Senin, 16 Maret 2020

(Catatan Seorang Pemula dalam Laku Spiritual)




Saya, bisa dibilang awam atau pemula dalam laku spiritual, lebih khusus meditasi. Beberapa kali mengikuti kajian dan praktik meditasi bersama SHD, belum ada hal spesifik yang membuat saya mengerti kondisi hening yang dimaksud. Sampai pada acara di Batuwarno awal Desember 2019 lalu, ada satu sesi --dari beberapa sesi-- meditasi yang membuat saya serasa mendapat curahan energi yang menyegarkan. Saya sebut begitu karena dalam kondisi hening itu saya berada di ambang kesadaran (semacam tertidur tapi sadar) dengan menyisakan kondisi tubuh lebih segar dan fit setelahnya.

Setelah Batuwarno, terhitung dua kesempatan berikutnya, di Ponorogo dan Karanganyar, saya lebih banyak memperhatikan isi kajian, terkait banyak hal baru yang sempat saya dapat daripada penjelasan SHD sebelumnya. Posisi menjadi (semacam) panitia penyelenggara di dua acara tersebut, barangkali membuat kepala saya sedikit dipenuhi pikiran-pikiran teknis. Meditasi yang saya jalankan menjadi tak begitu mendalam, mungkin berawal dari pikiran yang masih keruh. Ah, analisa seperti ini juga sebetulnya yang kemungkinan besar membuat saya belum berjatah.

Beruntung saya mendapat beasiswa 'Workshop The Secret of Avatar' di Solo, menjadi pengalaman dua hari yang menurut saya sangat berharga. Saya sebut begitu karena dalam acara itu, saya rasakan energi yang demikian besar baik dari SHD sendiri ataupun dari penyatuan energi para peserta. Meskipun dalam rangkaian meditasi selama dua hari itu saya merasa belum cukup 'sampai,' ada satu momen yang begitu saya ingat. Momen itu terjadi manakala ada salah satu peserta yang 'trans' (atau apalah sebutannya, saya kurang begitu paham), sesaat setelah berakhirnya sesi meditasi bersama. Saat itu saya teringat dengan kejadian 'trans' Mbak Desi di Batuwarno sebelumnya. Bedanya, saat di Batuwarno saya mengabaikan kejadian yang saya saksikan, sedangkan di Solo saya sengaja punya niat memperhatikan apa yang sesungguhnya terjadi. Apalagi waktu itu, selain SHD juga beberapa peserta lain, saya saksikan meresponnya dengan berbagai macam cara. Saya sendiri hanya berusaha fokus memperhatikan apa yang dialami peserta yang 'trans' itu, sampai saya rasakan begitu kuat energi di sekeliling yang terkumpul masuk ke tubuh saya dari segala arah, menyusul mata saya terpejam dengan sendirinya demi merasakan hal itu. Beberapa detik saya coba menikmati apa yang terjadi dengan tubuh saya. Tak lama kemudian, kedua kening saya seperti 'diplirit' oleh sesuatu. Saat yang sama, saya rasakan pancaran kuat dari kepala (atau dahi?) mengarah ke peserta tersebut. Seingat saya --entah benar atau tidak-- waktu itu saya pun sempat tersenyum, terkesima oleh fenomena energi yang baru sekali itu saya rasakan, meski berlangsung tidak lama, tapi sangat terasa dan membekas hingga sekarang.

Setelah acara Solo, terhitung beberapa kali SHD mengajak meditasi bersama (di waktu yang sama, meski lokasi berbeda). Beberapa meditasi saya ikuti sebisa mungkin, selain yang kebetulan memang tidak bisa. Ada satu kesempatan (seingat saya yang Adhi Budha), saya kembali bisa merasa nikmat ambang sadar, terasa energi benderang tercurah mendamaikan, sampai-sampai tak terasa satu jam meditasi itu saya lakukan. Saya juga jadi bisa bedakan rasa halus dan rasa kasar dari mengikuti beberapa kali meditasi bersama itu, selain mulai terbiasa meditasi menggunakan iringan 'sound' yang saya siapkan sebelumnya.

Khusus untuk pengalaman meditasi di Candi Sukuh, kesempatan pertama saya sengajakan untuk  melunasi saran SHD, di bulan Februari belum lama ini. Saat itu saya berangkat sendiri, mengambil waktu sekitar jam 10-11 pagi. Tiba di Sukuh saya langsung ambil tempat dan memulai meditasi tanpa menggunakan iringan 'sound.' Sebisa mungkin saya berusaha memusatkan rasa dan perhatian pada nafas, pada kehadiran saya di situ, disertai niat tersambung dengan entitas yang ada. Samar-samar tersingkap suatu gambaran keberadaan Candi Sukuh di masa lalu, sempat saya saksikan. Semoga saja kesaksian itu bukan atas kerja pikiran saya yang memang sejak berangkat telah termotivasi oleh petunjuk dari SHD tentang jiwa masa lalu saya di situ.

Kesempatan kedua, saya berangkat berempat dengan Pak Untung, Bu Ririn, dan Pak Langking, di malam 'anggara kasih' yang telah jadi kesepakatan kami sebelumnya. Kami datang disambut hawa dingin disertai kabut lumayan tebal menyelimut. Angin kencang memang sudah berlangsung sejak sore, sebelum kami berangkat. Sisa-sisa basah terlihat seperti baru saja selesai hujan. Langit tertutup awan, bulan dan bintang tidak kelihatan. Meditasi saya lakukan bersama yang lain,  saya sendiri mengawalinya dengan bantuan sound Guru Sejati, lalu di tengah-tengahnya saya sempat menggunakan sound 'Peacefull Relaxing Instrument', meski baru jalan beberapa menit kemudian saya lepas, menyusul saya tanggalkan pula jaket yang membungkus badan. Soundscape di sekeliling kami sangat mendukung, dan ada saat beberapa menit benar-benar sepi (tidak ada angin, tidak ada suara), membuat hening total yang melegakan. Saat yang singkat itu saya nikmati sebagai keheningan yang berharga, di antara suara angin kencang dan perasaan-perasaan terancam yang muncul pada mulanya. Karena di detik-detik sebelumnya sempat ada perasaan dikelilingi sesuatu, meski akhirnya bisa terlepas ketika kembali fokus mengikuti rasa hening, kelindan cahaya ungu dan jingga, berikut pendaran cahaya putih mengecil-membesar. Selebihnya saya merasa puas dengan capaian ini, karena semakin ke sini menjadi terbiasa melepas harapan-harapan terlalu tinggi atas hasilnya. Semoga bisa berjatah lagi, selalu hening dan terkondisi mawas diri.

Karanganyar, 16 Maret 2020

JEJAK PEJALAN AWAM

Read More

Jumat, 13 Maret 2020

: Refleksi Acara Diskusi "Menggagas Praktik Model Sekolah Merdeka" di Teras Budaya nDaleme Eyang, Sumber-Solo



"Esok adalah hari ini, karena hari ini telah menjadi masa lalu" (Dr. Sutanto Sastraredja)

Sengaja saya mengutip pernyataan Pak Tanto sebagai salah satu pembicara semalam, karena hal itu seperti mengingatkan perihal kelambatan kita semua --bukan hanya pemerintah-- dalam hal ini, menyikapi perubahan dunia yang sudah sedemikian cepatnya. Sedangkan negeri ini tak kurang memiliki paedagog (dalam bahasa Yunani bermakna seseorang yang diserahi tanggungjawab mengamati tingkah laku anak dan mengajarnya menulis dan membaca) yang telah puluhan tahun meramu suatu rumusan dan praktik kemerdekaan belajar.  Kalau mau, dari pemikiran dan pengalaman merekalah kita sebetulnya bisa belajar banyak mengenai paradigma dan metodologi belajar dimaksud, sehingga kegagapan seperti sekarang bisa dihindari.

Perkembangan pendidikan akhir-akhir ini yang cenderung menyempit pada pengertian pembelajaran vokasi (ketrampilan), agaknya patut dikhawatirkan. Karena tujuan pendidikan yang mestinya mengantarkan seseorang pada kebahagiaan dan keselamatan tertinggi, bakal semakin jauh dari harapan. Manusia pada kodratnya telah sempurna memiliki akal, karsa dan budi, beserta tugas menyempurnakan itu semua sepanjang hidupnya, bakal semakin terpuruk pada mekanisme dunia yang semakin pragmatis dan individualistik.

Kedua pembicara sepakat bahwa sesungguhnya akar substansi dari sekolah merdeka adalah merdeka belajar, yang tergerak dari dalam diri seseorang sebagai tanggungjawab pribadi (individu) ataupun komunal (sosial). Bermula dari tujuan memenuhi kebutuhan dasar, lalu beranjak pada memenuhi kewajiban bersama, pendidikan diharapkan mampu memuliakan kehidupan sebagai ekspresi moral-spiritual secara lebih luas.

Ibe Karyanto yang berlatar-belakang pemikir dan pegiat, mengupas secara terstruktur mulai dari paradigma, metodologi dan praktik. Hal itu dia kemukakan sebagai bagian dari partisipasi warga negara yang prihatin dengan keberlangsungan pendidikan di akar rumput, meskipun undang-undang memberi amanat negara untuk menjamin pendidikan bagi warganya. Ibe mengetengahkan satu rangkaian metodologi pendidikan yang disederhanakan sebagai: berdiskusi, bernalar, bereksplorasi dan berefleksi. Memahami cara itu secara dalam, membuat kita bisa sedikit mengabaikan keriuhan akibat kebijakan Sekolah Merdeka yang dicanangkan. Ibe berharap makin banyak tumbuh inisiatif, entah itu di lingkup pendidikan formal ataupun non-formal, yang kesemuanya berangkat dari paradigma 'belajar merdeka' seperti dimaksud.

Sementara itu, Pak Tanto secara kreatif mengetengahkan metodologi belajar yang berpeluang menjadi inisiatif di tengah formalisasi pendidikan ala negara. 'Merdeka belajar' menurut beliau tidak bisa hanya berhenti pada anjuran normatif, tetapi bagaimana kreatifitas siapapun diharapkan dapat tumbuh dalam mengemas cara belajar menjadi suatu yang mengasyikkan. Dunia pendidikan yang terlanjur mekanis dan instruktif, harapannya dapat disiasati lewat perencanaan dan pembiasaan cara belajar yang dapat lebih mencukupi kebutuhan. Sekat-sekat kelembagaan sudah saatnya dileburkan supaya antar pihak dapat terkoneksi, sehingga tumbuh suatu jejaring pengetahuan tanpa batas. Dengan begitu pengetahuan dapat tereproduksi dengan sendirinya, persoalan riil kehidupan juga dapat lebih lebih cepat terselesaikan, syukur-syukur bisa lebih dini diantisipasi. Kegiatan bereksplorasi dan berkreasi yang bertumpu pada pembelajaran tanpa henti akan menjadikan kemerdekaan belajar tercapai dengan sendirinya.

Perbincangan ditutup dengan menyiratkan harapan tentang upaya yang bisa sesegera mungkin dilakukan, yakni dengan memperbanyak inisiatif, menerapkan model, serta membangun jejaring, dari lingkup terkecil menuju ekosistem merdeka belajar yang semakin luas dan membesar. Pada akhirnya momentum sekolah merdeka akan terjawab oleh kesiapan antar pihak menyambutnya.

Karanganyar, 14 Maret 2020

____
*pinjam foto hasil jepretan Mbak Catur Wulandari, pegiat Lingkar Belajar antar Sanggar asal Blumbang-Tawangmangu yang sekarang menjadi dosen di Universitas Tidar - Magelang;

MENYAMBUT EKOSISTEM MERDEKA BELAJAR

Read More