kian tak terbendung dari hulu ke hilir. Contoh paling sederhana bagaimana sebagian besar petani saat ini susah untuk mandiri mulai dari lahan, bibit, pupuk, pengendalian hama hingga pengelolaan pasca panen.

Perlu kembali kita sadari bahwa alam ini bagaikan keluarga yang mestinya harmonis dan hidup rukun. Kenyataannya manusia hidup sepenuhnya bergantung dari alam dan bahkan seringkali terlewat rakus dengan banyak menuntut dan memperkosanya. Pemaknaan bias atas waktu pada dzahir-nya menjadi sebab utama kerusakan di mana-mana. Bahan-bahan mineral dan logam diambil dari perut bumi semata-mata untuk menopang nafsu ingin “lebih cepat” tadi. Cara-cara budidaya yang menjadi dialog mutual manusia dan alam menjadi bukan pilihan karena memang lebih panjang rantai produksinya sehingga jauh lebih lambat daripada cara-cara eksplorasi dan eksploitasi langsung dari alam.  Alat dan mesin rakus energi dibuat termasuk kendaraan, lalu jalan-jalan dibangun dan selalu diperlebar untuk menampung pergerakannya. Hamparan tanah sejengkal ataupun berhektar-hektar dilapis perkerasan atau bahkan tertutup bangunan. Air hujan yang katanya berkah dianggap kotor dan mengganggu ketika menggenang sehingga nasibnya pun sama, bagaimana supaya air cepat kering tuntas lebih dipilih daripada dibiarkan sebentar menggenang agar meresap kembali ke tanah. Dedaunan dan bahan-bahan organik yang berserakan pun demikian, dianggap kotor dan tak-elok dipandang lalu jadi alasan untuk boleh disapu bersih dan lantas dibakar atau dibuang ke sungai, tanpa kita sadari bahwa merekalah sesungguhnya remah-remah rejeki yang telah ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa untuk kembali diserap nutrisinya oleh tetumbuhan.

Demikianlah ternyata selama ini kita masih lalai mengindahkan hukum alam. Terlalu cepat kita menyalahkan alam ketika bencana terjadi meluluh-lantakkan batin, sisi kemanusiaan dan juga kenangan. Sedangkan alam hanya berjalan menyesuai dengan Yang Maha Kuasa tetapkan. Air mendidih ketika dipanaskan pun demikian akan menjadi “bulldozer alami” yang dahsyat ketika tak berkesempatan memeluk kembali Sang Pertiwi. Begitulah cara alam menyampaikan pesan Ketuhanan yang masih selalu saja kita salah-artikan. Sedangkan lewat karya-karya sebagaimana cuplikan lagu di awal tulisan ini—kalau boleh dibilang—bisa menjadi bentuk peran-serta menyuarakan upaya penyatuan-diri yang paripurna dalam ekologi semesta. Kemunculan substansi dalam rupa wadag yang tak lagi penting seperti ini niscaya disandingkan dengan narasi utama yang menjadi keprihatinan kita bersama. Begitupun kita semua pada dasarnya punya kesempatan yang luas untuk berbuat sesuatu memuliakan sesama ciptaan, apa pun latar belakang kita senyampang menyadari kesempatan itu. Jika ditelisik lebih dalam dua bait di atas, lihat saja bagaimana perhatian dan apresiasi jujur atas keberadaan dan saling sinergi antara ekosistem alam, ekosistem sosial, ekosistem spiritual, ekosistem kebangsaan, ekosistem pendidikan dan keteladanan dapat menyatu-padu dalam satu pesan atau peringatan bahwa senjakala ekologi niscaya datang lebih cepat manakala kita mengabaikan atau bahkan meremehkannya.


Bumi Sepanggang, 31 Mei – 8 Juni 2017


==================

* Tulisan ini hanya mengabarkan beberapa catatan dengan keterbatasan daya rekam saya dari pengalaman dan wawasan para sahabat dan guru winasis yang tak kuasa saya sebut satu-persatu, teriring doa untuk beliau semua dan mohon maaf apabila ada kesalahan dalam saya merekamnya;

**Dimuat dalam edisi perdana #jagalawu, Buletin "Literasi Kemuning", sebuah media komunitas nir-laba yang dikelola oleh Komunitas Kamar Kata Karanganyar;

*** Sumber Foto: https://i0.wp.com/santrijawa.com/wp-content/uploads/2018/04/konsep-ekologi.jpg?ssl=1

0 komentar: