Selasa, 11 Februari 2020

ADHANG- ADHANG SABAR, SANGU ATI SENENG

Pada suatu pagi yang lusuh, tatkala riuh perayaan hari jadi kota ini sedang dipersiapkan puncak mandamnya dengan hati sungguh. Jalan-jalan utama bersolek, alun-alun kota berhias keramaian tanpa putus, dan bola mata para peresah dipenuhi spanduk dan baliho aneka rupa acara yang selalu dijaga senyuman dan setelan baju kebesaran pasangan pimpinan daerah.

Sepagi ini, saya sedang merasakan kesialan, meskipun bagi kebanyakan orang sebetulnya tak lebih sebuah kepastian nasib yang bisa datang kapan saja. Ban belakang sepeda-motor saya bocor sehingga tak ada pilihan selain menyerahkan nasib selanjutnya pada ketelitian tukang tambal ban. Nasib saya pula yang mengantarkan pada perbincangan dengannya kali ini. Termasuk beberapa tahun sebelumnya sempat saya terinspirasi oleh senyum sapa dan pancaran mata ramah dia pada setiap lalu-lalang orang yang lewat ketika dia pagi-pagi sudah memarkir gerobak. Telingaku menangkap irama karawitan dari radio transistor yang tergantung di tiang geroibaknya. Beberapa hisapan kretek mulai membuat sepi dan terlunta-lunta menyapa keingintahuan saya. “Pak No, jenengan pun putra pinten?” tanya saya setelah beberapa detik sebelumnya berhasil mengetahui namanya.
Nama aslinya Parno, akrab dipanggil Pak No, salah satu tukang tambal ban yang mangkal di Jalan Lawu Karanganyar. Pendidikan terakhirnya SD, bersama istri dan kedua anaknya, lelaki sumeh ini tinggal menempati rumah warisan orangtuanya. Anak sulungnya sudah lulus STM dan belum bekerja, meski kabarnya sudah sempat mendapat panggilan, tetapi Pak No belum tahu soal kepastian selanjutnya. Sementara itu anak keduanya masih SD, yang berarti terpaut cukup jauh umurnya, pikir saya. Istri Pak No berjualan dawet di utara Gedung KPU, yang hasilnya lumayan membantu kebutuhan sehari-hari keluarganya.
Menurut pengakuannya, dia sudah jadi tukang tambal ban mulai sekitar tahun 1986-1987. Pada tahun-tahun itu dia sudah membantu ayahnya mangkal berpindah-pindah di sekitar lahan yang sekarang berdiri Toserba Mitra. Ayahnya bernama Mbah Darmo, tentu saja menjadi salah satu perintis jasa tambal ban yang ada di pusat kota Karanganyar. Sejak tahun 2000, Pak No melanjutkan usaha bapaknya di lokasi yang ditempatinya sekarang. “Sedinten ngoten rata-rata pinten kendaraan, Pak No?” Entah setan dari mana yang membuat saya berani-beraninya melontarkan tanya seperti itu. Tapi untungya Pak No mau menanggapinya, meski dengan suara lirih seolah tak mau sungguh-sungguh memperlihatkan perihal seperti ini.
“Nggih mboten mesthi, Mas. Nek sepi, sok-sok nggih pit tiga, pit sekawan, elek-eleke pit gangsal.”
“Nek paling kathah?”
“Paling nggih nek pas bareng-bareng ngoten nika, Mas.”
“Lha bikake yah napa dugi yah napa lho, Pak No?”
“Jam wolu dugi jam gangsal.”
Sebagai pemain lama, Pak No bisa merasakan pasang-surut usaha tambal bannya. Meski sekarang jalan-jalan ramai dengan kendaraan, Pak No mengaku hal itu tidak berpengaruh banyak pada peningkatan jumlah pelanggannya. Salah satu analisa sederhananya mengatakan bahwa saat ini sudah bermunculan usaha-usaha tambal ban lain di sekitar pusat kota Karanganyar. Ditambah lagi dengan adanya model velg racing dan teknologi ban tubeless, membuat Pak No semakin gusar dengan kemampuannya, “Soale nek dicongkel rosa, rusak. Biasane kula ken mbeto ten ler terminal Jongke. Yen mrika lak garape ngangge mesin.” Pak No mengaku tak mau berpikir ribet terkait pekerjaan. Sekiranya tak mampu mengerjakan karena keterbatasan alat, dia lebih memilih menunjukkan tukang tambal ban lain. Dia juga merasa tahu diri dengan ketrampilan tangannya. Untuk mobil, Pak No hanya mau terima mobil angkutan kota. Artinya Pak No tak mau sembarangan menerima kerjaan, karena takut merusak atau terjadi hal tidak mengenakkan lainnya. “Ngeten niki wong adhang-adhang ta mas. Nek enten nggih kula garap, nek mboten enten nggih kula meneng, nek mboten saged nggih kula ngomong.”
Membayangkan alam pikiran orang-orang seperti Pak No, saya jadi tertarik menggalinya lebih jauh,  tentang apa yang dia saksikan, juga tentang apa yang dia rasakan. Apalagi menjumpai semacam pergulatan antara kobaran semangat dan rasa rendah diri yang tampak dari naik-turun ekspresinya. Seperti ketika sorot matanya berbinar, rekahan senyumnya malu-malu, dan sekali waktu suaranya melirih dan semakin hilang tak terdengar. 
“Jenengan nek ningali Karanganyar kados sakniki pripun, Pak No?”
“Nek kalih ndhisik, nggih apik sakniki no, Mas. Tapi nek bab gaweyane apik dhisik.”
“Riyin kula ngertos jenengan niku pun bikak enjing sanget ta, Pak.”
“Sing dhisik setengah pitu, Mas. Mbarengi cah-cah mangkat sekolah. Sak niki cah sekolah mboten angsal numpak pit, pulisi, larangan niku! Marai ngeten le mas, nek cah sekolah numpak pit, nek tabrakan niku dereng duwe napa-napa niku le, prinsipe ngoten. Sakniki, larangan niku. Lek dhisik isa diselah mas, wayahe cah sekolah mangkat, bukak. Ra ketang enek kebanan, enek sing ngompa, saiki pun mboten kenek dijagakne.”
“Lha jenengan saged gadhah kompresor ageng ngeten niki?”
“Bapak. Warisan. Dadi niki nglanjutne mas, ditelateni. Kados kula, nyambut gawe mboten saged neka-neka. Ning bangunan nggih rekasa, nggih ta? Padha mawon. Ning sawah nggih rekasa. Luwung ngeten, ditunggu enten, mboten enten, ngleleng. Sok-sok men nggih meneng kula nggihan.”                                                                                   
“Nggih, mugi-mugi sehat terus nggih, Pak No.”
“Kudu sabar atine, Mas. Nek mboten sabar wis prei nyambut gawene. Kulo nggih angger tiyang mriki dha ngelokne panas. Panasi ra masalah, sing penting atine sik. Nek atine seneng? Kangge kula penting sabar, atine seneng.”
Perbincangan dengan Pak No berakhir tak lama selepas dia pasang kembali penutup pentil (valve cap) ban roda belakang. Bersamaan pula dengan sebuah pesan WA masuk ke ponsel saya, “Pak, wis entuk kabeh drg? Pala kr tumbare ja lali.” Baru saya ingat tujuan saya mampir ke Pasar Jongke. Spontan tangan saya merogoh saku celana. Saya gegas dapati rasa syukur karena daftar titipan belanja dari istri masih ada. Menyusul serentetan suara sirene mobil-mobil pemadam kebakaran yang berkejaran ke arah Timur, membuat sesuatu di dada saya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Karanganyar, 20 November 2019

___

 *dimuat dalam Buletin Kemuning, Edisi Desember 2019

#buletin_kemuning
#rubrik_ilalang




0 komentar: