Sabtu, 15 Februari 2020

BERKASIH-SAYANGLAH



Wahai tetangga pemilik tanah sebelah rumah, yang entah kau siapa dan di mana. Sejak tujuh tahun silam kami nikmati cahaya pagi yang menyapa  dari  arah  dimana lahanmu berada. Bertahun-tahun aneka jenis tanaman liar yang tumbuh di lahanmu menemani kami, mendidik rasa keindahan dan ketelatenan, meski terkadang malas dan kesal sesekali masih menggelayuti ketidakpedulian kami padanya. Pada setiap puncak penghujan dia tergenangi air, membiru terkena pantulan langit bersih selepas hujan semalaman. Hingga sempat kupotret saujana pagi berlatar gubuk bata tempat keluarga kami berdiam, membuat orang mengira rumah kami berada di tengah-tengah telaga. Ah, saat itu tidak ada ungkapan selain memuja keindahannya.

Alang-alang yang tumbuh sepanjang tahun, krokot dan tanaman jalar membelit dan mengisi sela-selanya, atau 'thukulan' widara yang orang di sini menyebutnya talok, terlalu sering kubuat tak tenang hidupnya. Bersama rumpun pohon insulin yang beranak-pinak mengisi celah-celah batu, mereka terpaksa kubinasakan demi melegakan pandangan. Tersebab hal ini mungkin lebih pantas kuminta maaf kepada mereka. Termasuk kepada tumpukan batu bakal pondasi milik tanah sebelah utara, yang pernah menjadi sarang ular dan terakhir sekawanan tikus tanah, terpaksa berantakan susunannya menjadi pagar rendah sekeliling, alakadarnya tertata.

Entah bakal jadi apa, jika sejak dua bulan lalu kedua tangan ini tak bosan-bosan menjamahi kepasrahan mereka. Kalau sekadar batang kayu menancap ke mata, jemari tergencet bongkahan batu, atau kaki tersayat duri putri malu, semoga saja itu hanya menjadi pengganti ketidakmampuanku bercakap dengan mereka untuk sekadar menepis kekurang-ajaranku merongrong hak kemerdekaannya. Sedangkan guguran daun dan buah karsen, syukur-syukur ditemani rontokan daun trembesi tua yang terbawa angin ke Barat, kerap jadi penghibur menyertai terbit dan terbenamnya matahari. Karena dari merekalah lahan ini mendapatkan asupan gizi, selain tersebab kerja keras para cacing, semut, rayap, ulat gagak dan beberapa uret yang bergeliat panik ketika terpapar cahaya. Meskipun entah di mana sekarang, tiga ekor burung puyuh yang setiap pagi berlarian memunguti rejeki dan orkestra kodok yang mengiringi tidur malam di musim seperti ini. Yang kami tahu, saat sekarang makin banyak ulat, kupu-kupu, belalang, tawon, laba-laba dan beraneka jenis serangga yang terlihat, mungkin juga karena tak sengaja tersingkap persembunyiannya.

Tentu tak ada yang pantas dibenamkan kecuali rasa syukur, bahwa kami masih diberi kesempatan berdekatan dengan tanah, tempat kembalinya jasad semua makhluk yang hidup di muka bumi, dengan membaui aromanya, juga merasai tekstur kehidupannya. Terlebih ketika menjumpai sekarung-dua kotoran kambing yang tahu-tahu tergeletak siap dipakai sore kemarin, mungkin dikirim oleh mbah angon yang setiap hari menyemangati. Tak pelak, kami seperti diingatkan tentang bagaimana cara lain berkasih-sayang.

Tetangga, makasih ya...

Sepanggang, 15 Februari 2020

0 komentar: