Senin, 17 Februari 2020

Bagian 1: Riwayat Singkat



Pos ronda nampaknya memiliki riwayat panjang yang melekat pada perkembangan situasi geopolitik lokal masyarakat kita, selain tentu saja dengan tetap menyertakan fungsi pokoknya sebagai prasarana keamanan wilayah. Berawal dari kemunculannya dalam bentuk gardu jaga di pintu-pintu masuk keraton, di periode berikutnya VOC memiliki andil mereplika bentuk dan fungsi gardu tersebut ke tiap kampung dan desa, untuk menandai batas teritori secara lebih tegas. Istilah ronda--yang saat itu dimaknai berkeliling-- mulai dikenal, sebagai aktifitas kolektif warga menjaga keamanan kampung, tanpa melampaui batas teritorinya masing-masing. Fungsi itu kian menguat manakala marak terjadi aksi para bandit sebagai bentuk reaksi penanggulangan dari warga.

Sementara itu, kentongan ditengarai mulai difungsikan sebagai alat penyampai kabar telah terjadinya sesuatu, termasuk isyarat situasi aman. Meski  demikian hal itu bukan lantas berarti menandai awal mula diciptakannya kentongan. Sedangkan kemunculan gardu jaga di jalan raya diduga berawal ketika Daendels membangun jalan Anyer-Panarukan, pada setiap interval tertentu, sebagai penopang keamanan dan pengawasan.

Pada akhirnya pos ronda pun sempat menjadi kepanjangan tangan pemerintah dalam mengontrol dan mengendalikan warganya, terutama saat penjajahan Jepang dan berkuasanya orde baru. Pos ronda dalam masa ini menjadi cara paling efektif untuk memata-matai sekaligus mendoktrin masyarakat akar rumput. Istilah siskamling (sistem keamanan lingkungan) kemudian menjadi lazim untuk menyebut tata laksana penyelenggaraan kegiatannya.

Selain itu, pos ronda juga sempat mewarnai gejolak politik negeri ini, ketika marak bermunculan posko-posko kader berbasis partai. Kemandirian dan kegotongroyongan --yang sayangnya tersekat aspirasi politik-- begitu menyeruak menjelang kelahiran reformasi. Dalam bentuk dan fungsi yang lain lagi, pos ronda menjelma posko-posko layanan dalam momentum tertentu, yang --lagi-lagi-- sayangnya masih dilekati kepentingan organisasi sosial atau politik tertentu.

Bumi Sepanggang, 15 Februari 2020

(bersambung, Bagian 2: Pilar Sosial dan Ekonomi)
_____
*disarikan dari pelbagai sumber
*ilustrasi: https//encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcQ2PD9auQ7DaWnqciHBzegUafYa-0QpysOc-anBbnS9uGDSvz4S

MENJADI INDONESIA DARI POS RONDA (1)

Read More

Sabtu, 15 Februari 2020



Wahai tetangga pemilik tanah sebelah rumah, yang entah kau siapa dan di mana. Sejak tujuh tahun silam kami nikmati cahaya pagi yang menyapa  dari  arah  dimana lahanmu berada. Bertahun-tahun aneka jenis tanaman liar yang tumbuh di lahanmu menemani kami, mendidik rasa keindahan dan ketelatenan, meski terkadang malas dan kesal sesekali masih menggelayuti ketidakpedulian kami padanya. Pada setiap puncak penghujan dia tergenangi air, membiru terkena pantulan langit bersih selepas hujan semalaman. Hingga sempat kupotret saujana pagi berlatar gubuk bata tempat keluarga kami berdiam, membuat orang mengira rumah kami berada di tengah-tengah telaga. Ah, saat itu tidak ada ungkapan selain memuja keindahannya.

Alang-alang yang tumbuh sepanjang tahun, krokot dan tanaman jalar membelit dan mengisi sela-selanya, atau 'thukulan' widara yang orang di sini menyebutnya talok, terlalu sering kubuat tak tenang hidupnya. Bersama rumpun pohon insulin yang beranak-pinak mengisi celah-celah batu, mereka terpaksa kubinasakan demi melegakan pandangan. Tersebab hal ini mungkin lebih pantas kuminta maaf kepada mereka. Termasuk kepada tumpukan batu bakal pondasi milik tanah sebelah utara, yang pernah menjadi sarang ular dan terakhir sekawanan tikus tanah, terpaksa berantakan susunannya menjadi pagar rendah sekeliling, alakadarnya tertata.

Entah bakal jadi apa, jika sejak dua bulan lalu kedua tangan ini tak bosan-bosan menjamahi kepasrahan mereka. Kalau sekadar batang kayu menancap ke mata, jemari tergencet bongkahan batu, atau kaki tersayat duri putri malu, semoga saja itu hanya menjadi pengganti ketidakmampuanku bercakap dengan mereka untuk sekadar menepis kekurang-ajaranku merongrong hak kemerdekaannya. Sedangkan guguran daun dan buah karsen, syukur-syukur ditemani rontokan daun trembesi tua yang terbawa angin ke Barat, kerap jadi penghibur menyertai terbit dan terbenamnya matahari. Karena dari merekalah lahan ini mendapatkan asupan gizi, selain tersebab kerja keras para cacing, semut, rayap, ulat gagak dan beberapa uret yang bergeliat panik ketika terpapar cahaya. Meskipun entah di mana sekarang, tiga ekor burung puyuh yang setiap pagi berlarian memunguti rejeki dan orkestra kodok yang mengiringi tidur malam di musim seperti ini. Yang kami tahu, saat sekarang makin banyak ulat, kupu-kupu, belalang, tawon, laba-laba dan beraneka jenis serangga yang terlihat, mungkin juga karena tak sengaja tersingkap persembunyiannya.

Tentu tak ada yang pantas dibenamkan kecuali rasa syukur, bahwa kami masih diberi kesempatan berdekatan dengan tanah, tempat kembalinya jasad semua makhluk yang hidup di muka bumi, dengan membaui aromanya, juga merasai tekstur kehidupannya. Terlebih ketika menjumpai sekarung-dua kotoran kambing yang tahu-tahu tergeletak siap dipakai sore kemarin, mungkin dikirim oleh mbah angon yang setiap hari menyemangati. Tak pelak, kami seperti diingatkan tentang bagaimana cara lain berkasih-sayang.

Tetangga, makasih ya...

Sepanggang, 15 Februari 2020

BERKASIH-SAYANGLAH

Read More

Rabu, 12 Februari 2020


Yaz, setiap kali kubuka media sosial, senantiasa kau hadir dalam status-statusmu yang mengesankan. Seraya kusaksikan selalu harapan yang tumbuh di dadaku, tertusuk-tusuk runcing kenyataan hidupku sendiri hingga koyak tak keruan. Cairannya keruh, menggenangi mimpi-mimpiku tentangmu, mengapungkan serasah penyesalan yang makin hari kian menumpuk, mengotori setiap aliran kenangan sejak kita tak lagi bersama. Belum lama kusadari, tak mungkin kubandingkan kau dengan bekas suamiku. Dia yang menikahiku saat menjadi bintang lapangan, di akhir pernikahan kami terpaksa menjadi pengangguran dan suka berjudi mengadu peruntungan. Kau yang dulu kutinggalkan sebab terlalu lambat memberiku jaminan masa depan, ternyata memiliki ketangguhan mimpi dan harapan.

Kau dan siapapun lelaki boleh saja menerka apa yang ada dalam isi kepala perempuan sepertiku, tetapi jangan harap kalian temukan sesuatu kecuali kekecewaan. Apalagi untuk menyelami hingga dasar batin, di mana rasa terpelihara bersama jejak sejarahnya. Kalian sesungguhnya perlu bertanya kembali kepada tujuan awal mengenal perempuan, terlebih kepada seseorang yang pernah memikat hatinya. Aku bukannya sedang mengakui perihal kepalsuan yang menjadi kecenderungan sikap sebagian perempuan sepertiku. Atau semacam membenarkan sebagian besar anggapan lelaki, bahwa berkat keunggulan nalarnya, mereka merasa tahu semua hal, termasuk isi kepala perempuan. Seperti halnya penuturanmu ketika terakhir kali kita bertemu, cukup Sel, aku sudah tahu. Kau sudahi pembicaraan kita dengan beberapa saran jalan keluar yang semakin membuatku terpikat dan merasa diperhatikan.

Taksi online yang kutumpangi melaju sedikit lebih kencang. Sorot lampu-lampu jalan, nyala terang deretan neonbox dan papan iklan, tak membuat pikiranku rebah istirahat barang sebentar. Berkali-kali kupandangi layar ponsel yang terlihat begitu silau di keremangan dalam mobil, kala mendung di langit seperti hendak runtuh petang ini. Sudah kupastikan anak buahku menyiapkan sesempurna mungkin aneka kudapan, berikut hidangan makan untuk acara malam ini di lokasi yang sedang aku tuju. Jadi jelas sekali hal itu tak perlu membuatku risau. Satu-satunya penyebab kepanikanku tak lain karena aku tak ingin kehilangan kesempatan melihatmu membaca puisi di panggung salah satu kafe pelanggan usahaku, sebagaimana poster digital yang kau pasang di statusmu sejak kemarin. Sialnya perihal acara itu tak kuketahui sebelumnya, selain pesanan konsumsi dari panitia. Padahal terpampang jelas di poster itu, kaulah salah satu bintangnya, Yaz Prihangga, penyair nasional.

Kuingat terakhir kali kau beri kabar lewat pesan WA sebulan lalu, dan tak pernah terpikir olehku, perihal kepulanganmu dalam maksud penyelenggaraan acara ini.

"Mungkin sekitar pertengahan bulan depan.”
"Sekeluarga?"
"Sendiri."

Pesan terakhir yang kuterima darimu itu serasa embun, membasahi kemarau bertahun-tahun. Sengaja kubiarkan kata itu tanpa tanggapan balik dariku agar mudah kubaca lagi. Juga supaya sebebas mungkin dapat kumaknai sesuka hati, sebelum betul-betul kita bertemu nanti.

Pukul lima lewat empat puluh delapan petang, rintik air laksana jutaan jarum yang menghujani ingatan, menyiksa kesepianku begitu tiba di lokasi acara. Kuingat pengakuanmu terkait kenangan tentang hujan sore hari bersamaan dengan putaran pandanganku berusaha mencarimu. Kulihat beberapa meja telah berisi satu-dua orang yang khusyuk bermesraan dengan ponsel masing-masing. Pada satu meja dekat kasir, kulihat Pak Roy pemilik kafe ini duduk menghadap seorang lelaki yang bisa kupastikan bukan kamu. Ah, kenapa mataku selalu tak sesabar hatiku untuk menemukanmu, batinku. Rintik hujan masih terdengar, menimpa lamunan dedaunan, tengadah rerumputan, dan segala kebekuan yang diusiknya, termasuk genangan kerinduan yang kurasa sedikit memalukan. Sedikit ragu langkahku mendekat, hingga terlihat beberapa buku dengan namamu tertera di sampulnya, di antara buku-buku lain yang tak membuatku tertarik sedikitpun. Tatapan mata Pak Roy menangkap kedatanganku, menyusul lambaian tangan dan sebuah isyarat agar aku mengambil tempat paling nyaman. Kubeli beberapa bukumu, meski tak pernah kumerasa sanggup meluangkan waktu untuk membacanya. Aku bukan penikmat puisi, tetapi hanya menghendakimu sebagai pengisi kekosongan hati.

"Tumben, Sel," tergopoh-gopoh Pak Roy menyalamiku.
"Pasti karena Yaz, ya?" Sambungnya sambil terkekeh.

Sama sekali tak kuduga sebelumnya, Pak Roy katakan perihal ceritamu tentangku, tentang masa lalu kita, bahkan tentang pertemuan-pertemuan kita. Tentu saja kuberdiri di depannya dengan menyimpan rasa tak keruan, antara malu dan tak percaya. Rupanya dia juga menduga bahwa akulah tamu khusus yang sempat kau janjikan sebelumnya, sebab kedatanganku yang tidak biasa di acara seperti ini. Seketika napasku serasa terhenti. Ada sesuatu di hatiku yang melambung tinggi. Segera kupersilakan Pak Roy menyambut rombongan tamu yang baru saja datang, agar ketidaknyamananku berdiri tak sempat dia ketahui. Beberapa detik kutertegun, sebelum kemudian kakiku melangkah ke sebuah meja di tengah, berhadapan lurus dengan panggung, sambil kubayangkan nikmatnya menyaksikan pesonamu tak lama lagi. Segera kupesan kopi hitam ketika seorang pelayan menyodorkan daftar menu, sebelum kembali kucoba hadirkanmu pada menit-menit kumenunggu.

Sekitar empat tahun sebelum hari ini, kita pernah bertemu sekali, setelah duabelas tahun sejak kepergianmu dari kota kelahiran kita ini. Kau bersedia menemuiku di calon toko roti yang sempat kujadikan pemikat perhatianmu agar kita bisa bertemu. Sebuah kedai kopi berseberangan dengan kios yang kusewa, serupa tempat kencan dua pasangan yang masing-masing telah berkeluarga. Setidaknya perasaan seperti itu yang pada waktu berikutnya baru kuketahui. Saat itulah betul-betul kusaksikan pesonamu sebagai lelaki dewasa, jauh berbeda dengan ingatanku tentangmu jauh sebelumnya. Kau begitu cekatan menyodoriku beberapa sketsa ruangan yang kuimpikan, meskipun sesungguhnya bukan itu yang membuatku terkesan. Tetapi justru rambut terkucir beserta kumis tipis dan caramu memegang rokok ketika bicara, hampir menyita keseluruhan perhatianku di puncak kerinduan dan rasa penasaran yang terlunasi malam itu.

"Anakmu sudah besar, Yaz?"
"Baru masuk TK, anakmu?"
“Ngeledek kamu ya?"

Tentu saat itu kau lihat, sempat kutersipu dan hampir saja salah mengambil cangkir kopi milikmu. Meskipun begitu sungguh kusadari, kesempatan malam itu tak sedikitpun kusia-siakan. Kau pasti tak menduga sebelumnya, bahwa rona hidupku tak secantik pujianmu ketika mengomentari foto profilku. Berawal dari cerita perihal anak gadis pertamaku yang sudah SMA, berikut si cantik kecil adiknya yang baru kelas 4 SD, kutumpahkan sedanau kisah hidup yang membuatmu terpaku sampai batang rokok terakhir.

"Selamatkan dua bidadari kecilmu, Selly."
"Maksudmu?"
"Ya, mungkin hanya itu cara menghapusnya."
"Aku makin tak mengerti."

Aku tahu, setelah puas kutumpahkan segala sesak di dada kepadamu, kau menjadi sedikit banyak tahu latar belakangku. Sehingga bisa kupastikan kau bakal memahami ketika kukatakan bahwa mungkin banyak lelaki yang bisa memberikan kepuasan berahi, lebih banyak daripada mereka yang sanggup menyediakan kepuasan materi. Dan kau terlihat dingin menanggapinya dengan, bakal lebih sedikit lagi yang mampu mempersembahkan kepuasan hati,  yang langsung kuiyakan kala itu.

"Kelak kau akan mengerti dengan sendirinya," timpalmu.

Saat itu pandanganmu jauh menerawang, seolah hendak menjangkau lapisan masa yang baru saja kuceritakan. Aku pun terbawa arus ingatan karenanya, pada saat di  mana para lelaki seumuranmu masih bau keringat anak sekolahan dan merasakan kepanikan pagi sebab PR yang belum terkerjakan. Andai kau tahu, saat itu aku telah lebih dulu mendulang keringat serta kepanikan yang lain, merasakan belaian, rengkuhan, bahkan kenikmatan yang tertukar kesucian. Sedangkan kau semakin jauh kutinggalkan.

Kau datang tak berselang lama setelah kuselesai membuka bungkus plastik bukumu yang berjudul Menjadi Jodoh Perempuan-Perempuan Terpilih’. Belum sempat kupikirkan, bagaimana cara mendekat apalagi sekadar berbincang denganmu, kulihat kau keluar dari mobil dengan syal melingkar di leher. Seorang wanita yang bukan istrimu menyusul turun dan segera menggandeng tanganmu. Perempuan berperawakan kecil itu menurutku tidak bisa dibilang cantik, namun terlihat anggun dari gerak tubuh dan caranya menanggapi lawan bicara. Tubuhnya kecil, rambut tergerai sebahu dengan pakaian warna gelap sederhana, tanpa dilengkapi perhiasan di leher ataupun pergelangan tangannya. Sesekali kau rangkul pundaknya, setiap kali orang-orang bergantian menyambut dan menyalami kalian. Aku terpaku membayangkan istri dan anakmu, betapa mereka menjadi begitu istimewa kurasa saat ini. Sekejap kemudian menyusul rasa terasingku di antara para pengunjung yang ramai membicarakan puisi dan kamu. Sambutan, pembacaan dan tanggapan, bergantian memenuhi kejenuhan, menghunuskan kata-kata yang tak satupun kumengerti maknanya.

Tiba saat gilirannya kau bacakan puisi. Pembawa acara menjelaskan perihal gangguan serius pada tenggorokanmu sehingga perempuan itu yang akan menggantikan. Segera setelah mendengar itu, kuingin secepatnya undur diri dari keterasingan yang menjadi-jadi di permulaan malam kali ini.

***
*dimuat di https://m.detik.com/hot/art/d-4864183/permulaan-malam-yang-gerimis

PERMULAAN MALAM YANG GERIMIS*

Read More

Selasa, 11 Februari 2020

Pada suatu pagi yang lusuh, tatkala riuh perayaan hari jadi kota ini sedang dipersiapkan puncak mandamnya dengan hati sungguh. Jalan-jalan utama bersolek, alun-alun kota berhias keramaian tanpa putus, dan bola mata para peresah dipenuhi spanduk dan baliho aneka rupa acara yang selalu dijaga senyuman dan setelan baju kebesaran pasangan pimpinan daerah.

Sepagi ini, saya sedang merasakan kesialan, meskipun bagi kebanyakan orang sebetulnya tak lebih sebuah kepastian nasib yang bisa datang kapan saja. Ban belakang sepeda-motor saya bocor sehingga tak ada pilihan selain menyerahkan nasib selanjutnya pada ketelitian tukang tambal ban. Nasib saya pula yang mengantarkan pada perbincangan dengannya kali ini. Termasuk beberapa tahun sebelumnya sempat saya terinspirasi oleh senyum sapa dan pancaran mata ramah dia pada setiap lalu-lalang orang yang lewat ketika dia pagi-pagi sudah memarkir gerobak. Telingaku menangkap irama karawitan dari radio transistor yang tergantung di tiang geroibaknya. Beberapa hisapan kretek mulai membuat sepi dan terlunta-lunta menyapa keingintahuan saya. “Pak No, jenengan pun putra pinten?” tanya saya setelah beberapa detik sebelumnya berhasil mengetahui namanya.
Nama aslinya Parno, akrab dipanggil Pak No, salah satu tukang tambal ban yang mangkal di Jalan Lawu Karanganyar. Pendidikan terakhirnya SD, bersama istri dan kedua anaknya, lelaki sumeh ini tinggal menempati rumah warisan orangtuanya. Anak sulungnya sudah lulus STM dan belum bekerja, meski kabarnya sudah sempat mendapat panggilan, tetapi Pak No belum tahu soal kepastian selanjutnya. Sementara itu anak keduanya masih SD, yang berarti terpaut cukup jauh umurnya, pikir saya. Istri Pak No berjualan dawet di utara Gedung KPU, yang hasilnya lumayan membantu kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Menurut pengakuannya, dia sudah jadi tukang tambal ban mulai sekitar tahun 1986-1987. Pada tahun-tahun itu dia sudah membantu ayahnya mangkal berpindah-pindah di sekitar lahan yang sekarang berdiri Toserba Mitra. Ayahnya bernama Mbah Darmo, tentu saja menjadi salah satu perintis jasa tambal ban yang ada di pusat kota Karanganyar. Sejak tahun 2000, Pak No melanjutkan usaha bapaknya di lokasi yang ditempatinya sekarang. “Sedinten ngoten rata-rata pinten kendaraan, Pak No?” Entah setan dari mana yang membuat saya berani-beraninya melontarkan tanya seperti itu. Tapi untungya Pak No mau menanggapinya, meski dengan suara lirih seolah tak mau sungguh-sungguh memperlihatkan perihal seperti ini.
“Nggih mboten mesthi, Mas. Nek sepi, sok-sok nggih pit tiga, pit sekawan, elek-eleke pit gangsal.”
“Nek paling kathah?”
“Paling nggih nek pas bareng-bareng ngoten nika, Mas.”
“Lha bikake yah napa dugi yah napa lho, Pak No?”
“Jam wolu dugi jam gangsal.”
Sebagai pemain lama, Pak No bisa merasakan pasang-surut usaha tambal bannya. Meski sekarang jalan-jalan ramai dengan kendaraan, Pak No mengaku hal itu tidak berpengaruh banyak pada peningkatan jumlah pelanggannya. Salah satu analisa sederhananya mengatakan bahwa saat ini sudah bermunculan usaha-usaha tambal ban lain di sekitar pusat kota Karanganyar. Ditambah lagi dengan adanya model velg racing dan teknologi ban tubeless, membuat Pak No semakin gusar dengan kemampuannya, “Soale nek dicongkel rosa, rusak. Biasane kula ken mbeto ten ler terminal Jongke. Yen mrika lak garape ngangge mesin.” Pak No mengaku tak mau berpikir ribet terkait pekerjaan. Sekiranya tak mampu mengerjakan karena keterbatasan alat, dia lebih memilih menunjukkan tukang tambal ban lain. Dia juga merasa tahu diri dengan ketrampilan tangannya. Untuk mobil, Pak No hanya mau terima mobil angkutan kota. Artinya Pak No tak mau sembarangan menerima kerjaan, karena takut merusak atau terjadi hal tidak mengenakkan lainnya. “Ngeten niki wong adhang-adhang ta mas. Nek enten nggih kula garap, nek mboten enten nggih kula meneng, nek mboten saged nggih kula ngomong.”
Membayangkan alam pikiran orang-orang seperti Pak No, saya jadi tertarik menggalinya lebih jauh,  tentang apa yang dia saksikan, juga tentang apa yang dia rasakan. Apalagi menjumpai semacam pergulatan antara kobaran semangat dan rasa rendah diri yang tampak dari naik-turun ekspresinya. Seperti ketika sorot matanya berbinar, rekahan senyumnya malu-malu, dan sekali waktu suaranya melirih dan semakin hilang tak terdengar. 
“Jenengan nek ningali Karanganyar kados sakniki pripun, Pak No?”
“Nek kalih ndhisik, nggih apik sakniki no, Mas. Tapi nek bab gaweyane apik dhisik.”
“Riyin kula ngertos jenengan niku pun bikak enjing sanget ta, Pak.”
“Sing dhisik setengah pitu, Mas. Mbarengi cah-cah mangkat sekolah. Sak niki cah sekolah mboten angsal numpak pit, pulisi, larangan niku! Marai ngeten le mas, nek cah sekolah numpak pit, nek tabrakan niku dereng duwe napa-napa niku le, prinsipe ngoten. Sakniki, larangan niku. Lek dhisik isa diselah mas, wayahe cah sekolah mangkat, bukak. Ra ketang enek kebanan, enek sing ngompa, saiki pun mboten kenek dijagakne.”
“Lha jenengan saged gadhah kompresor ageng ngeten niki?”
“Bapak. Warisan. Dadi niki nglanjutne mas, ditelateni. Kados kula, nyambut gawe mboten saged neka-neka. Ning bangunan nggih rekasa, nggih ta? Padha mawon. Ning sawah nggih rekasa. Luwung ngeten, ditunggu enten, mboten enten, ngleleng. Sok-sok men nggih meneng kula nggihan.”                                                                                   
“Nggih, mugi-mugi sehat terus nggih, Pak No.”
“Kudu sabar atine, Mas. Nek mboten sabar wis prei nyambut gawene. Kulo nggih angger tiyang mriki dha ngelokne panas. Panasi ra masalah, sing penting atine sik. Nek atine seneng? Kangge kula penting sabar, atine seneng.”
Perbincangan dengan Pak No berakhir tak lama selepas dia pasang kembali penutup pentil (valve cap) ban roda belakang. Bersamaan pula dengan sebuah pesan WA masuk ke ponsel saya, “Pak, wis entuk kabeh drg? Pala kr tumbare ja lali.” Baru saya ingat tujuan saya mampir ke Pasar Jongke. Spontan tangan saya merogoh saku celana. Saya gegas dapati rasa syukur karena daftar titipan belanja dari istri masih ada. Menyusul serentetan suara sirene mobil-mobil pemadam kebakaran yang berkejaran ke arah Timur, membuat sesuatu di dada saya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Karanganyar, 20 November 2019

___

 *dimuat dalam Buletin Kemuning, Edisi Desember 2019

#buletin_kemuning
#rubrik_ilalang




ADHANG- ADHANG SABAR, SANGU ATI SENENG

Read More