: Refleksi Acara Diskusi dan Bedah Buku 'SEKOLAH APA INI?' di Teras Budaya Ndaleme Eyang, Sumber-Solo
Kedatangan saya ke acara ini mungkin dalam niatan sedikit muluk: demi merawat harapan besar solusi pendidikan hari ini dan esok, untuk tidak mengatakannya sebagai kegembiraan karena bisa mendapatkan curahan inspirasi dan nasehat dari para pegiat pendidikan alternatif. Apalagi sosok semacam Bu Wahyaningsih (bersama suami beliau, Pak Toto Rahardjo), telah menjadi salah satu barometer pendidikan --bukan sekolah-- di negeri ini.
Tapi nampaknya saya belum berkesempatan menyimak dengan utuh lalu lintas diskusi dan berbagi pengalaman praktik tersebut dari para narasumber dan pembedah yang ada. Seperti halnya acara serupa dan setema yang beberapa bulan lalu saya ikuti di Pendapa Agung Jepara, ketika menemani Pak Ahmad Bahruddin sebagai pembedah bukunya, meski hanya di perjalanan bukan di panggung. Hehe. Kenapa begitu? Karena selalu dalam kesempatan seperti ini, berkumpul pula --tidak hanya-- para pegiat, tetapi juga stakeholder lainnya, entah itu orangtua, peserta/warga belajar, pemerhati, dll, yang sebetulnya mereka pun bisa disebut pegiat pula. Oleh karena itulah perhatian pada perbincangan inti di panggung seringkali terpecah dengan naluri ngobrol dengan sesama peserta, meskipun juga masih terkait dengan tema acara.
Sebelum berangkat, saya sempat berbalas pesan dengan Pak Yudi, inisiator Sekolah Alam Bengawan Solo, untuk bertemu sekaligus berbincang di lokasi acara, setelah sekian lama --mungkin sekitar 2-3 tahun-- tak bertemu. Sepanjang acara, kami pun tak bisa menunda untuk berbincang hangat sambil sesekali mengarahkan mata dan telinga agar tetap dapat mengikuti arus diskusi yang terjadi. Di akhir acara, kami juga masih diberi bonus dapat berbincang lebih dekat dengan Pak Baros (Bambang Suroso, salah satu pembedah) dan Pakdhe Sus ( Susilo Adinegoro, moderator).
Kenyataannya memang sebagian besar dari kita masih susah untuk membayangkan penerapan pendidikan alternatif, apalagi ketika harus menghilangkan kata 'sekolah' dari penyebutannya, di tengah ekosistem kesadaran masyarakat yang belum selaras, atau masih terkungkung pada dogma pendidikan formal atau sekolah. Namun hal itupun tak bisa disalahkan, apalagi dihindari dalam upaya terus menerus menggulirkan praktiknya di masyarakat. Sebetulnya saya sempat bermaksud 'curhat' pada sesi tanya jawab terakhir, tapi urung karena telat mengangkat tangan.
Saya menduga, Sanggar Anak Alam (Salam) tetap melibatkan kosakata 'sekolah' untuk menamai dua bukunya: Sekolah Biasa Saja dan Sekolah Apa Ini? hanyalah sebagai bentuk tawar-menawar dengan bahasa yang --saat ini masih-- lebih familiar di khalayak. Karena memang tidak gampang untuk meyakinkan bahwa yang mereka lakukan --dan juga model-model berbeda di tempat lain-- bukan termasuk dalam definisi sekolah yang selama ini kita mengerti.
Sehingga tak heran ketika berhadapan langsung dengan --entah itu-- orangtua, masyarakat umum, atau bahkan mahasiswa, masih saja muncul pertanyaan semacam: Apakah nanti mendapat ijazah? Bagaimana cara menilai proses belajar dan kompetensi anak? Bisakah model seperti itu didirikan di sini (mungkin maksudnya semacam dibuka cabang)? Bukankah tidak gampang mencari pendamping (fasilitator) yang seperti itu? dan seterusnya.
Sampai di sini, kegelisahan yang tertunda saya kemukakan barangkali terjawab, bahwa perihal harapan terselenggaranya pendidikan yang baik, bukan dilihat dari sebagus apa konsepnya, seunik apa kegiatannya, atau semenarik apa kemasan pembelajarannya. Tetapi lebih pada seberapa jauh kesadaran mengenai hal itu telah/sedang terbangun, baik itu dimulai diri sendiri ataupun ketika mampu melebarkannya pada komunitas terdekat. Salah satu resep dari Pakdhe Sus yang saya ingat, bagaimana supaya bukan hanya anak yang dilibatkan, tetapi juga siapa pun yang berkepentingan dengan mereka, khususnya orangtua. Sehingga pengertian anak sebagai subyek belajar bukan lantas menjadikan mereka satu-satunya pemain yang --maaf-- digarap penampilan atau performanya, dengan mengesampingkan keniscayaan tugas pihak lainnya untuk membersamai proses itu. Pelbagai pilihan 'pintu masuk' akan bisa menjadi satu cara progressif untuk secara alamiah mengajak para orangtua dan masyarakat terlibat langsung dalam dinamika yang ada, sehingga kemungkinan refleksi bersama menjadi mungkin terjadi. Karena dengan begitu, terselenggaranya model-model pendidikan alternatif akan tidak lagi membuat orangtua atau masyarakat bersikap pasrah menyerahkan anak-anaknya, seperti cara mereka bersikap kepada sekolah.
Sebetulnya kalimat terakhir ini saja sih yang membuat saya gelisah, terutama ketika semakin ke sini merasa masih jauh dari solusi dan terindikasi menjadi bagian dari masalah. Duh, Gusti!
Solo, 25 Januari 2020
___
*pinjam foto jepretan Agus Sunandar yang tidak sadar bahwa ada saya dalam frame kameranya
#gobloksemangat
#merdekabelajar
#pasamuan_among_anak
#sanggar_pamongan
#qaryah_thayyibah
#kbqt
#pendidikan_alternatif
Jumat, 24 Januari 2020
INI SEKOLAH, BUKAN?
Tags: Jurnal Tema Pendidikan
About the Author
Simplest
Hello, I'm Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nunc consectetur nulla id metus consequat convallis. Praesent fringilla nulla eget elit bibendum dictum.


0 komentar:
Posting Komentar