Rabu, 06 November 2019

UNGGAH-UNDHUH




Seorang anak pada dasarnya punya kepekaan sekaligus ingatan luar biasa, sampai ada yang mengibaratkannya dengan kertas putih yang bisa terisi apa saja. Jika difasilitasi dengan baik, kecakapannya berbicara, menggoreskan pena, atau menuliskan kata-kata, akan banyak membantunya berlatih menuangkan gagasan sejak dini. Orang dewasa tak pernah tahu, seberapa banyak bahan yang dia olah demi keluarnya gagasan itu.

Setidaknya ada dua kecenderungan gaya dalam belajar, tidak hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa. Kecenderungan pertama banyak dipengaruhi oleh kebiasaan naluriahnya mengalami sesuatu, menelisik kejadiannya, lalu merumuskan pengetahuannya sendiri. Kecenderungan lainnya sedikit-banyak dipengaruhi logika formal, yakni belajar dari pemikiran orang lain untuk mencerna kaidah-kaidah pengetahuan yang sudah ada, lalu mendapatkan pemahaman tertentu.

Faktanya, sampai kapanpun kita tak bisa memilih hanya salah satu gaya belajar tadi. Antara naluri dan kecermatan mendayagunakan suatu teori akan sama-sama bekerja selama otak masih berfungsi. akan tetapi permasalahannya bukan pada memilih salah satu untuk meninggalkan yang lainnya. Karena setiap orang akan berbeda dalam membiasakan porsinya, terlebih dalam hal produktifitas pengetahuan yang sedang dibangunnya.

Pada perbincangan ringan di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah, sempat tercetus semacam indikator sederhana untuk mengukur produktifitas seseorang di era informasi belakangan ini. Terkait dengan penggunaan gadget, hal itu bisa diukur dari berapa banyak konten yang dia terbitkan --setidaknya-- lewat media sosial, yang bukan sekadar membagikan konten orang lain. Lain lagi ketika dikaitkan dengan kehidupan nyata di keseharian, maka produktifitas itu lebih dimaknai dari berapa banyak solusi dan kemanfaatan yang dia berikan, bukan lagi melihat ketokohan, jabatan atau tingkat pendidikan. Menariknya, dengan begitu produktifitas akan terus bergulir, seperti putaran spiral yang mendesak maju.

Mungkin sudah bukan hal keren lagi, seseorang hanya bisa mengunduh konten-konten menarik, keranjingan membaca banyak buku tebal, atau mendengarkan kutipan-kutipan sosok fenomenal. Tetapi bagaimana lebih dari itu, dia bisa mengolah suatu bahan yang kemudian diterapkan dalam mengatasi problem aktual di sekitar, lalu mengunggahnya agar pengetahuan-pengetahuan baru tersebar-luaskan. Kira-kira seperti tulisan ini yang baru bisa saya lakukan di sela-sela tugas kehidupan. Silakan digenapi, sembari saya lanjutkan pekerjaan.

Bumi Sepanggang, 7 November 2018

#gobloksemangat
#kbqt

0 komentar: