Refleksi Diskusi ke[kalang]an #2
(sebuah narasi tentang ketukangan)
Pada awalnya, sempat saya berpikir, "Nggak salah nih, IAI Solo mengundang Pak Paulus Mintarga dan Mas Yoshi Fajar Kresno Murti jadi pembicara?" Sebab saya menduga, apa yang bakal disampaikan keduanya secara bersamaan bakal menggedor kemapanan cara pandang arus utama, baik itu dari praktisi profesional ataupun mahasiswa.
Tetapi saya tetap berharap banyak dengan gairah IAI Solo belakangan ini, yang produktif membuat acara dengan mengundang khalayak. Sedangkan kali ini saya hanya akan merefleksikan sebagian kecil pemahaman yang saya dapat dari dua narasumber berkompeten dalam kegiatan diskusi itu. Kebetulan dua-duanya telah bergelut dengan praktik 'ketukangan' selama 15 tahun (mungkin lebih) dan tentu saja 'menghadiahkan' jejak karya arsitektural yang terbilang kaya dengan pengetahuan yang dapat ditularkan. Semoga tidak salah dalam saya menduga.
Secara dangkal saya membedakan antara Pak Paulus yang banyak bereksplorasi tentang kesadaran site dan material, sedangkan Mas Yoshi lebih dalam lagi menyelami esensi dan cara pandang arsitektur terhadap keberlangsungan kehidupan nyata. Terasa sekali, perspektif kedua pembicara menjelaskan perihal 'nilai' arsitektur yang melampaui batasan tubuh (fisik) yang tampak. Lebih-lebih Mas Yoshi yang hanya menempatkan perwujudan arsitektur tak lebih sebagai dampak logis belaka, bukan sebagai tujuan.
Sedikit meringkas tema mendasar yang Mas Yoshi bawa mengenai 'ugahari' dan ketukangan, sebagai konsep laku dan pikir yang berdampak luas lagi holistik, menyentuh segala aspek sosial, budaya, ekonomi dan politik yang lekat terhadap konteks ruang ataupun waktu. Saya bayangkan akan selalu ada pergerakan, yang melibatkan antar-pihak dalam setiap 'proyek' Mas Yoshi. Ada sesuatu yang tertanam, terawat, lalu tumbuh menjadi sesuatu yang baru, namun juga masih terjelaskan kegayutannya dengan situasi sebelumnya. Semisal pertumbuhan pengalaman dan wawasan pemilik yang bisa dilihat dari sebelum dan sesudah rumahnya terbangun. Atau percepatan regenerasi keahlian dan ketrampilan memberdayakan potensi (tidak hanya material) setempat, manakala antar-pihak terlibat aktif mengambil peran masing-masing dengan pas. Nah, kosakata 'pas' ini, yang kurang lebih sepadan dengan kata 'wangun' dalam bahasa Jawa, menjelaskan 'ugahari' sebagai satu konsep berpikir, metode dan hasil yang kelak terjadi.
Saya kembali teringat perihal 'ketukangan' dimaksud, yang barangkali masih sempat saya saksikan melekat pada generasi kakek saya. Tiga puluhan lampau, sangat lazim dijumpai alat pertukangan, pertanian, dan alat-alat dapur tersimpan di pawon. Sudah biasa seseorang selain bisa tandur, matun, derep, ngerek gabah, nggejik dhele, nyambat kambil, napen, ngayak, dondom, nguleg, ngungkal, ndeplok, dll, mereka juga menguasai keahlian-keahlian ketukangan kayu dan ketrampilan tangan lainnya. Berbagai macam 'skill' ketahanan hidup itu bahkan sejak dini dikenalkan pada anak-anak, laki ataupun perempuan. Sehingga bukan hal aneh ketika anak seusia TK-SD sudah biasa menggunakan lading (pisau), lalu beranjak secara bertahap menggunakan graji (gergaji), tatah (pahat), arit (sabit), dan sebagainya, untuk membuat mainan atau benda-benda lain. Sekarang, edukasi ketrampilan seperti itu bisa saja masih ada dan terjadi, namun sudah semakin sedikit dan tinggal tersisa di desa-desa pelosok saja. Analoginya, bagi generasi seumuran bapak-ibuk saya, memanjat kelapa dan nyilem ke dalam sumur sudah jadi ketrampilan yang jarang orang menguasai, turun sampai ke generasi saya tinggal daftar kosakata.
Mungkin masih jauh panggang daripada api, refleksi sangat singkat ini jika dikembalikan pada muatan acara. Lepas dari itu, saya seperti mendapatkan hawa segar dan pada akhirnya bisa bernapas lebih lega untuk kembali menyadari satu ekosistem yang betul-betul terasa dekat dan bisa dirasakan seperti ini. Hanya saja di akhir acara saya sempat berpikir kembali ke pertanyaan awal. Apalagi setelah mendengarkan beberapa pertanyaan dan tanggapan dari peserta. Saya berasumsi bahwa mahasiswa hanya akan mendapatkan sensasi permukaannya saja (seperti halnya saya), sementara praktisi akan menanggapinya secara pragmatis sebagai kontroversi beda arus yang hanya bisa dimaklumi pada ranah akademik. Semoga kali ini saya salah meletakkan asumsi.
Sebab pada kenyataannya meski apa yang dipaparkan oleh kedua pembicara lebih berupa gambaran praktik dan proses, apakah lalu mudah bagi peserta pada umumnya menerima itu sebagai bukan wacana? Karena ketika kedua hal itu belum pernah terselami sendiri, maka sebagaimana tulisan ini hanya akan menjadi pemahaman sia-sia saja, karena tidak ada 'pergerakan' apapun yang sesungguhnya terjadi.
Karanganyar, 7 Maret 2020


0 komentar:
Posting Komentar