Mingkar mingkuring angkara, akarana karnan mardi siwi
Sinawung resmining kidung, sinuba sinukarta
Aduh Gusti, pakartining ngilmu
Ingkang tumrap… ning ngalam dunya
Agama ageming aji
Sapa entuk wahyuning Allah, gya dumilah mangulah ngelmu bangkit
Bangkit rikat reh mangukut, kukutaning jiwangga
Yen mangkono, kena sinebut wong sepuh
Lir ing sepuh… sepi hawa ...
Awas loro ning atunggil
Ingsun ing Ngarcapada, urip kudu nerima
Karsaning Sang Pangarsa, tuhu setya utama
Hong wilaheng sekareng bawana langgeng ... sekar mayang
Hong wilaheng sekareng bawana langgeng ... sekar kajang
(Lirik lagu “Sekar Mayang” – Gombloh pada tahun 1981, yang diserap dari “Serat Wredhatama” Pupuh Pangkur bait I dan XII – K.G.P.A.A. Mangkunagara IV pada abad 19)
Mari kita petakan harapan—selayak makna mayang (bunga pinang) dalam tradisi Jawa yang kita diami—lalu membunyikan kecemasan secara lebih jujur. Sebab siapa saja kini boleh berpendapat, kapan saja, di mana saja. Bahkan kentut dan ingus kadal saja barangkali bisa memicu dialektika dan perdebatan luas di belahan dunia yang bukan habitatnya. Alat bantu menyuarakannya pun sekarang bukan jadi kendala lagi, terdukung oleh kemutakhiran teknologi dan industri media yang terus disempurnakan. Kita seperti tengah dihadapkan pada suatu era yang dulunya begitu didamba-dambakan banyak orang. Ibarat tidak ada alasan lagi menjadi pecundang karena setiap kemauan pasti ada jalan. Banyaknya kemungkinan kiranya jauh melampaui hitungan dan bayangan. Hal ini terdukung dengan telah tersedianya segala fasilitas sebelum kita sendiri terpikir untuk apa kegunaannya.
Dunia ke depan seolah-olah begitu sempurna karena setiap orang mampu mengupayakan dan bertanggungjawab atas keberhasilannya sendiri. Setiap mimpi dan hasrat purba manusia menemui jalan lapang. Jika mau, pencapaian kulminasi seseorang menjadi narasi aktual yang seolah tak terbantahkan di masa yang tak kenal lagi batas. Manusia kini betul-betul berada pada puncak piramida kendali atas dunia yang dihidupinya. Bahkan, manusia kian memupuk kepercayaan diri untuk menjangkau tuhan dalam ko-eksistensi yang profan, sebingkai dan selingkar dalam struktur ekologi yang imanen. Hal ini menimbulkan keniscayaan turunan bahwa transedensi tuhan tanpa sadar dinafikan pula oleh para pengagungnya.
Pada tahap berikut, segala bentuk kelembagaan (institusi) yang kemapanannya dibangun pada era sebelumnya, belakangan ini dikritisi atau bahkan dirobohkan eksistensinya. Segala sistem yang pada mulanya dikembangkan untuk mengatur dan mengoptimalkan kemudahan menjalankankan kehidupan mekanis dan terprediksi, pada akhirnya berbalik membebani dan justru menambah panjang lintasan mencapai tujuan. Lalu bersama-sama kita sedang menuju peradaban masyarakat permisif yang serba boleh. Ekspresi dan respon sosial kita barangkali menunjukkan seberapa pekat ekstase kesadaran kita atas situasi yang sedang terjadi. Kita dituntun terlalu jauh meninggalkan mata angin kearifan dan ketajaman penghayatan terhadap keniscayaan konteks, sesuatu yang dulu menjadi bahan baku intelektual nenek moyang membangun peradaban nan gemilang. Kita terlanjur terpukau oleh keampuhan bumerang nalar diri yang buas, menggulung dan menerjang bak tsunami.
Sebentar saja kita tengok, drama kolosal yang terpampang di layar keseharian kita. Sekolah-sekolah semakin banyak dan maju, tetapi tidak lantas membuat akses pendidikan menjadi semakin mudah terjangkau, alih-alih mencerdaskan anak-anak terbelakang dan papa. Rumah-rumah sakit baru dan apotek-apotek kian menjamur seiring pertumbuhan sebuah daerah. Namun itu juga tidak lantas menyurutkan antrean inap pasien dan jumlah orang sakit dengan ketergantungan medis. Masjid-masjid dan tempat-tempat ibadah lain tiap tahun bertambah, lebih megah dan semakin berdekatan jaraknya. Akan tetapi tidak serta-merta kemajuan seperti itu membuat kohesi moral dan spiritualitas umat beragama berdampak nyata secara sosial. Ada indikasi kejumudan pada hal-hal yang sebetulnya lebih prinsipil namun tak tampak. Bukan pada keberadaan dunia seisinya atau progresi peradaban yang mengalami percepatan hebat ini. Bukan pula tentang gairah dan kemauan siapapun untuk menjadi lebih baik, entah sebagai diri pribadi ataupun komunal. Tetapi kejumudan dalam pertumbuhan makna dan hakikat kemanusiaan itu sendiri.
Di balik kepercayaan-dirinya yang melambung, manusia pada dasarnya sedang mengalami dekadensi status dan identitas. Gejala kerisauan itu begitu meluap di benak dan perilaku generasi-generasi paska-kolonial atau kita kenal pula sebutan millennial. Mereka adalah generasi yang terpapar kemajuan budaya informasi dan teknologi digital di saat belum genap kesadaran dirinya terbangun. Daya tarik kekinian sedang menghisap nyaris keseluruhan perhatian mereka atas diri sendiri, lingkungan dan wawasan-wawasan yang mengisi ruang-ruang kosong dalam jiwa bernama “kerisauan” tersebut. Orang-orang tua, para remaja dan bahkan anak-anak tidak ada bedanya merespon kegagapan atas dunia yang begitu baru ini dengan “terpukau” dan “melenting” ke segala arah. Terjadi pula banyak “para pencari” yang terlalu sedikit membawa bekal kesadaran dan ketekunan berproses, meskipun kegairahannya begitu segar dan menyala. Semua dihadapkan pada kerisauan tentang bagaimana memahami dunia yang ada di sekeliling mereka. Perubahan-perubahan yang terjadi, pembaruan-pembaruan yang dijuangi adalah pergerakan masif yang masih berkutat pada bagaimana merespon rangsangan dari luar itu.
Pada akhirnya karena tulisan ini bukan hendak menjawab, kita perlu kembali bersandar pada bangun pribadi masing-masing. Kita perlu lebih banyak menyelam ke palung kesadaran, baik sebagai individu ataupun komunitas, secara mandiri atau bersama-sama. Kita perlu terus belajar mengembalikan kenyataan-kenyataan yang masih terserak dan sebagian terlanjur terbang bersama angin. Kita perlu menyadari betul bahwa takdir manusia adalah belajar segala hal untuk menyeimbangkan pemahaman atas realitas sekelilingnya. Tapi kita adalah bagian dari sebuah proses maha-panjang penemuan jati-diri ras “makhluk berpikir dan berdiri tegak” yang kita sendiri menyebutnya manusia ini. Sebagai bangsa, kita punya konteks sendiri yakni kegayutan atas capaian-capaian yang telah diraih para pendahulu kita, di tanah air ini bukan di tempat lain. Kita punya rasa, kearifan dan tradisi nalar yang juga paripurna sebetulnya. Kita generasi sekarang ini, perlu lebih giat menempa kematangan jiwa dan kesadaran batin yang terus menerus. Supaya kita tidak hanya menjadi juru gaduh, tukang caci, atau ahli cela yang terasing dari kedamaian, persaudaraan, keindahan, keteladanan dan kebijaksanaan pada fragmen kemajuan yang bukan pada kita kendali kesadarannya.
“Apakah barangkali aku telah terasing dari bangsaku? Mengapa aku lalu merasa gusar melihat hal-hal yang memenuhi hidup mereka, yang sangat mereka lekati? Mengapa aku kerap menganggap hal-hal yang bagi mereka mengandung keindahan dan menumbuhkan perasaan halus justru tak punya arti dan jelek?” (Sutan Syahrir)
Patutnya kerisauan atau kecemasan, sebagaimana Syahrir di atas ketika merenungkan tugas-panggilannya dalam perjuangan mengangkat bangsanya dari keterbelakangan dan penjajahan. Dia selalu melihat pembangunan bangsa pada akar-akar kebudayaan serta keyakinan dasar yang lebih dalam daripada pembangunan material belaka. Sedangkan kita?
Bumi Sepanggang, 26 Agustus 2018
============================
(dimuat pada edisi ketiga Buletin Literasi Kemuning, September 2018)


0 komentar:
Posting Komentar